Koran Jakarta | January 18 2018
No Comments

Menyibak Perjalanan Hidup Chairil Anwar

Menyibak Perjalanan Hidup Chairil Anwar
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Ini Kali Tak Ada yang Mencari Cinta

ISBN : 9786024020989

Penulis : Sergius Sutanto

Penerbit : Qanita

Tanggal terbit : Oktober - 2017

Jumlah Halaman : 432 halaman

Buku Ini Kali Tak Ada yang Mencari Cinta mengajak pembaca menyelami pergolakan batin penyair muda Chairil Anwar. Kegundahan, kegelisahan, kemarahan, dan duka yang terlanjur menganga serta gejolak pemberontakan yang dialaminya. Buku memilih menggunakan emosi kejiwaan untuk mengajak pembaca memahami tokoh secara lebih personal

Chairil Anwar adalah salah satu penyair yang namanya mulai terdengar dalam perjuangan bangsa Indonesia era empat puluhan. Penangkapannya di kantor polisi Belanda pada tahun 1937 karena membaca Layar Terkembang karya Sutan Takdir menjadi awal kesadaran bahwa kata-kata yang tersusun rapi bisa bernyawa dan mampu meledakkan pemikiran seseorang (hlm 41).

Dari kesadaran itu dan kesempatan menimba ilmu di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Medan mendorongnya berlatih membuat prosa. Di sini, dia mulai berkenalan dengan karya pujangga luar, seperti Emile Zola atau Ernest Hemingway. Di tingkat MULO pula, Chairil mulai berkenalan dengan HB Jassin, seorang pemuda Gorontalo yang akhirnya menjadi tokoh penting dalam perjalanan hidup sang penyair muda.

Sayang, belum sempat menyelesaikan pendidikan di MULO Medan, Chairil harus hengkang ke Jakarta mengikuti ibunya. Jakarta pada waktu itu terkena dampak pergantian tampuk kepemimpinan mulai dari hengkangnya Belanda, kedatangan Jepang yang mengaku sebagai saudara tua, hingga berkobarnya semangat revolusi kemerdekaan Indonesia. Pada usia 23, Chairil Anwar mendapat tugas penting dari Sutan Sjahrir, tokoh perjuangan kemerdekaan untuk memberi kabar kepada Soebadio Sastrosatomo terkait kasus pengeboman di Nagasaki.

Tugas ini akhirnya membuat Chairil ditangkap opsir tanpa interogasi. Beruntung, Chairil diselamatkan Tengku Otto Herman sehingga akhirnya lolos dari penjara. Chairil bahkan bisa ikut menggoreskan kata Boeng, Ajo Boeng di lukisan Fandi dengan Dullah sebagai model yang tengah memegang bambu runcing dengan mulut menganga. Lukisan ini pesanan langsung Ir Soekarno untuk membakar semangat perjuangan rakyat.

Di tahun yang sama pula, Chairil mengikuti Kongres Pertama Pemuda di Yogyakarta. Namun, akhirnya berpindah ke Surabaya karena serangan tentara Inggris. Gejolak perang tak hanya terjadi secara inderawi dalam kisah perjuangan kemerdekaan. Gemuruh di dada Chairil Anwar juga tak lepas dari gejolak. Pada masa perjuangan kemerdekaan Chairil telah menambatkan hati ke beberapa gadis. Ida Nasution, perempuan cerdas yang kerap dijumpai di Balai Pustaka, salah satu bentuk cintanya yang tak sampai.

Akhirnya dia menambatkan hati ke pangkuan Hapsah dan menikah pada tanggal 6 Agustus 1946. Mereka dianugerahi buah hati bernama Evawani Alissa pada 17 Juni1947. Namun akhirnya, perjuangan membina rumah tangga kandas di akhir 1948 lantaran persoalan ekonomi dan gejolak pribadi sang penyair yang tidak bisa dipahami istri.

Dia meninggal secara tragis menjelang usia ke-27. Penyair Aku Ini Binatang Jalang tersebut hanya meninggalkan warisan sepasang sepatu dan kaus kaki hitam. Kemudian, satu ons gula merah, selembar uang rupiah, serta satu map lusuh berisi kertas-kertas sajak. 

Diresensi Dewi Ratna Sari

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment