Koran Jakarta | July 17 2018
No Comments

Mitos Para Dewa Jadi Daya Tarik

Mitos Para Dewa Jadi Daya Tarik

Foto : Koran Jakarta / Selo Cahyo Basuki
A   A   A   Pengaturan Font

Jutaan orang menghabiskan waktu liburan mereka ke semenanjung Eropa setiap tahunnya. Benua kedua terkecil setelah Australia tersebut memiliki kekayaan sejarah dan alam yang indah. Ini membuat Eropa menjadi destinasi favorit dari wisatawan seluruh dunia.

Yunani atau Republik Hel­lenik yang terletak di Eropa bagian barat, merupakan salah satu tujuan favorit wisatawan. Budaya Yunani Kuno yang sarat dengan mitos para Dewa, menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung.

Mengambil nama putri kesayan­gan Dewa Zeus, Athena (Athene), dikenal sebagai salah satu kota ter­tua di dunia. Daerah yang terletak di Eropa bagian selatan ini telah didiami manusia sejak tujuh ribu tahun yang lalu, dan dikenal seba­gai kawasan yang maju pada zaman Yunani Kuno. Seperti banyak ditulis, pencapaian kebudayaan bangsa Yunani pada milenium per­tama SM diketahui sebagi fondasi bagi peradaban bangsa barat.

Ya, warisan budaya Yunani Kuno memang menjadi daya tarik utama Athena. Sebagai salah satu pusat peradaban tertua di muka bumi, Ibu Kota Yunani ini dike­nal kaya akan situs cagar budaya. Athena juga berfungsi sebagai hub penghubung antara pulau-pulau di Yunani yang sarat akan beragam destinasi wisata lainnya. Apalagi setelah beberapa tahun yang lalu negara itu dinyatakan bangkrut karena utang, pemerintah setempat menggenjot habis-habisan sektor pariwisata yang menjadi tumpuan penyumbang devisa.

Mengingat banyaknya situs yang menarik, setidaknya butuh dua hari untuk menikmati keindahan Athe­na tanpa harus terburu-buru.

Acropolis

Acropolis bisa disebut sebagai maskot wisata Athena yang menjadi tujuan wajib bagi setiap pelancong. Kompleks kota tua yang berada di atas sebuah bukit ini merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Area tersebut memiliki luas tiga hektare. Wisatawan dapat mengitarinya dengan berjalan kaki karena jarak antarsitus berdekatan.

Pihak pengelola juga telah mengatur jalur agar semua bangun­an tidak terlewatkan, sehingga pengunjung dapat mengambil foto kenangan di setiap situs. Pada area tersebut terdapat bangun­an-bangunan yang menjadi bukti kepercayaan masyarakat Yunani Kuno terhadap dewa-dewa, seperti Parthenon, Odeon of Herodes Atticus, Erechtheion, Propylaea, Temple of Athena Nike dan Theatre of Dionysus.

Parthenon adalah kuil yang di­bangun sebagai tempat pemujaan bagi dewi Athena pada abad ke-5 SM. Nama Parthenon memiliki arti perawan, sesuai dengan mitos dewi Athena yang tidak pernah menikah. Dewi yang terlahir dalam keadaan dewasa dan tak pernah digambarkan sebagai anak kecil itu juga dikenal kerap menolong para ksatria dalam medan tempur.

Kuil Parthenon juga dianggap sebagai simbol Yunani Kuno dan demokrasi Athena, serta merupa­kan salah satu monumen budaya terbesar dunia. Wisatawan akan terlebih dahulu masuk melalui Propylaea, pintu gerbang bergaya Doric. Struktur bangunan Parthe­non tampak megah dan angkuh, dengan tiang-tiang penyangga setinggi 15 meter. Atap bangunan yang telah hilang dimakan waktu, menunjukkan begitu uzurnya usia situs itu.

Dari kuil yang berada di keting­gian 150 meter tersebut, wisatawan dapat menyaksikan keindahan Kota Athena, dengan atap bangunannya yang hampir seragam berwarna putih.

Pada abad ke-6, Parthenon sempat digunakan sebagai gereja. Selanjutnya, saat Turki menguasai Yunani, kuil itu sempat digunakan sebagai masjid. Hingga kini, aura sejarah Parthenon masih terjaga, pahatan pada setiap dindingnya yang indah dan detail menandakan masyarakat Yunani Kuno telah me­ngenal seni bernilai tinggi.

Sedangkan Temple of Olympian Zeus adalah kuil terbesar yang pernah dibangun di Yunani. Pem­bangunan kuil yang didedikasikan untuk dewa terkuat yunani, Zeus ini membutuhkan waktu sampai 7 abad. Pendiriannya dimulai pada abad 515 SM, dalam kepemimpin­an Kaisar Hardian. Sayangnya, dari 104 kolom pilar yang ada, wisata­wan hanya bisa menyaksikan sisa­nya sebanyak 15 kolom pilar.

Bila ingin menyaksikan kuil yang masih utuh, layangkan pandang ke bagian puncak bukit Acropolis. Tampak sebuah kuil yang mirip de­ngan Parthenon, lebih kecil namun tak kalah megah. Temple of Hep­haistos memiliki 34 kolom pilar, merupakan kuil terbaik di Acropolis yang masih terlihat seperti aslinya. Pada abad ke-7, kuil ini sempat di­gunakan sebagai tempat beribadah gereja. Menurut sejarah, kuil ini pernah digunakan sebagai gereja Ortodoks Yunani dengan nama Saint George Akamates.

Bagi Anda yang hobi nonton teater, sempatkan diri mengabadi­kan kemegahan Theatre of Diony­sus. Situs yang dinamai sesuai dewa kesuburan, Dionysus ini merupa­kan cikal bakal dunia teater. Pada waktu-waktu tertentu situs yang dapat menampung 25 ribu penon­ton ini masih digunakan sebagai tempat pertunjukan teater, lengkap dengan iringan kelompok orkestra.

Tak kalah serunya adalah Museum Acropolis, yang me­nyimpan berbagai koleksi artefak hasil penggalian di komplek kuno itu. Bangunan paling modern di Acropolis memiliki tiga lantai, de­ngan jumlah koleksi mencapai em­pat ribu artefak. Pengunjung dapat mengambil foto tanpa lampu kilat pada koleksi yang dipajang. Salah satu yang terkebal adalah “The Archaic Kores”, patung dua orang gadis sebagai persembahan untuk Dewi Athena. SB/E-3

Habiskan Waktu di Kawasan Kota Athena

Bagi wisatawan yang ingin bermalas-malasan tanpa ingin terpaku oleh jadwal tur, bisa menghabiskan waktu di kawasan Kota Athena. Selama Abad Pertengahan, Athena sempat mengalami kemunduran, kemudi­an bangkit kembali di bawah Kekai­saran Bizantium pada abad ke-12. Kala itu, Athena mendapat limpa­han dari kegiatan perdagangannya dengan Italia, hingga akhirnya menjelma sebagai Ibu Kota Yunani pada abad ke-19.

Meski merupakan metropolis Yunani, kedai-kedai kecil yang dikelola oleh keluarga lebih mendominasi Athena, ketimbang pusat perbelanjaan. Pelancong dari berbagai penjuru dunia banyak menghabiskan waktu di kawasan Koukaki dan Plaka, yang dikenal sebagai sentra wisatawan. Kedua kawasan ini dipenuhi dengan hotel, restoran, dan kafe sesuai dengan denyut pariwisata daerah tersebut.

Sementara itu, kedai-kedai pen­jual cenderamata juga turut meme­riahkan mata, memadati jalan-jalannya yang kecil. Suvenir yang banyak dibeli pengunjung adalah miniatur bangunan di Acropolis, gantungan kunci, magnet kulkas, atau keramik bergambar tempat-tempat wisata di Athena. Puas berbelanja, biasanya wisatasan akan beranjak ke restoran-restoran untuk menikmati hidangan khas Yunani.

Beberapa menu kuliner negara para dewa yang patut dicoba ada­lah Koulouria, pastri model Yunani semacam roti croissant, Souvlaki semacam sate dari daging ayam, kambing, sapi, atau bahkan udang, cumi, jamur, dan keju, serta Tzaziki, salad khas Yunani yang dimakan dengan roti pita. Aneka hidang­an menggoda ini banyak dijual di kedai-kedai maupun pedagang kaki lima di berbagai penjuru Athena.

Wisatawan juga bisa mengun­jungi kawasan Syntagma Square, alun-alun utama Athena yang men­jadi saksi konstitusi Yunani modern saat ini menjadi daerah pusat bisnis di Athena. Kawasan ini dikelilingi gedung-gedung dengan gaya arsi­tektur neo-klasik, dan berada tidak jauh dari Panathenaic Stadium, ge­langgang olahraga yang digunakan untuk menggelar Olimpiade musim panas pertama kali pada 1896.

Wisatawan bisa menyaksikan dan mengabadikan pergantian penjaga yang dilakukan setiap jam. Mengenakan seragam cokelat muda dengan bagian bawah seperti rok di atas lutut, para prajurit ber­jalan dengan gaya yang unik.

Sementara itu, juntaian pada peci merah yang dikenakan ber­goyang sesuai gerakan baris. Bagi turis yang tertarik berfoto bersama penjaga, akan diatur oleh seorang petugas setelah upacara pergantian penjaga selesai. SB/E-3

Pascazaman Kegelapan

Setelah “Greek Dark Ages” atau zaman kegelapan berakhir (800 SM), muncul berbagai kota-negara di seluruh penin­sula Yunani sampai ke pantai Laut Hitam, dan Anatolia (Asia Kecil), dengan tingkat kemakmuran yang tinggi dan perkembangan budaya yang pesat. Namun karena bu­kan suatu kesatuan, sering terjadi perseteruan antara negara-negara kecil di Yunani tersebut.

Konflik paling besar adalah Perang Peloponnesia, yang me­nandai hancurnya Kerajaan Athena sebagai penguasa utama di Yunani. Selanjutnya pada 500 SM, Kekaisa­ran Persia atau Achaemenid Empire menguasai wilayah tersebut.

Setelah itu, Yunani juga sem­pat berada di bawah kekaisaran Aleksander Agung, yang berkuasa hingga 323 SM. Cakupan kekua­saannya membentang mulai dari Yunani barat sampai ke timur Pa­kistan dan bagian selatan Mesir.

Kekaisaran besar lain yang pernah berkuasa di Yunani adalah Bizantium atau banyak dikenal sebagai Kekaisaran Romawi Timur. Dari Ibu Kota Konstantinopel, Kaisar Konstantinus beserta ketu­runannya memerintah cukup lama. Sejak abad ke-4 M sampai tahun 1453 mereka leluasa melakukan ekspansi ke berbagai wilayah dan tercatat sebagai kekaisaran di Eropa yang memiliki kekuatan di bidang ekonomi, budaya, dan militer.

Sampai awal abad ke-20, bangsa Yunani secara umum tersebar di semenanjung Yunani, pesisir barat Asia Minor, Pontus, dan Konstani­nopel yang merupakan daerah-daerah yang kurang lebih sama dengan perbatasan Kekaisaran Bizantium pada akhir abad ke-11, dan wilayah kolonisasi Yunani pada Dunia Kuno.

Satu tahun setelah Perang Yu­nani-Turki yang berlangsung pada 1919–1922, terjadi pertukaran popu­lasi besar-besaran antara Turki dan Yunani, sehingga mengelompokkan kaum etnik Yunani secara umum di perbatasan negeri Yunani modern. Bersama Siprus, wilayah ini menjadi lokasi bangsa Yunani menetap per­tama kali sejak 1500 SM.

Namun, populasi Yunani lainnya banyak mendiami Italia selatan hingga Kaukasus dan berbagai ko­munitas di sejumlah negara-negara lainnya di dunia. Bangsa Yunani sebagian besar diketahui memeluk agama Ortodoks Yunani. SB/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment