Koran Jakarta | October 20 2018
No Comments
Kinerja Ekspor-Impor

Neraca Perdagangan pada Maret Berbalik Surplus

Neraca Perdagangan pada Maret Berbalik Surplus

Foto : ANTARA/Rivan Awal Lingga
A   A   A   Pengaturan Font

Batam – Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo mengatakan neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2018 akan berbalik menjadi surplus hingga 1,1 miliar dollar AS dari posisi yang terus defisit selama tiga bulan terakhir. A dapun pada Januari 2018, neraca perdagangan defisit 680 juta dollar AS, kemudian defisit menurun di Februari 2018 sebesar 120 juta dollar AS.

“Di Maret ini akan ada surplus kira-kira 1,1 miliar dollar AS. Jadi neraca perdagangan kita di kuartal I 2018 akan positif,” ujar Agus di rangkaian Rakorpusda-BI di Batam, Jumat pekan lalu. Dengan perkiraan surplus yang cukup besar itu di Maret, maka akan mengkompensasi defisit di neraca perdagangan Januari dan Februari 2018 sehingga secara keseluruhan pada kuartal I 2018 (Januari-Maret) indikator ekspor impor akan berada dalam level positif.

Agus memperkirakan, dengan kinerja neraca perdagangan itu neraca transaksi berjalan (current account) di kuartal I 2018 masih akan mencatat defisit di level dua persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). “Jadi sedikit ada tekanan tapi nanti akan kembali terkendali karena secara umum selama transaksi berjalan terhadap PDB itu di bawah tiga persen kami melihat itu masih sehat,” ujar dia. Namun, Agus belum mengungkapkan penyebab surplus neraca perdagangan pada Maret 2018 itu.

Namun jika melihat indikator ekspor seperti pemulihan ekonomi negara negara mitra dagang, kemudian indeks produksi industrial, kinerja ekspor memang berpeluang membaik pada Maret 2018. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) pada triwulan IV-2017 adalah 2,6 persen, membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu 2,3 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Jepang pada triwulan IV 2017 mencapai 2 persen, meningkat dibandingkan triwulan III 2017 yang sebesar 1,9 persen.

 

Impor Naik

 

Di sisi lain, Agus mengakui, meskipun ekspor meningkat, impor juga mengekor naik. Penyebabnya ambisi tinggi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan memacu kenaikan laju impor barang baku dan barang modal yang masih mengandalkan sumber manufaktur luar negeri.

“Impor bahan baku dan bahan antara yang cukup meningkat untuk mengisi dan memenuhi kebutuhan manufakturing untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2018,” ujarnya. 

 

Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment