Koran Jakarta | June 18 2018
No Comments

Menjiwakan Perpustakaan “Kids Zaman Now”

Menjiwakan Perpustakaan “Kids Zaman Now”

Foto : foto-foto: koran jakarta/aloysius widiyatmaka
Para punggawa perpustakaan Kota Magelang tengah berbincang santai.
A   A   A   Pengaturan Font

Berkunjung ke perpustakaan di era sekarang bukan lagi suatu hal yang menjemukan, namun justru sebaliknya. Pasalnya, perpustakaan saat ini sudah dilengkapi dengan beragam teknologi kekinian.

Belakangan masyarakat ramai menggunakan istilah kids zaman now (KZN). Awalnya ini mungkin untuk guyonan, namun memang kalau diresapi, sepertinya istilah tersebut bisa untuk membedakan dengan anak-anak zadul alias zaman dulu. KZN sungguh berbeda, misalnya, dengan rekan sebaya yang hidup 10 apalagi 20 tahun lalu. KZN jauh lebih maju secara teknologi, walau dari segi unggah-ungguh jelas lebih parah. Biarlah yang buruk tidak usah dibahas di sini.

KZN ditandai pengenalan gadget, game, dan teknologi informasi lain. Untuk bidang ini mereka jelas sangat maju, bahkan mulai mencandu, sehingga banyak bocah semakin sulit melepaskan diri dari telepon pintar yang bisa digenggam ke mana-mana. Tentu hal ini bisa juga membahayakan, terutama mereka bisa kehilangan minat membaca. Mereka hanya akan lebih mengandalkan telinga dan mata alias mendengarkan atau melihat.

Situasi demikian coba “diadang” Pemerintah Kota Magelang dengan menggiring anak-anak masuk ke perpustakaan sejak dini. “Anak-anak didorong rajin ke perpustakaan supaya membudaya sejak dini,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP4KB) Kota Magelang, Wulandari Wahyuningsih. Dia mengatakan ini saat mendampingi rombongan media atas undangan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) berkunjung ke Perpustakaan Kota Magelang, pekan lalu.

Maka ruang-ruang di perpustakaan juga didesain banyak untuk kepentingan anak agar sifatnya lebih bermain. “Jadi membaca buku sambil bermain. Dengan begitu anak tidak lagi takut dengan buku,” ujar Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Magelang, Sri Rohmiati. Pihaknya terus mencari cara guna menarik masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda, gemar ke perpustakaan.

Jendela Ilmu

Memang dengan adanya ruang-ruang khusus, anak-anak tidak takut dengan perpustakaan. Salah satunya, pelajar TK Pertiwi Az-Zahra, Aprilia Fatimah. Meskipun baru kelas nol besar, Aprilia sudah bisa membaca buku dengan lancar saat “dites” Koran Jakarta. Buku yang dibaca berjudul Putri Kencana dan Pangeran Katak.

Dia selalu didampingi ibunya, Yanti, bila ke perpustakaan. “Kalau libur sering ke perpustakaan. Perpustakaan itu jendela ilmu,” kata Yanti. Ini jelas pandangan yang bagus sekali, walau Yanti adalah ibu yang tampak sederhana. Namun dia sudah mulai sadar pentingnya anak mencintai buku karena dari situlah ilmu bisa didulang. Perpustakaan adalah tempat mendulang ilmu.

Para staf perpustakaan juga tampak antusias menjelaskan bagaimana pihaknya terus berusaha memperkenalkan buku kepada generasi sedini mungkin. Di antaranya, dengan program wisata buku. Banyak sekolah datang ke perpustakaan. “Kami mengenalkan fasilitas perpustakaan kepada para siswa,” ujar Sri Rohmiati. Program wisata buku cukup laku. Banyak sekolah antre berkunjung ke perpustakaan.

Saat ini Perpustakaan Kota Magelang mengoleksi 49.000 buku fiksi dan nonfiksi dengan 32.000 anggota. Perpustakaan juga menyelenggarakan pelatihan komputer dan brail. “Di sini sudah ada buku brail juga,” tandas Wulandari. Ada juga layangan dongeng agar anak-anak nyaman dan senang, sehingga datang lagi ke perpustakaan.

Rata-rata pengunjung tiap hari mencapai sekitar 150 orang. Pelajar SMA juga banyak yang berkunjung. Seperti Vivi kelas 11 dari SMA 3. Kemudian Desti kelas 11 SMA 1, dan Nelly kelas 11 dari SMA 4. “Kami biasa membaca majalah pengetahuan atau buku yang ditugaskan dari sekolah,” kata Vivi mewakili teman-temannya. Mereka datang dua kali dalam sepekan. Tugas yang biasa harus ke perpustakaan adalah pelajaran Bahasa Indonesia, Ekonomi, dan Sejarah.

Ada juga majalah-majalah berbahasa Jawa, tapi tidak banyak karena pada gulung tikar. Salah satu majalah yang masih eksis adalah Joko Lodang. Buku-buku berbahasa Jawa juga semakin langka, padahal banyak yang mencari. wid/R-1

Fokus Pertumbuhan Anak

Anak-anak Indonesia harus dijaga pertumbuhannya karena di tangan merekalah bangsa dan negara bakal dipercayakan. Maka tidak salah bila pemerintah melalui KPPPA terus berusaha keras memantau tumbuh kembang mereka.

Untuk itu, KPPPA mencoba menengok langsung praktik tersebut di lapangan. Salah satunya di Kota Magelang, Jawa Tengah. Hal ini beralasan karena Kota Magelang telah mendapat pengakuan dari KPPPA sebagai Kota Layak Anak (KLA) kategori Nindya pada 2016 untuk keempat kalinya. Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito menargetkan meraih penghargaan untuk kategori utama.

Maka banyak tempat umum seperti Puskesmas, sekolah-sekolah, sampai pasar-pasar terus didorong untuk ramah anak. Di tempat-tempat itu telah disediakan ruang-ruang bermain anak-anak.

Malahan di Posyandu Shinta Sari Kelurahan Wates, Kecamatan Magelang Utara, menurut Wulandari Wahyuningsih, anak-anak juga diajarkan menabung. Ini adalah program Balita Belajar Menabung (Balitung).

Uang disimpan dalam celengan yang sudah dinamai sesuai nama bocah. Uang baru bisa diambil lima tahun kemudian. Anak-anak juga bagaimana memilah sampah daur ulang untuk ditampung di Posyandu lalu dijual. Uangnya untuk membeli bahan tambahan gizi balita. wid/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment