Koran Jakarta | September 19 2019
No Comments
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat terkait Rencana Pertemuan Jokowi-Prabowo

Momentum Lebaran Harus Diamanfaatkan Jokowi dan Prabowo untuk Bertemu

Momentum Lebaran Harus Diamanfaatkan Jokowi dan Prabowo untuk Bertemu

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Banyak kalangan menanti pertemuan dua kandidat Capres 2019; Jokowi dan Prabowo, sebab jika pertemuan itu digelar akan mendinginkan suasana politik.

 

Selain itu pertemuan kedua tokoh ini diharapkan mampu menjadi solusi dan memberikan angin segar untuk kondisi politik Tanah Air yang sempat panas akibat polarisasi dukungan antar dua kubu

Untuk mengulas hal itu, Koran Jakarta mewawancarai Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hi­dayatullah Jakarta, Prof Dr Koma­ruddin Hidayat, di Jakarta. Berikut isi wawancaranya:

Tanggapan Anda terkait ren­cana pertemua Jokowi-Prabowo?

Iya kalau saya melihat mereka berdua (Jokowi dan Prabowo) sebagai dua orang negarawan yang seharusnya memberikan pendid­kan politik dan keteladanan yang baik kepada masyarakat. Nah momentum lebaran ini semestinya digunakan kedua tokoh itu sebagai ajang untuk silaturahim. Ditambah keduanya adalah orang Islam, dan saat kampanye juga keduanya merasa didukung ulama.

Jadi mestinya, kedua pihak ulama yang merasa mendukung kedua capres itu pun harusnya ikut mendukung proses rekonsiliasi tersebut berjalan.

Apa yang mestinya dilakukan kedua tokoh setelah Pilpres 2019 selesai?

Kedua tokoh itu kan statusnya kontestan, sebagai kontestan, sekarang urusannya ada di tangan wasit, setelah bertanding mereka harusnya rangkulan. Apalagi sebagai seorang negarawan yang ditokohkan oleh umat Islam ditambah mereka juga seorang demokrat, maka harus tunjukan si­kap seorang demokrat yang ikhlas. Kalau per­temuan keduanya ditunda-ditunda sila­turahminya, jadi kesannya perte­muan tersebut seakam kalkulasi politik saja padahal momentum lebaran kan mestinya mengalir saja. Saya khawatir justru orang-orang di sekitaran kedua tokoh itu yang malah menghalangi dan memberikan informasi tidak tepat kepada kedua tokoh itu sehingga silaturahmi di hari lebaran ini tak kunjung terjadi.

Bukankah dari pihak Jokowi juga sudah ada upaya bertemu, tapi belum ada respons Prabowo?

Oke itu lupakan saja yang sudah berlalu. Tapi bahwa itu menun­jukkan Jokowi juga sudah membuka diri. Apalagi kedua tokoh tersebut kan bersahabat, karena sem­pat beberapa kali dalam momen­tum politik berada di barisan yang sama juga.

Jadi yang saya sangat harapkan adalah tunjukkan saja sikap nega­rawan dan sebagai seorang calon pemimpin yang dipilih ulama, tidak usah pakai kalkulasi politik. Kalau soal itu serahkan saja kepada MK karena ujung tombak dari pemilu lalu kini ada di MK.

Apa dampak jika pertemuan kedua tokoh tidak kunjung terjadi?

Positifnya kalau momentum lebaran ini digunakan kedua tokoh untuk melakukan silaturahmi sangat bagus karena akan mendekatkan masyarakat yang sudah tercabik atau terbelah. Nah negatifnya jika tidak dilaku­kan malah akan mengecewakan masyarakat karena demokrasi ini ti­dak disertai jiwa seorang demokrat dari tokohnya.

Bukankah tokoh kita dahulu memberi teladan yang baik?

Betul. Para tokoh politik diawal masa Kemerdekaan membedakan antara hukum dan beban pribadi. Dulu saja ketika Pemilu tahun 1955, meski kaum Islamis (Masyumi) dan komunis (PKI) bersaing ketat, bah­kan saling menjelekan dalam ajang kampanye tokoh-tokohnya dalam politik berseberangan namun secara pribadi saling baik padahal mereka latar belakang agamanya berbeda. Nah sekarang kedua to­kohnya kan satu agama masa tidak bisa bertemu untuk sekadar saling silaturahmi.

Harapan Anda terhadap proses demokrasi yang sedang berjalan di momen lebaran ini apa?

Saya berharap persahabatan kedua tokoh itu saling membaik. Dan persahabatan seorang negarawan mestinya harus di atas kon­tak politik. rama agusta/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment