Mewujudkan Pencahayaan Ruang yang Penuh Makna | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 27 2020
No Comments

Mewujudkan Pencahayaan Ruang yang Penuh Makna

Mewujudkan Pencahayaan Ruang yang Penuh Makna

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Adanya interaksi bahkan luapan emosi menjadi makna yang terkandung dalam pencahayaan. Alhasil, pencahayaan tidak sebatas sebagai penerang ruang. Melalui beragam instalansi, pencahayaan menjadi kaya makna. Lampu sebagai cahaya sorot dibungkus dalam wadah yang beragam, sehingga mampu memberikan makna beragam.

Instalansi pencahayaan di tampilkan di pameran Glow Up yang mengambil tempat di hub A/D/O di Brooklyn, Amerika Serikat. Pameran yang merupakan karya enam desainer dari In Good Company, platform Mastrangelo, kumpulan seniman muda yang menampilkan karya dari berbagai sudut pandang.

Karya untuk menunjukkan pada khalayak bahwa pencahayaan dapat memiliki arti yang lebih daripada sekedar penerang. Beberapa seniman yang terlibat, seperti Amanda Richards.

Dia menampilkan karya dengan membungkus lelehan besi tua dan menggunakan cairannya untuk menghiasi tiga set lampu gantung, yang dinamakan Pearl Pendants. Lampu tersebut tampil lebih unik dibandingkan lampu pada umumnya.

“Proses ini mengubah bagian inti menjadi hiasan, namun fungsional dengan memberikan pernak-pernik sehingga terkesan baru,” ujar pihak penyelenggara, seperti dilansir dari portal Dezeen.

Sementara, Nick Missel, seniman menggunakan suasana alam untuk mendesain instalasinya. Karyanya dipengaruhi distorsi alam yang disebabkan kabut dan polusi.

Instalansi berbentuk bungkus bulan tersebut dimaksudkan agar lampu menyerupai bulan saat dilihat dalam suasana berkabut. Marco Pistelli, seniman mengambil judul On-Edge, untuk karyanya.

Dia mengambil ide dari petunjuk di trotoar jalanan dan lampu sorot. Instalasinya digantungkan dengan cahaya sekitar untuk menerangi permukaan logam. Sinarnya yang menyorot ke bawah akan menghangatkan siapa saja yang berdiri di bawah sinar tersebut. Adalagi, karya Bailey Fontaine yang mengomentari budaya selfie.

Instalasinya mereplikasikan perangkap tikus, layaknya gambaran yang muncul dalam kartun. Sedangkan, bagian bawah cermin dilapisi dengan bahan keemasan. Maksudnya, cermin tersebut untuk memikat pengunjung memotret diri mereka sendiri. Dalam pameran pencahayaan ini, pengunjung dapat menikmati pencahayaan yang diletakkan lebih tinggi dari tubuh mereka.

”Pengunjung Glow Up didorong untuk melihat ke atas untuk menemukan saat-saat kehangatan dan mencari refleksi,” ujar penyelenggara. Hub A/D/O berada di dalam bangunan tua yang diubah oleh New York nArchitetcs Studio menjadi kreatif hub, restoran dan inkubator starup teknologi. din/R-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment