Koran Jakarta | May 25 2019
No Comments

Menyuarakan Kemanusiaan Lewat Jurnalistik

Menyuarakan Kemanusiaan Lewat Jurnalistik
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Hikayat Kebo: Sehimpunan Laporan tentang Orang-Orang Pinggiran

Penulis : Linda Christanty

Penerbit : Circa

Cetakan : Januari, 2019

Tebal : xxii + 212 halaman

ISBN : 978-602-52645-2-8

Jurnalis sering kali menjadi orang pertama yang mengetahui masalah kemanusiaan. Mereka bergerak melakukan wawancara dan melihat aktivitas masyarakat dari dekat. Dalam meliput konflik, mereka melihat beban dan penderitaan orang-orang kecil yang menjadi korban. Jurnalis kemudian memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan segala peristiwa yang disaksikannya kepada masyarakat luas.

Itulah yang dilakukan Linda Christanty dalam buku Hikayat Kebo: Sehimpunan Laporan tentang Orang-Orang Pinggiran (Januari, 2019). Dalam kata pengantar Linda menuliskan, “Buku ini merupakan rekaman perjalanan, pemikiran, dan kepedulian saya terhadap orang-orang biasa, dari Jawa sampai Aceh (hlm xviii.”

Dari Jawa, Linda mengisahkan kehidupan orang pinggiran Jakarta bernama Kebo yang dituliskan dengan judul Hikayat Kebo. Kebo adalah orang desa yang berangkat mengadu nasib di Jakarta namun hidupnya berakhir celaka. Kebo dianiaya dan dibakar hidup-hidup oleh sekelompok orang. Permasalah bermula ketika Kebo mulai tinggal di bilik pemulung dekat Mal Taman Anggrek. Kebo gemar mabuk-mabukan dan meminta uang kepada warga sekitar dengan memaksa.

Kemarahan warga memuncak ketika malam hari dalam kondisi mabuk dan marah, Kebo membakar rumahnya sendiri. Api merembet ke rumah-rumah di sekitarnya. Dua hari kemudian, pemulung-pemulung yang membawa besi, golok, dan kayu menemukan Kebo teler di lapak kayu, Kedoya Utara, Jakarta Barat (hlm 49). Akibatnya fatal bagi Kebo, ia meregang nyawa di tangan warga yang marah.

Linda mengaitkan peristiwa ini dengan kondisi politik di Indonesia. Penganiayaan terhadap Kebo terjadi pada tahun 2001, di mana kondisi politik dan ekonomi Indonesia belum stabil. Setelah era reformasi, pemerintah mencoba memperbaiki ketimpangan ekonomi yang sangat kentara.

Namun perbaikan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan rakyat harus menanggung penderitaan tanpa memiliki kesempatan untuk memperbaiki nasib. Dalam kondisi ketimpangan seperti inilah, emosi masyarakat gampang tersulut dan perbuatan main hakim sendiri terjadi di mana-mana. Data forensik dari Universitas Indonesia menunjukan korban kekerasan massa pada tahun 2001 di Jakarta mencapai 86 kasus pembakaran korban (hlm 52).

Sementara di Aceh, Linda menemukan berbagai permasalahan yang ditinggalkan oleh konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan tentara. Ia menuliskan liputan tersebut dengan judul Orang-Orang Tiro. GAM dipimpin oleh Hasan Tiro yang berkeyakinan bahwa Aceh harus merdeka untuk mencapai kemajuan. Saat itu tahun 1971, Hasan Tiro baru kembali dari Amerika. Di depan salah satu kerabatnya bernama Kamal, Hasan Tiro beranggapan jika negara ini terlalu besar dan tidak mungkin untuk dikendalikan. Sehingga Aceh harus memisahkan diri dari Indonesia.

Setelah itu Hasan Tiro kembali lagi ke Amerika dan pulang ke Aceh setelah enam tahun, pada 1976. Setelah kepulangannya untuk kali kedua, Hasan Tiro langsung pergi menuju hutan.

Di sana orang-orang yang sepemahaman dengannya berkumpul. Kamal yang sudah lama tidak bertemu dengan Hasan Tiro memutuskan untuk menyusul ke hutan. Rasa ingin tahu dan rindu bercampur di benak Kamal (hlm 159). Kamal bergabung dengan GAM dan beberapa kali harus di penjara karena pilihannya tersebut. Pada tahun 1980 terjadi kontak senjata antara militer Indonesia dan GAM (hlm 161).

Banyak orang yang harus menderita karena konflik yang terjadi di Aceh. Sebagian di penjara, terbunuh, dan banyak orang yang kehilangan anggota keluarganya ataupun rumah beserta harta bendanya.

Sebagai Jurnalis, Linda terlatih untuk peka terhadap permasalahan sosial. Dalam setiap liputannya, Linda menuliskan kisah mendetail bahkan untuk peristiwa-peristiwa yang terkecil sekalipun. Linda mampu membuat pembaca menikmati narasi yang enak dibaca sekaligus berempati kepada tokoh yang diceritakan. Peresensi Esai dan Mahasiswi Universitas Negeri Jakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment