Koran Jakarta | September 16 2019
No Comments
Kabuta Asap | Surat Protes Akan Dikirim Siti Nurbaya ke Dubes Malaysia di Jakarta

Menteri LHK Minta Malaysia Objektif Melihat Kabut Asap

Menteri LHK Minta Malaysia Objektif Melihat Kabut Asap

Foto : ISTIMEWA
Siti Nurbaya, Menteri LHK
A   A   A   Pengaturan Font
Rencana aksi protes yang ingin dilakukan Malaysia terkait kabut asap, malah menuai kritik dan sebaliknya, Menteri Siti Nurbaya akan kirim surat protes.

 

JAKARTA – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya akan mengirimkan nota protes kepada pemerintah Malaysia terkait kabut asap yang terjadi di Serawak, Malaysia akibat dari kebakaran di Kalimantan. Padahal, lanjut dia, tidak semua kabut asap berasal dari wilayah Indonesia.

“Saya akan menulis surat kepada Dubes (Malaysia untuk RI) untuk diteruskan kepada Menterinya. Jadi, saya kira supaya yang betul datanya. Karena apa? karena pemerintah Indonesia betul-betul secara sistematis mencoba menyelesaikan ini dengan sebaik-baiknya,” kata Siti di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (10/9).

Siti minta pemerintah Malaysia membuka informasi yang sebenar-benarnya terkait kabut asap ini. “Ada informasi yang dia tidak buka. Karena sebetulnya asap yang masuk ke Malaysia, ke Kuala Lumpur, itu dari Serawak kemudian dari Semenanjung Malaya, dan juga mungkin sebagian dari Kalbar. Oleh karena itu seharusnya obyektif menjelaskannya,” tutur Siti.

Terkait asap ini, Siti juga menyayangkan sikap Singapura bahwa ada asap dari Riau menuju Singapura. Padahal, kata Siti, titik api atau hotspot di Riau sudah turun. “Engga benar, ada dari Riau nyeberang ke Singapura. Itu ngga benar. Kenapa? di Riau sudah turun (hotspot). Kita punya 46 helikopter yang bekerja di lapangan,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Siti mengatakan bahwa saat ini sudah tidak ada Transboundary Haze (asap lintas negara). Menurut dia, puncak asap tertinggi terjadi pada tanggal 8 September pagi, namun hal itu hanya terjadi satu jam karena angin bergerak ke arah Barat Laut.

“Dari Kalimantan dan Serawak, Kalbar, Serawak dan Semenanjung Malaysia. Jadi jangan bilang hanya dari Indonesia gitu lho. Barangkali Kalbar kan sudah kelihatan seperti apa,” kata Siti sambil memperlihatkan gambar terkait sebaran asap.

Ia menjelaskan, bahwa dirinya sudah melaporkan kepada Presiden Jokowi, Menkopolhukam Wiranto terkait ha ini. Bahkan, pihaknya sudah melakukan briefing dengan BMKG.

“Kita sudah punya pola sistematis. Monitoring dilakukan. Pemadaman oleh Manggala Agni, Polri, TNI, masyarakat semua dilakukan. Terus pesawat ada 46 sekarang. 17 di Riau dan 11 di Sumsel, dan 7 masingmasing di Kalteng dan Kalbar. Sebetulnya langkah dilakukan terus. Memang fluktuatif. Tidak mudah, mudah-mudahan makin baik,” tutup Siti.

Tidak Melintas Batas

Sebelumnya, Deputi Bidang Meteorologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG), Mulyono R. Prabowo mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan BMKG dengan citra Satelit Terra Aqua MODIS, SNPP, NOAA20 dan Satelit Himawari-8 selama 4 - 7 September 2019, teridentifikasi setidaknya 2510 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di seluruh wilayah ASEAN.

Dijelaskan Mulyono, berdasarkan pantauan Satelit Himawari-8, sebaran asap di wilayah Indonesia terjadi di Riau, Jambi, sebagian Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Untuk pantauan asap lintas batas (transboundary haze), tidak seperti yang diberitakan oleh beberapa media sebelumnya, berdasarkan lantauan dan analisa data satelit, tidak terdeteksi sebaran asap dari Wilayah Sumatera ke Semenanjung Malaysia.

BMKG kata Mulyono, memprakirakan terdapat beberapa wilayah yang mengalami peningkatan potensi kemudahan kebakaran hutan dan lahan dalam 5 hari ke depan (9 - 12 September 2019), antara lain Sumut bagian selatan, Riau, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan. fdl/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment