Mengkhawatirkan Ekspor Turun | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 30 2020
No Comments

Mengkhawatirkan Ekspor Turun

Mengkhawatirkan Ekspor Turun

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada April 2020 mengalami de sit sebesar 0,35 miliar dollar AS. Ini disebabkan oleh nilai ekspor yang lebih rendah daripada nilai impor pada bulan April 2020, yaitu 12,92 miliar dollar AS untuk ekspor sementara nilai impor sebesar 12,54 miliar dollar AS. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia periode Januari– April 2020 mencapai 53,95 miliar dollar AS atau naik 0,44 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.

Demikian juga ekspor kumulatif nonmigas mencapai 51,07 miliar dollar AS atau meningkat 3,19 persen. Dari sisi volume, ekspor Indonesia April 2020 menurun 16,36 persen dibanding Maret 2020 yang disebabkan penurunan volume ekspor nonmigas 16,84 persen dan migas 4,27 persen. Dibandingkan dengan April 2019, volume total ekspor menurun 13,70 persen, dengan nonmigas turun 14,98 persen, sedangkan migas naik 28,92 persen.

Volume ekspor minyak dan gas (migas) April 2020 terhadap Maret 2020 untuk minyak mentah dan gas turun masingmasing 100,00 persen dan 3,11 persen, sedangkan hasil minyak naik 26,40 persen. Penurunan ekspor April 2020 dibanding Maret 2020 disebabkan oleh menurunnya ekspor nonmigas 13,66 persen, yaitu dari 13.414,6 juta miliar dollar AS menjadi 11.582,8 juta miliar dollar AS, demikian juga ekspor migas turun 6,55 persen dari 653,3 juta miliar dollar AS menjadi 610,5 juta miliar dollar AS.

Menurut BPS, penurunan ekspor migas disebabkan oleh menurunnya ekspor hasil minyak 1,81 persen menjadi 97,0 juta miliar dollar AS dan ekspor minyak mentah turun 100,00 persen karena tidak ada ekspor, sedangkan ekspor gas naik 2,15 persen menjadi 513,5 juta miliar dollar AS. Komoditas lainnya yang juga menurun nilai ekspornya adalah kendaraan dan bagiannya 373,4 juta dollar AS (56,92 persen); lemak dan minyak hewan/nabati 156,7 juta dollar AS (9,69 persen); pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan) 136,2 juta dollar AS (38,67 persen); serta mesin dan peralatan mekanis 132,5 juta dollar AS (27,07 persen).

Sementara komoditas yang meningkat selain logam mulia, perhiasan/permata adalah pulp dari kayu 50,9 juta dollar AS (30,00 persen); plastik dan barang dari plastik 40,6 juta dollar AS (18,87 persen); berbagai makanan olahan 21,9 juta dollar AS (22,81 persen); serta olahan dari tepung 20,6 juta dollar AS (25,78 persen). Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, penurunan ekspor April 2020 masih kecil, yaitu hanya 13,3 persen atau 12,19 miliar dollar AS.

Boleh jadi, penurunan ini karena negara tujuan ekspor membatasi pergerakan komoditas karena pandemi Covid-19. Selain itu, kegiatan ekspor menurun karena produksi di dalam negeri juga berkurang akibat pandemi Covid-19. Soalnya kemudian, April 2020 merupakan bulan pertama Indonesia mengalami de sit perdagangan. Artinya, jika faktornya adalah Covid-19, bulan-bulan berikutnya tak menutup kemungkinan neraca dagang bakal de sit lagi.

Jika itu yang terjadi, berarti ekspor kembali turun. Besarannya bisa lebih banyak sebab negara-negara tujuan ekspor kian masih memperketat wilayah dan kegiatan produksi dalam negeri anjlok. Tanda-tanda mengarah ke penurunan ekspor pada bulan berikutnya sudah terlihat dari menurunnya kapasitas produksi nasional. Ini terjadi karena wabah korona kian meluas, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan berkurangnya permintaan (demand).

Upaya meningkatkan ekspor agaknya mesti digeser ke komoditas lain. Mengandalkan migas agak sulit karena semua negara juga mengalami hal yang sama, apalagi harga minyak mentah sedang turun, bahkan minus. Pemerintah juga perlu mengundang investasi langsung asing di sektor sekunder seperti pengolahan nonmigas sehingga sektor tersebut dapat bergairah kembali.

Pemerintah juga dapat mendorong ekspor produk yang bernilai tambah tinggi dan mempunyai rantai produksi panjang, yaitu produkproduk yang berteknologi tinggi. Ekspor yang disasar juga bukan lagi ke negara-negara berkembang di Asia, melainkan ke negara-negara maju. Ini hanya soal keberanian memutuskan tingkatkan ekspor dengan cara yang luar biasa.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment