Koran Jakarta | June 20 2018
No Comments
#kitaSIAP

Menyelamatkan Anak dari Ancaman Kanker

Menyelamatkan Anak dari Ancaman Kanker

Foto : foto-foto: dok. #kitaSIAP
A   A   A   Pengaturan Font

Ketimpangan jumlah penderita kanker anak di Indonesia dan ketersediaan obat sangat mengkhawatirkan. Belum ada angka pasti berapa jumlah anak dengan kanker, sehingga obat di rumah sakit pun tidak pernah memadai.

Dalam kurun waktu 2010-2015 menurut data WHO tercatat ada sekitar 84 juta orang meninggal dunia akibat kanker. Dari total tersebut sebanyak 80 persen berasal dari negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di usia sebelum 60 tahun. Masih menurut data WHO, jumlah penderita kanker anak di dunia sebanyak 14,1 juta orang, dan empat persennya merupakan penderita kanker berusia muda atau anak-anak. Sedangkan menurut data Kementerian Kesehatan menyebut pada 2007 tak kurang dari 4.100 kasus kanker pada anak terjadi direntang usia 5 hingga 14 tahun.

Secara global jumlah kanker pada anak terus tumbuh, bahkan Dewan Pengawas Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI), Ruth Setiabudi menjelaskan bahwa jumlahnya tidak menyusut melainkan terus meningkat tiap tahun. “Banyak faktor yang melatar belakanginya, bisa karena gaya hidup atau penyakit bawaan bayi, dan rata-rata di Indonesia terjadi di lingkup keluarga prasejahtera,” terang Ruth kepada Koran Jakarta disela acara program #kitaSIAP Berkarya dan Berdaya Bagi Generasi Penerus Bangsa, yang digelar Tokio Marine Life Insurance Indonesia bersama YKAI, di Jakarta belum lama ini.

Yang menjadi sorotan ialah soal ketersediaan obat yang diperkirakan tidak lagi memenuhi kebutuhan pasien kanker anak. Ruth menceritakan sampai saat ini belum ada data yang pasti berapa jumlah pasien kanker anak di Indonesia, akibatnya pasokan obat menjadi sangat terbatas bahkan tak jarang sulit didapat.

“Ini merupakan salah satu masalah yang harus dipecahkan segera, teman-teman dokter sudah memprakarsai pendataan ini, dan bulan lalu ketika kita diundang bertemu Presiden Jokowi juga sudah kami sampaikan persoalan ini, harapan kami dengan pendataan ada langkah kongkrit dan sepadan dari sisi jumlah obat-obatan demi penanganan pasien kanker anak yang maksimal,” ungkapnya.

Ketersediaan obat pun tidak mudah didapatkan, hampir seluruh obat untuk kanker anak itu diimpor dari India. “Itu obatnya yang generik ya dan ada enam jenis obat yang pengadaan saat ini sudah sangat kurang. Sejauh ini belum ada pabrik obat yang mau memproduksinya karena semua bahannya impor, jadi di sini tinggal dicetak saja. Dan kalau dihitung mahal, tidak menguntungkan,” lanjutnya.

Kejelasan siapa yang membawa obat tersebut ke dalam negeri pun masih tidak ada kejelasan, tak jarang untuk memenuhi kuota atau setidaknya untuk kebutuhan pasien kanker, YKAI musti menjemput obat keluar negeri. “Di luar upaya pemerintah, kami pun melakukan sesuatu untuk anak pengidap kanker. Tapi upaya jemput obat itu tidak efektif untuk jangka panjang, saya berharap ada wadah khusus yang bisa memenuhi impor obat kanker itu,” tuturnya.

Harapan soal obat juga terkait pembebasan pajak masuk terhadap pengadaan obat anak-anak kanker, dalam pertemuan YKAI bersama Presiden yang didampingi oleh Menkes, Nila Moeloek merespons baik sejumlah aspirasi tersebut. Menurut Jokowi, pemerintah akan menindaklanjuti keinginan mereka soal pembebasan pajak obat kanker impor. Sebab, hal tersebut menyangkut kepentingan kesehatan generasi penerus bangsa.

“Berkaitan dengan regulasi untuk biaya masuk yang berkaitan dengan obat-obatan, nanti akan saya tindaklanjuti. Mungkin biar (ditangani) Menkes dengan Menteri Keuangan,” papar Jokowi.

Butuh Penanganan Serius

Sore itu, sejumlah anak penderita kanker dibawah naungan YKAI berkumpul dengan suguhan beragam acara menarik yang menghibur, seperti melukis tas hingga mendengarkan kisah dongeng. Head of Marketing Communications & Corporate Branding Department Tokio Marine Life Insurance Indonesia, Ferawati Gondokusumo menuturkan, gelaran ini dilakukan semata-mata untuk mendukung generasi penerus bangsa itu.

“Dalam acara ini kami memberikan sarana kepada anak-anak dengan kanker seperti tas, cat, beserta perlengkapannya untuk mendukung mereka terus berkarya, yang kemudian seluruh uang hasil penjualan tersebut sepenuhnya diserahkan kepada YKAI untuk keperluan pengobatan anak-anak dengan kanker. Selain itu perusahaan juga akan membantu mereka menjual tas karya anak-anak dengan kanker ini sebagai salah satu merchandise Tokio Marine Life Insurance,” urainya.

Secara teknis menyemangati anak dengan kanker merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi gangguan fisik, psikis, spiritual dan mampu meningkatkan kualitas hidup si anak. Namun secara medis, Ruth menceritakan ada celah pengobatan yang belum maksimal termanfaatkan.

Dalam penanganan kanker anak ini kebanyakan berada di keluarga prasejahtera yang secara ekonomi sangat terbatas. “Yang ditanggung BPJS itu salah satunya obat yang disuntikan, sehingga pasien harus datang tiap minggu hanya untuk disuntik. Padahal penanganan itu bisa digantikan dengan obat oral yang tentu dari sisi pengeluaran lebih efisien untuk pasien maupun pihak rumah sakit,” ungkap Ruth.

Terlebih tenaga medis Spesialis Onkologi Pediatrik khusus anak sangat kurang, Dirut RS Kanker Dharmais, Abdul Kadir, pernah menyampaikan bahwa jumlah dokter anak di seluruh Indonesia hanya ada sekitar 70 orang dan sebagian besar berada di Jawa.

“Kita bisa bayangkan ada dokter yang harus menangani beberapa rumah sakit terkait anak dengan kanker. Apa tidak kewalahan tuh?” cetusnya. ima/R-1

Perkuat Edukasi

Tingginya angka kematian anak akibat kanker disebabkan ketidaktahuan orangtua terhadap gejala penyakit yang diderita anak. Biasanya mereka baru datang ke rumah sakit setelah memasuki stadium lanjut.

Ketidaktahuan orangtua disebabkan penyakit kanker pada anak sulit dideteksi dan ditemukan. Seorang anak juga kerap tidak menyampaikan secara langsung apa yang dirasakan. Itu sebabnya, YKAI akan segera menciptakan wadah parenting support group yang lokasinya akan dipusatkan di Mayapada Hospital, di sana nanti akan banyak orang tua anak penderita kanker ataupun masyarakat umum yang bisa tergabung dalam kegiatan ini.

“Kegiatan ini akan berisi edukasi seputar kesehatan dan juga awareness soal kanker anak. Kegiatan ini bisa diikuti habis Lebaran ini. Karena perlu Anda ketahui penemuan gejala dini akan sangat berarti karena jika ditemukan pada stadium dini, maka angka kesembuhan dapat mencapai 100 persen,” jelasnya.

Berdasarkan Data Srikandi pada 2005-2017, pertama, leukimia merupakan jenis kanker tertinggi pada anak, dengan jumlah 2,8 per 100.000. Kedua, retinoblastoma dengan prevalensi 2,4, per 100.000. Dan ketiga, dengan oestosarkoma dengan 0,97 per 100.000, keempat, limfoma dengan jumlah 0,75 per 100.000, serta kelima, kanker nasopharing dengan prevalensi 0,43 per 100.000. ima/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment