Koran Jakarta | January 19 2019
No Comments
Healthy Living Index 2018

Mengukur Aktivitas Hidup Sehat Orang Indonesia

Mengukur Aktivitas Hidup Sehat Orang Indonesia

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kesehatan merupakan salah satu isu yang paling sering dibicarakan karena berhubungan langsung dengan kehidupan seseorang. AIA melalui Healthy Living Index 2018 mengungkapkan tingkat kepuasan masyarakat di Asia Pasifik terhadap kesehatan menurun, dari 84 persen pada 2016 menjadi 81 persen pada 2018. Namun, gaya kehidupan masyarakat di Asia Pasifik meningkat dari 4,7 pada 2016 menjadi 5,0 di 2018.

Di Indonesia, dari hasil riset ditemukan 96 persen orang Indonesia merasa puas dengan kesehatannya. Ini meningkat sebanyak 3 persen dibandingkan 2016 sehingga menempatkan Indonesia di peringkat 11 dari 16 negara Asia Pasifik. Di samping meningkatnya kepuasan masyarakat Indonesia akan kesehatan mereka, itu berbanding terbalik dengan gaya hidup yang mereka jalankan.

Aktivitas hidup sehat yang dilakukan selama empat minggu terakhir, menurun dari 4,0 pada 2016 menjadi 3,6 dan menjadi yang terendah di antara negara Asia Pasifik lainnya.

Dari survei tersebut juga ditemukan bahwa dalam pemilihan biaya kesehatan orang Indonesia, 50 persen di antaranya digunakan untuk membeli makanan sehat, 33 persen guna melakukan medical check-up dan 5 persen barulah digunakan untuk berolahraga. Angka tersebut didapatkan karena pandangan orang Indonesia terhadap makanan sehat mulai berubah. Jika di 2016 mayoritas menjawab makanan sehat adalah makanan yang mahal, kini bergeser dengan makanan tersebut tidaklah demikian mahal.

“Sekarang makanan sehat lebih gampang didapatkan dibandingkan dahulu. 73 persen koresponden menjawab makanan sehat itu murah dan 78 persen menganggap makanan sehat itu mudah didapatkan,” tutur Kathryn Monika Parapak, Head of Brand and Communication, PT AIA Financial.

Selain itu, adapun alasan-alasan lainnya selain mudah didapatkan, seperti makanan sehat terlihat lebih menarik, memiliki lebih banyak energi, mengurangi risiko penyakit kritis, hidup lebih lama dan mengurangi risiko penyakit umum semisalnya flu.

Survei tersebut dilakukan di 16 negara dengan 11 ribu responden yang berusia di atas 18 tahun. Kathryn mengharapkan dengan survei yang dilakukan ini dapat memberikan pandangan untuk lebih memahami perilaku masyarakat terhadap kesehatan. “Survei ini kami lakukan di Asia Pasifik untuk mengetahui pandangan masyarakat mengenai kesehatan dan harapan mereka untuk hidup yang lebih baik,” katanya.  gma/R-1

Obesitas Terus Meningkat

Meskipun angka kepuasan orang Indonesia terhadap kesehatan meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, angka aktivitas hidup sehat mengalami penurunan. Selaras dengan hal itu, angka obesitas juga mengalami peningkatan. Dari pemantauan status gizi orang di atas 18 tahun, 40,4 persen orang mengalami kelebihan berat badan.

Sementara Riskesdas 2018 juga mengatakan hal yang sama, bahwa 21,8 persen orang Indonesia kelebihan berat badan. Angka ini naik 7 persen dibandingkan hasil Riskesdas 2013. “Ini artinya satu per tiga wanita Indonesia kelebihan berat badan dan satu per lima untuk lakilaki,” tutur dr. Raissa E. Djuanda, M. Gizi, Sp. GK.

Ia mengatakan bahwa jika seseorang mengalami kelebihan berat badan dapat berdampak pada obesitas yang merupakan awal dari penyakit kronik, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol, asam urat, penyakit jantung dan lainnya.

Maka dari itu, ia menyarankan masyarakat untuk mulai memantau berat badannya secara rutin dan beraktivitas fisik yang aktif disertai dengan pola makan yang sehat. Ada banyak alasan mengapa orang Indonesia berhenti melakukan olah raga, yaitu karena membutuhkan banyak usaha, lebih memilih melakukan hal lain, tidak bisa dilakukan di rumah, membutuhkan waktu untuk keluar rumah dan dianggap tidak efektif.

Bahkan dari survei AIA Healthy Living Index 2018 ditemukan bahwa 90 persen orang Indonesia menganggap olah raga membutuhkan banyak waktu dan 10 persen sisanya mengatakan olah raga memerlukan biaya yang cukup banyak. Padahal sebenarnya olah raga dapat dilakukan di mana pun, tidak hanya di pusat kebugaran atau sarana olah raga lainnya. Asalkan rutin dilakukan dan menjadikannya gaya hidup.

“Olahraga saat ini begitu mudah dilakukan. Berbagai sarana olah raga bermunculan tidak hanya di kota besar. Akses informasi yang luas juga memudahkan masyarakat untuk mencari berbagai informasi seputar olah raga sehingga olah raga di rumah pun dapat menjadi efektif,” ujar Laila Munaf, instruktur zumba dan owner Sana Studio.

Yang terpenting, menurutnya, adalah keinginan dan kesadaran untuk hidup sehat dengan aktif dan rutin berolahraga. “Dengan hidup sehat, kita dapat menikmati hidup yang berkualitas,” tambahnya.  gma/R-1

Pantau Berat Badan Secara Rutin

Selain dari olah raga dan melakukan aktivitas fisik, memantau berat badan juga harus dilakukan guna mengontrol agar berat tidak berlebih. Raissa menyarankan untuk menimbang berat badan paling tidak seminggu sekali. “Cukup seminggu sekali, jangan setiap hari karena nanti malah stres,” katanya.

Ia menambahkan waktu terbaik saat menimbang berat badan adalah di pagi hari saat bangun tidur, setelah buang air kecil. Itu karena biasanya kantung kemih yang penuh bisa menyebabkan pertambahan berat badan hingga 0,5 kilogram. Alasan lain melakukannya di pagi hari agar memiliki waktu yang sama dan konsisten dalam penimbangan. Terlebih, berat badan seseorang umumnya berubah-ubah setiap waktunya, semisalnya di pagi, siang ataupun malam hari.

Tak hanya itu saja, berat massa air, lemak, otot dan dalam tubuh juga perlu diketahui. Dikarenakan banyak yang terjadi pada orang yang berolahraga rutin ke pusat kebugaran, alih-alih mengalami penurunan berat badan malah terjadi peningkatan.

“Tapi ternyata bukan diakibatkan dari lemak, melainkan dari otot-otot baru yang terbentuk,” ujar Raissa.

Meskipun tidak dapat melakukan pengukuran berat massa air, lemak dan otot secara manual atau di rumah, dokter dari RS Pondok Indah Puri Indah ini mengatakan paling gampang dapat dilakukan dengan cara mengukur lingkar pinggang. Jika ternyata seseorang memiliki perut yang buncit itu artinya ia berisiko akan penyakit tidak menular. Karena perut buncit menandakan lemak yang menumpuk di bagian organ perut.

“Apalagi pada orang yang meminum alkohol, itu akan lebih cepat buncit. Karena alkohol itu mengandung kalori yang tinggi, serta gula yang ada pada alkohol juga sangat sulit dicerna oleh tubuh,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa makan-makanan yang berlebih dapat mengakibatkan perut buncit.  gma/R-1

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment