Miliki Pesona Alam yang Belum Terjamah | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Majalengka

Miliki Pesona Alam yang Belum Terjamah

Miliki Pesona Alam yang Belum Terjamah

Foto : KORAN JAKARTA/TEGUH RAHARDJO
A   A   A   Pengaturan Font

Kabupaten Majalengka akan dikembangkan menjadi salah satu wilayah sebagai tujuan wisata. Pengembangan ini sejalan dengan beroperasinya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati Kabupaten Majalengka.

Memiliki bandara adalah keuntungan tersendiri dari Kabupaten Majalengka. Peluang pengembangan wisata tentunya tidak bisa disia-siakan. Selain sarana transportasi yang nanti­nya akan semakin mudah menjangkau­nya, Majalengka pun memiliki banyak potensi wisata, khususnya wisata alam dan sejarah.

Keseriusan pengembangan Maja­lengka sebagai lokasi wisata baru di Jawa Barat ditunjukan langsung oleh Gubernur Ridwan Kamil. Belum lama ini, Gubernur bersama Bupati Maja­lengka mengajak berbagai pihak untuk mengunjungi sejumlah destinasi wisata yang potensial untuk dikembangkan.

Kawasan wisata satu paket lengkap yang bakal dikembangkan ada di Desa Bantaragung. Setidaknya ada sejumlah lokasi yang bakal dikembangkan, sep­erti Curug Cipeuteuy, Bumi Perkema­han Awilega, Bukit Batu Semar, Puncak Pasir Cariuk dan terasering sawah Ciboer Pass.

Setiap objek wisata memiliki keunikan sendiri dan alamnya terbi­lang masih belum terjamah. Tak heran Desa Bantaragung pernah dijuluki Surga Tersembunyi Terpopuler di ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) pada 2017.

Desa ini menyajikan hamparan sawah hijau dengan sistem pertanian terasering. Bahkan seringkali lokasi desa ini disebut sebagai mirip sawah di Bali. Saat tiba di sana, sejauh mata memandang akan terlihat lanskap pedesaan khas Tanah Pasundan.

Pengembangan wisata berkolaborasi dengan Universitas Indonesia dan In­stitut Pertanian Bogor di bawah pembi­naan Balitbangda Kabupaten Majaleng­ka. Lima tahun mengembangkan objek wisata, pendapatan Desa Bantaragung meningkat signifikan. Selain itu, jumlah pengangguran di desa pun berkurang. Tercatat 800 warga desa sudah ter­gabung menjadi pengelola wisata.

“Apabila diakumulasikan, pendapa­tan desa dari delapan objek wisata alam ini sudah mencapai di atas dua miliar rupiah. Semuanya itu kita kembalikan lagi kepada masyarakat, karena ini dibangun permodalannya dari ma­syarakat,” kata Kepala Desa Bantara­gung, Maman Surahman.

Berdasarkan data Kelompok Kerja Sadar Wisata (Pokdarwis) Agung Mandiri, jumlah wisatawan Bantara­gung mencapai 300 ribu setiap tahun. Namun, tahun ini, kunjungan bisa saja meningkat. Pasalnya, per Juni 2019, wisatawan Desa Bantaragung sudah mencapai 200 ribuan orang.

Menurut Maman, dengan ban­yaknya wisatawan, pihaknya pun mem­berdayakan keluarga tidak mampu untuk menjadi homestay (rumah singgah). Sampai saat ini sudah ada 370 rumah singgah dengan tarif cukup murah antara 20 hingga 100 ribu per malam.

Selain objek wisata alam, desa dengan 1.227 kepala keluarga dan luas wilayah 478 hektare juga memiliki potensi di bidang pertanian. Ma­man mengatakan, Desa Bantaragung menjadi produsen durian terbesar di Kecamatan Sindangwangi. Tak hanya itu, ada kebun bawang merah seluas 113 hektare yang bisa menghasilkan 500-600 ton setiap kali panen. “Kami ada festival durian khas Majalengka juga,” tambahnya. tgh/R-1

Keindahan Curug Cipeuteuy

Salah satu objek wisata yang men­arik perhatian Gubernur adalah Curug Cipeuteuy. Objek wisata ini merupakan air terjun dengan air yang masih jenih dan segar yang bersumber dari Gunung Ciremay. Karena kein­dahannya ini, bahkan Kang Emil pun tergoda untuk merasakan langsung ke­segaran airnya. Ia tidak sungkan untuk nyebur dan berenang di danau kecil, tempat jatuhnya air terjun.

Emil nampak terlihat tidak tahan untuk segera menikmati segarnya air yang tumpah dari atas curug. Ia segera melepas kacamatanya lalu terjun ke dalam curug. Langkahnya itu ternyata diikuti pula oleh rombongan yang ikut menjelajahi Majalengka akhir pekan lalu.

Memakai celana hitam dan baju polo abu, Emil sempat memperlihatkan ke­piawaiannya berenang gaya bebas. Ak­tivitas tidak biasa ini sungguh menarik perhatian warga sekitar. Usai berenang, Gubernur mengajak warga Jawa Barat untuk segera datang menikmati keinda­han Cipeteuy.

“Kepada warga Indonesia, warga dunia jangan lupa datang ke Jawa Barat, datang ke Majalengka di Curug Cipeu­teuy. Keindahannya mewakili alam Jawa Barat dan Majalengka,” ajaknya.

Puas berenang bersama warga di Curug Cipeuteuy, rombongan Gubernur bergerak menuju destinasi berikutnya, yakni Ciboer Pass. Jaraknya sekitar satu kilometer dari Balai Desa Bantaragung. Di Ciboer Pass, mata akan dimanjakan dengan hijau padi yang ditanam dengan pola terasering yang dibelah oleh Sungai Ciwaru. Keindahannya tidak kalah den­gan sawah terasering Ubud, Bali.

Ciboer Pass menjadi tempat yang asyik kala menikmati jingga di ujung hari. Ciboer Pass mengingatkan pada ungkapan bahwa Tanah Pasundan me­mang diciptakan Tuhan saat tersenyum.

“Insyaallah setelah ini kita akan promosikan Majalengka habis-habisan. Karena banyak objek wisatanya yang luar biasa, di pegunungan, air dan lain sebagainya,” kata Emil. tgh/R-1

Berburu Buah Legit

Majalengka juga dikenal sebagai sentra pembibitan buah-buahan. Banyak jenis buah yang dikembang­kan di sini, salah satunya adalah durian. Dari berbagai upaya pembibitan akhirnya tercipta­lah durian khas Majalengka yang dinamakan durian perwira atau Sinapeul.

Dinamakan Durian Sinapeul tidak lepas dari asal muasal buah tersebut tumbuh yaitu Desa Ujungberung Blok Sinapeul, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka. Selama bertahun-tahun, warga Blok Sinapeul sudah akrab dengan durian.

Saat memasuki daerah tersebut, hampir di semua halaman rumah warga tumbuh pohon durian. Bahkan ada yang mengklaim satu buah pohon durian sebagai bibit pertama telah berusia ratusan tahun. Durian Perwira nama asli dari Durian Sinapeul merupak­an satu-satunya jenis durian asal Jawa Barat yang sudah tercatat di Kementerian Perta­nian.

Karena menjadi sentra produksi buah du­rian, pemerintah setempat juga rutin meng­gelar festival makan durian. Biasanya festival diselenggarakan pada Desember saat panen buah durian.

Dalam festival juga disuguhkan budaya setempat seperti tari-tarian khas Majalengka atau pantura.  tgh/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment