Koran Jakarta | July 22 2019
No Comments
Jatiwangi Art Factory

Menyesuaikan Produk dengan Perkembangan Zaman

Menyesuaikan Produk dengan Perkembangan Zaman

Foto : FOTO-FOTO: KORAN JAKARTA/TEGUH RAHARDJO
A   A   A   Pengaturan Font

Sekitar 10 tahun lalu, produk genteng dari Majalengka menjadi produk bahan bangunan yang menjadi pilihan masyarakat untuk atap rumahnya. Genteng dari tanah liat yang dicetak secara tradisional terkenal kuat dan tahan lama. Namun sayangnya saat ini produk genteng Majalengka, khususnya di daerah Jatiwangi, semakin menghilang karena tergantikan dengan produk pabrikan. Genteng tergantikan dengan asbes, spandek bahkan seng.

Industri genteng Jatiwangi Kabupaten Majalengka pernah berjaya pada era 1990 sampai 2000-an. Namun, kehadiran produk serupa yang lebih praktis, seperti asbes dan genteng spandex, membuat pamor industri genteng Jatiwangi menurun.

Industri genteng Jatiwangi dipelopori H Umar bin Ma’ruf untuk atap masjid di Du­sun Cikarokrok, Kabupaten Majalengka, pada 1905. Dari situ, genteng Jatiwangi terus menanjak, bahkan menjadi buah tangan dan bagian pent­ing pembangunan kota- kota di Indonesia.

“Jatiwangi Majalengka punya sejarah panjang di mana kebudayaannya memaksimalkan anugerah Tuhan yang ada, yaitu tanah liat. Dalam perjalanannya ini jadi identitas dan tak boleh berubah,” kata Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil saat memberi sambutan dalam acara Indonesia Con­temporary Ceramics Biennale (ICCB) di Jebor Hall, Jatiwangi Art Factory (JAF), belum lama ini.

Gubernur mengatakan perajin Jatiwangi harus beri­novasi membuat produk dari bahan tanah liat. Dia menye­but Terakota sebagai jawaban atas lesunya industri genting. Terakota, lanjut dia, bernilai seni dan dapat meningkatkan nilai tambah pemanfaatan tanah liat.

Jika pelaku usaha gen­teng mau berinovasi dengan memproduksi terakota, kata Emil (sapaan akrab Ridwan Kamil) perajin Jatiwangi dapat kembali berjaya. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar siap mendorong dengan mencari peluang kerja sama dengan berbagai pihak agar Terakota Jatiwangi melejit.

“Budaya tanahnya tidak boleh berubah, tapi produknya harus bisa menyesuaikan diri,” katanya.

JAF adalah sebuah organisasi nirlaba yang fokus terhadap ka­jian kehidupan lokal pedesaan lewat kegiatan seni dan budaya juga industri kreatif seperti festi­val, pertunjukan seni, pameran seni rupa, musik, video dan film, keramik, residensi seni­man, diskusi bulanan, siaran radio dan pendidikan. JAF dapat ditemukan di Desa Jatisura, Ke­camatan Jatiwangi, Kecamatan Majalengka, Provinsi Jabar.

Komunitas ini berdiri pada 2005. Adapun sejak 2008 bekerja sama dengan Pemerintahan Desa Jatisura untuk melakukan riset dan penelitian dengan melibatkan kesenian kontempo­rer yang kolaboratif dan saling berkaitan.

Awalnya bernama Jatiwangi International Performing Artis-in-Residence Festival (2006), sebuah residensi yang diseleng­garakan di tiga desa di wilayah Jatiwangi. Pada 2010 berubah menjadi Jatiwangi Artists-in-Residence Festival dan pada 2012 menjadi Festival Residensi Jatiwangi.

Festival ini berupaya menciptakan kesadaran akan praktik seni kontemporer dan membuka kemungkinan aktivitas kreatif. Di samping menjembatani hubungan dan pertemuan antara seniman mu­kiman dan penduduk setempat, festival membuka jaringan kerja internasional untuk masa depan Jatiwangi.

Komite Festival bertugas menghubungkan seniman dan tuan rumahnya. Konsep tamu-tuan rumah dimaksudkan untuk menghela batas-batas praktik seni dan mendorong pencip­taan karya seni yang mere­fleksikan ide-ide, tradisi, dan isu-isu dari komunitas setempat dipadukan dengan ide-ide dan praktik artistik para seniman mukiman.

Para peserta juga akan menjelajahi pola-pola hubun­gan tradisional-modern, rural-urban, global-lokal, dan lain-lain. Festival ini merayakan penciptaan seni kontemporer dalam kehidupan sehari-hari, dan dengannya mendekatkan seni pada publik. Festival ber­langsung dalam dua tahap.

Para seniman mukiman dan penduduk setempat akan sama-sama menjelajahi ide-ide, berkarya, dan mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan penampilannya. Kegiatannya adalah pertemuan, bincang-bincang, lokakarya, dan program kunjungan. Tahap kedua adalah festivalnya. Di sini para seniman dan tuan rumah akan menampilkan hasil karya mereka.

Selain itu ada pula festival musik keramik, yang akan melibatkan seniman muki­man dan tuan rumah. Selama dua pekan seniman mukiman akan berkolaborasi dengan penduduk setempat, baik mengenai ide maupun kes­empatan sebagai penampil, demi menciptakan instrumen musik keramik di festival. Hasil kolaborasi ini akan ditampilkan dalam pentas musik di akhir festival. tgh/R-1

Terakota ala Majalengka

Terakota atau produk keramik dengan bahan tanah liat ini penggunaannya termasuk di antaranya untuk bentuk permukaan yang mendukung konstruksi ban­gunan pada sebuah desain arsitektur.

Keindahan karya terakota Majalengka tak usah diragukan. Bahkan Ridwan Kamil menganggap produk kermik Jatiwangi seperti permata yang perlu digosok. Terakota sebagai komoditas potensial baik dalam seni juga ekonomi. Maka itu, dia mengajak para perajin tanah liat serta unsur Pemerintah Kabupaten Majalengka untuk kembali bersemangat menggali desain terakota yang responsif pada lingkungan, kebutuhan, dan kemajuan zaman.

“Majalengka permata yang tersembunyi, semakin saya ubek- ubek, semakin saya cinta,” ucapnya.

“Maka saya menitipkan ke Pemerintah Kabupaten Majalengka agar mentransforma­sikan para pelaku industri genteng, menjadi terakota non-genteng, juga macam lainnya,” katanya.

Emil memberi waktu enam bulan kepada Kabupaten Majalengka untuk membuat etalase Terakota. Sehingga, nantinya para pengusaha atau peminat terakota dapat memilih model, bentuk, dan fungsi terakota yang dibutuhkan sekaligus diminati. “Ide, gagasan yang inovatif diharapkan dapat membawa kesejahteraan bagi para perajin,” katanya. tgh/R-1

Museum Tanah Liat

Setelah sekian lama berjalan send­iri, JAF kini semakin terkenal dan mendapatkan perhatian seniman termasuk pemerintah setempat. Kini bahkan kawasan ini memiliki Museum Kebudayaan Tanah. Kini museum itu menjadi salah satu tujuan untuk wisata selfie di Majalengka.

Bangunan Museum Kebudayaan Tanah berada di di belakang bangunan Jebor Hall, Jalan Makmur Nomor 604, Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka.

Museum Kebudayaan Tanah tentu dibangun untuk melestarikan aset ke­budayaan yang berkaitan dengan tanah. Museum ini dibangun sejak November 2017. Karena disebut museum , tentu saja didalamnya disajikan sejarah kapan pertama kali genteng mulai di produksi, serta jebor mana yang mem­produksi, mengetahui merek dan jenis genteng nya apa saja.

Museum ini menjadi pusat kegiatan setiap kali berlangsung JAF. Rangkaian kegiatannya juga menarik dan unik. An­tara lain berupa pameran seni keramik, Binaraga Jebor, Pekan Film Jatiwangi, Rampak Genteng hingga Konser Musik Keramik dengan mengundang musisi-musisi dari berbagai negara dan daerah.

Binaraga yang dilombakan juga sangat unik. Pesertanya adalah pekerja pembuatan genteng dengan “bar­bel” berupa tumpukan genteng yang diangkat. Karena bekerja dengan cara tradisional, badan pekerja pembuatan genteng memang kekar-kekar sehingga mirip atlet binaragawan.

Gedung Museum Kebudayaan Ta­nah sendiri merupakan bangunan yang didominasi tumpukan genteng, bata dan kayu yang dibangun tanpa dilapisi bahan semen. Unik dan terkesan vin­tage sehingga wajar menjadi daya tarik baru di Majalengka, terutama anak-anak muda yang doyan selfie. tgh/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment