Koran Jakarta | June 21 2018
No Comments
Strategi Pertumbuhan I Benahi Keruwetan Regulasi di Daerah

Pacu Pertumbuhan Sektor Penyerap Tenaga Kerja Terbesar

Pacu Pertumbuhan Sektor Penyerap Tenaga Kerja Terbesar

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Kredit perbankan belum optimal menjadi stimulus bagi perkembangan sektor riil.

Presiden minta segera dicari problem yang menghambat laju pertumbuhan ekonomi.

 

JAKARTA - Sejumlah kalangan mengemukakan agar supaya pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lari kencang, pemerintah mesti fokus memacu pertumbuhan sejumlah sektor penyerap tenaga kerja terbesar, seperti pertanian, industri, dan perdagangan.

Ekonom Indef, Abdul Manap Pulungan, mengatakan ada beberapa faktor yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi tidak bisa lari kencang. Pertama, sektor-sektor penyerap tenaga kerja tidak tumbuh maksimal.

Akibatnya, pendapatan riil masyarakat cenderung menurun, sehingga berdampak pada rendahnya daya beli dan berujung pada rendahnya pertumbuhan sektor konsumsi rumah tangga. “Sebagian besar masyarakat bekerja di industri manufaktur, pertanian, dan pertambangan.

Namun, sektor-sektor itu tumbuh relatif rendah dibanding pertumbuhan ekonomi. Ketika pendapatan masyarakat tidak naik signifikan, konsumsinya akan berkurang. Dan ketika konsumsi menyusut, kontribusinya terhadap PDB (produk domestik bruto) juga rendah,” kata Manap, di Jakarta, Minggu (7/1).

Selama ini, lanjut dia, konsumsi masyarakat menyumbang lebih dari 50 persen terhadap PDB, sehingga ketika belakangan ini pertumbuhan konsumsi rumah tangga hanya di level empat persen maka sulit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi.

Faktor kedua, kata Manap, adalah minimnya peranan sektor keuangan yang tidak menyasar pada sektor-sektor produktif. Pertumbuhan kredit perbankan 2017 masih di bawah 10 persen, padahal pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di atas 10 persen.

“Artinya, ada dana di sektor perbankan yang belum terserap oleh sektor riil. Jadi, ketika kredit tidak maksimal terserap ke sektor riil, maka stimulus pada aktivitas sektor riil itu tidak tinggi,” kata dia. Faktor berikutnya, menurut dia, ada masalah di berbagai proyek pemerintah. Meskipun pemerintah jor-joran membangun infrastruktur, tetapi tidak banyak menyerap tenaga kerja.

“Artinya, proyek-proyek infrastruktur pemerintah mesti diupayakan bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja,” tukas Manap. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta para menteri fokus meningkatkan investasi dan perdagangan terutama ekspor.

Sebab, saat ini berbagai indikator ekonomi Indonesia dinilai dalam kondisi yang baik untuk mendorong peningkatan kedua sektor tersebut. “Oleh sebab itu, sekali lagi, saya ingin lebih fokus dan konsentrasi lagi pada yang namanya investasi, dan yang kedua yang namanya ekspor atau perdagangan luar negeri.

Semuanya harus satu garis satu arah, sehingga problem-problem yang dihadapi di lapangan itu betul-betul bisa kita tangani dengan baik,” tegas Kepala Negara, akhir pekan lalu. Menurut Jokowi, jika diibaratkan manusia, Indonesia bukan seperti orang yang sakit karena berbagai indikator menunjukkan kondisi sehat.

“Kemarin juga sudah saya sampaikan bahwa kita ini kalau diibaratkan orang sakit, kita ini baik semuanya. Kolesterol baik, jantung baik, paru-paru baik, darah tinggi juga enggak ada, tapi kok enggak bisa lari cepat,” papar dia. Untuk itu, Presiden meminta agar segera dicari problemnya. “Enggak perlu obat, tapi problemnya harus dicari di sebelah mana.”

Masalah Klasik

Ekonom UMY, Achmad Maruf, menilai problem klasik yang sejak dulu sulit dipecahkan adalah kecepatan daerah dalam merespons perubahan di pusat. Dari isu korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) hingga keterbukaan pada investasi, daerah sangat lambat sehingga laju deindustrialisasi sulit ditahan.

“Saya banyak mengawal kasus sulitnya perluasan usaha di DIY khususnya Sleman. Regulasi daerah jauh dari harapan, dari pengadaan tanah hingga detail perizinan semuanya masih ruwet,” ungkap dia.

Padahal, Maruf melihat negara-negara tetangga justru sangat cepat dalam membuka keruwetan regulasi. Vietnam dalam lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan luar biasa. Bahkan, banyak industri di Indonesia yang tutup pabrik dan pindah ke Vietnam. ahm/YK/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment