OJK: Fundamental Emiten Masih Bagus | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 30 2020
No Comments
Kinerja Saham

OJK: Fundamental Emiten Masih Bagus

OJK: Fundamental Emiten Masih Bagus

Foto : KORAN JAKARTA/M FACHRI
BAKAL TERTEKAN - Refleksi karyawan yang beraktifitas di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (20/3). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini diperkirakan kembali tertekan akibat pengaruh pasar Amerika Serikat dan efek psikologis pandemi Covid-19 dengan support di level 3.918 sampai 3.686 dan resistance di level 4.238 sampai 4.900.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso meminta para investor pasar modal tidak perlu khawatir berlebihan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir.

Wimboh dalam telekonferensi pers usai rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo, di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (20/3), mengatakan fundamental dari saham emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia masih bagus. Tekanan yang terus mengerek IHSG hingga ke kisaran 4.000 dalam beberapa waktu terakhir  hanya disebabkan oleh sentimen negatif.

“Ini tidak perlu khawatir. Jadi semua saham listing di Indonesia melalui pasar modal ini fundamentalnya bagus, ini hanya sentimen negatif saja,” kata Wimboh.

Wimboh mengatakan relaksasi di sektor riil yang dilakukan otoritas akan memberikan stimulus kepada para emiten. Otoritas telah merelaksasi penilaian kolektabilitas kredit bermasalah debitur dan juga restrukturisasi kredit bagi UMKM.

Selain stimulus mengenai kelonggaran kewajiban debitur, lanjut Wimboh, OJK juga telah menerapkan kebijakan di pasar modal seperti tidak diperbolehkan melakukan short selling dan penerapan auto rejection untuk mengendalikan agar tidak terjadi kepanikan.

Short selling adalah aksi menjual saham tanpa memiliki saham perusahaan tersebut terlebih dahulu. Saham yang dijual akan dipinjamkan dulu oleh sekuritas (broker), kemudian investor harus mengganti saham tersebut dengan membeli kembali saham perusahaan yang telah dijual.

Sedangkan auto rejection adalah penolakan secara otomatis oleh sistem perdagangan efek yang berlaku di bursa terhadap penawaran jual dan atau permintaan beli efek bersifat ekuitas yang melampaui batasan harga atau jumlah yang ditetapkan oleh BEI.

Setelah pandemi Covid-19 semakin meluas, IHSG terus mengalami penurunan. Namun, IHSG yang sempat merosot ke bawah level 4.000 berhasil kembali pada perdagangan sesi II dengan  ditutup menguat 89,52 poin atau 2,18 persen ke posisi 4.194,94. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 12,64 poin atau 2,07 persen menjadi 624,76.

Analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama mengatakan penyebab menguatnya IHSG adalah karena para pelaku pasar sangat mengapresiasi peran pemerintah dalam rangka menanggulangi wabah COVID-19 di Tanah Air. Bahkan, pemesanan obat Avigan dan Chloroquine oleh pemerintah akan dilaksanakan secara besar-besaran.

"Di sisi lain, para pelaku pasar juga mengapresiasi langkah Bank Indonesia dalam rangka menurunkan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 bps dalam rangka mendukung stabilitas pertumbuhan ekonomi domestik di tengah-tengah pelemahan rupiah," ujar Nafan.

 

Ant/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment