Koran Jakarta | August 20 2018
No Comments
Teknologi Jaringan

Operator Seluler Siap Keruk Untung dari 5G

Operator Seluler Siap Keruk Untung dari 5G

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Teknologi komunikasi generasi kelima akan menjadi solusi bagi bermacam industri dan level consumer. Dengan teknologi IoT terbaru, bakal mendorong maraknya komunikasi pada jaringan 5G.

Teknologi teknologi seluler Internet of Things (IoT), NB-IoT dan Cat-M1 dipercaya mendorong maraknya penggunaan jaringan 5G yang akan segera dikomersialisasi.

Dua standar yang telah dirilis oleh 3GPP tersebut membuat perkembangan IoT semakin cepat, terutama pada bidang manufaktur, energi,, utilitas, dan tentu saja sisi consumer. NB-IoT dan Cat-M1 yang bekerja pada frekuensi berbeda ini memiliki kelebihan pada cakupan, sistem keamanan yang handal, variasipenggunaan, dan efisiensi biaya.

Cat M1 adalah teknologi yang berfungsi dalam bandwidth 1,4 MHz dsedangkan NB-IoT berjalan pada frekuensi 200 Khz. Cat M1 memunkinkan pengaturan waktu dan pemberian sinyal dari waktu ke waktu yang mendukung aplikasi yang memerlukan konsumsi daya rendah, dengan kecepatan unggah rata-rata antara 200 kpbs dan 400 kpbs. NB IoT berfokus secara khusus pada cakupan jarak yang lebih tinggi dengan biaya lebih rendah dan daya tahan baterai lebih lama dari CAT M1, dan memungkinkan sejumlah besar perangkat yang saling terhubung.

Studi Ericsson Mobility Report 2018 menyebutkan teknologiteknologi seluler IoT baru yang masif seperti NB-IoT dan Cat-M1 menjadi pendorong utama pertumbuhan ini, memberikan peluang bagi penyedia layanan untuk meningkatkan efisiensi dan meningkatkan nilai pelanggan.

“Sejauh ini, operator seluler di seluruh dunia telah meluncurkan lebih dari 60 jaringan IoT seluler menggunakan teknologi ini melalui jaringan LTE dasar yang sama untuk mendukung berbagai penggunaan,” ujar Executive Vice President dan Head of Business Area Network Ericsson, Fredrik Jejdling.

Di AS teknologi IoT tersebut bakal marak dipakai untuk bisnis logistik dan manajemen armada transportasi, sementara fokus di Tiongkok akan dipakau untuk mendukung kota pintar (smart city) dan pertanian pintar (smart agriculture).

Koneksi IoT seluler diperkirakan akan terus meningkat hingga nyaris dua kali lipat dari November 2017. Perkiraannya akan mencapai 3,5 miliar pada tahun 2023, terutama berkat implementasi besar-besaran di Tiongkok. “Teknologi seluler IoT baru yang masif seperti NB-IoT dan Cat-M1 menjadi pendorong utama pertumbuhan ini, memberikan peluang bagi penyedia layanan untuk meningkatkan efisiensi dan meningkatkan nilai pelanggan,” ujar Fredrik.

Dengan peluncuran 5G pertama secara komersial tahun ini membuat penggunaan NB-IoT dan Cat-M1 bakal marak. Pada akhir tahun 2023, langganan telepon seluler atau mobile subscription di Amerika Utara untuk 5G diperkirakan akan mencapai hampir 50 persen, diikuti oleh Asia Timur Laut sebesar 34 persen, dan Eropa Barat sebesar 21 persen. Secara global, penyerapan 5G besar- besaran diharapkan mulai 2020.

Ericsson memperkirakan lebih dari 1 miliar langganan 5G untuk meningkatkan pita lebar seluler pada akhir 2023, terhitung sekitar 12 persen dari seluruh langganan seluler atau mobile subscription.

Laporan Studi Ericsson Consumer Lab “Towards a 5G consumer future; Six Calls to Action from consumers for operators to rethink mobile broadband,” menyebutkan 84 persen pengguna smartphone di Indonesia justru tertarik dengan layanan 5G, dan 54 persen di 4G.

“Kemudian, 64 persen pengguna ponsel pintar di Indonesia mengharapkan mereka tidak perlu lagi membayar untuk setiap gigabyte yang dikonsumsi di masa depan 5G,” ujar Presiden Direktur Ericsson Indonesia Jerry Soper.

Jerry mengatakan ada prospek pendapatan yang signifikan bagi operator Indonesia melalui penyebaran 5G, dengan nilai sebesar 30 persen ata senilai 6 miliar dolar AS. Peluang terbesar untuk pendapatan operator terkait 5G adalah di sektor manufaktur, energi, dan utilitas,” ujar dia. hay/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment