Menghapus Sekat Disabilitas dan Non Disabilitas | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 30 2020
No Comments
Pandulisane

Menghapus Sekat Disabilitas dan Non Disabilitas

Menghapus Sekat Disabilitas dan Non Disabilitas

Foto : ist
A   A   A   Pengaturan Font

Adakalanya, kalangan disabilitas belum sepenuhnya diterima masyarakat. Perbedaan kondisi sik maupun mental kerapkali ditanggapi sebagai pemisahnya. Komunitas Pandulisane berupaya memberikan wadah untuk kalangan disabilitas dan non disabilitas saling bersosialisasi untuk memecah “tembok” diantara keduanya.

Upaya tersebut tidak lain lantaran masih banyak kalangan disabilitas yang mendapatkan tanggapan gamang dari masyarakat. Padahal, mereka tak ubahnya manusia pada umumnya yang memiliki cipta, rasa dan karya. Wadah sebagai ruang bersosialisasi dianggap mampu memecah “tembok” antara penyandang disabilitas dan non disabilitas. Pandulisane menjembatani pertemuan antara kalangan disabilitas dan non disabilitas. Untuk penyandang disabilitas, mereka mengutamakan kalangan disabilitas tuli, netra dan daksa.

“Kita kasih ruang inklusif teman disabilitas dan non disabilitas berinteraksi,” ujar Arya Adhi Nugraha Lazuardi, Ketua Komunitas Panduliane yang dihubungi, Selasa (31/3). Dia beranggapan ruang interaksi ini penting untuk memecah jurang antara kalangan disabilitas dan non disabilitas. “Karena di luar sana, banyak masyarakat yang takut untuk berinteraksi dengan teman disabilitas,” ujar dia.

Komunitas menjembatani supaya sosialisasi para disabilitas dan non disabilitas menjadi lebih cair. Dengan harapan, ada kepedulian terhadap kalangan disabilitas. Kegiatan ngobrol-ngobrol santai merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memecah “jurang pemisah” tersebut.

Mereka bisa saling mengenal satu dengan yang lainnya dalam obrolan ringan. Kegiatan lainnya berupa marketibility. Kegiatan ini berupa bazar yang diikuti para disabilitas maupun non disabilitas.

Mereka banyak menjajakan aneka makanan minuman serta handicraft. Kegiatan marketibility yang diadakan pada Februari lalu mampu melampaui ekspektasi.

Selama kegiatan, komunitas melakukan random interview untuk mengetahui animo peserta. Ternyata, mereka datang ke bazar untuk mendapatkan perspektif dan pengalaman baru bersosialisasi dengan para penyandang disabilitas maupun non disabilitas.

Alhasil dari random interview tersebut dapat menjadi tolak ukur bahwa baik dari kalangan disabilitas maupun non disabilitas memiliki keinginan untuk bersosialisasi bersama-sama. Upaya lain untuk mencairkan antara disabilitas dan non disabilitas dilakukan dengan kegiatan Speak Disability Academy.

Kegiatan tersebut merupakan pembelajaran untuk kalangan disabilitas terkait berbagai ketrampilan. Supaya, para disabilitas yang “semakin sejajar” dengan non disabilitas. Seperti dalam kegiatan marketibility yang digelar ada Februari, pembaca acara dalam kegiatan tersebut merupakan disabilitas netra. Setahun sebelumnya, Pandulisane melakukan kegiatan serupa untuk kalangan tuli.

Mereka membuka kelas bahasa isyarat dasar. Dalam kegiatan tersebut, mereka banyak berkolaborasi dengan komunitas maupun organisasi. Sedangkan untuk pertengahan sampai akhir tahun nanti, mereka akan membuka kelas yang ditujukan untuk Tuna Daksa dengan memberikan edukasi digital marketing. Pandulisane merupakan komunitas yang didirikan Pandu Wicaksono pada Mei 2018.

Namun, komunitas yang berawal sebagai kelas inkubasi baru mulai aktif berkegiatan pada Februari 2019. Dalam setiap kegiatannya, komunitas berupaya menjembatani kalangan disabilitas dan non disabilitas untuk saling berinteraksi sehingga mampu merobohkan “tembok” perbedaan yang selama ini kerap muncul di masyarakat. 

Bertanya Dahulu sebelum Membantu

Para disabilitas yang memiliki kondisi terbatas kerap mengundang rasa iba. Berbagai pertolongan pun ditawarkan sekadar untuk membantu memudahkan mobilisasi. Namun maksud hati tersebut tidak selalu berbanding lurus, pertolongan yang diberikan kerapkali malah merepotkan gerak para penyandang disabilitas.

Hal tersebut lantaran, banyak kalangan yang belum memahami cara memberikan pertolongan yang tepat. Pertolongan yang tepat tersebutlah yang masih kurang dipahami masyarakat. Karena memberikan pertolongan pada penyandang disabilitas tidak sekedar membantu mobilisasinya namun yang lebih penting memahami keteratasannya. Jika tidak tepat, mereka malah bisa cedera atau kurang nyaman. Arya Adhi Nugraha Lazuardi, Ketua Komunitas Pandulisane mengatakan sebelum memberikan pertolongan ada baiknya untuk menanyakan terlebih dahulu pada yang bersangkutan.

“Pandulisane menegaskan hal pertama adalah menanyakan,” ujarnya.

Seperti pada penyandang tuna netra, penyandang yang kerap membawa tongkat untuk membantu mobilitasnya sering mendapatkan bentuk pertolongan yang tidak tepat. Karena, orang yang akan membantu berjalan tidak menanyakan terlebih dahulu bentuk pertolongan yang sesuai. Adakalanya, orang yang ingin menolong langsung menarik tongkat untuk memudahkan berjalan.

“Padahal semestinya, penyandang tuna netra memegang bahu atau tangan pada orang yang menolongnya,” ujar dia. 

Keterbukaan untuk Pemahaman Positif

Keterbukaan menjadi kunci interaksi antara disabilitas dan non disabilitas. Cara tersebut mampu menjembatani hubungan antara keduanya yang memiliki kondisi sik maupun mental yang tidak serupa.  Adakalanya, kondisi sik yang terbatas menjadikan para disabilitas mengurung diri dan menarik diri dari kehidupan sosial. Padahal, keputusan tersebut tidaklah tepat. Karena, kondisi tersebut justru makin menjauhkan para disabilitas dari lingkungan sosial. Alhasil, mereka pun makin kesulitan untuk berinteraksi dengan masyarakat non disabilitas. Echi Pramitasari, 27, disabilitas pengguna kursi roda memilih untuk membuka diri dengan bergaul dengan masyarakat umumnya. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Mercubuana, Jakarta mengatakan bahwa dengan bergaul di masyarakat, dia bisa menepis jurang interaksi antara disabilitas dan non disabilitas. “Kalau, aku mengekspresikan diri, ketemu banyak orang saja,” ujar dia yang dihubungi, Kamis (2/4).

Upaya tersebut juga untuk mendekatkan diri dengan masyarakat pada umumnya. Pasalnya umumnya, masyarakat juga memilki ketakutan untuk berinteraksi dengan para disabilitas. Hal tersebut karena, mereka tidak tahu bagaimana berinteraksi tanpa menyinggung para disabilitas. “Dengan terbuka, ada pemahaman positif,” ujarnya yang notabene PR Pandulisane ini. Hal tersebutlah yang sempat dirasakan Rahma Anisah, 23, mahasiswa saat akan berinteraksi dengan para disabilitas. Perempuan yang merupakan non disabilitas sempat merasa ketakutan saat akan berbicara dengan para peserta Asian Para Games.

“Kalau dengan disabilitas tuli bisa ngomong, kalau dengan disabilitas netra dan kursi roda ngomongnya gimana,” ungkapnya. Ia makin terdorong untuk mengetahui kehidupan disabilitas. Bersama komunitas yang digelutinya, ia semakin menyelami kehidupan para disabilitas. Yang pada akhirnya, dia menyadari bahwa disabilitas dan non disabilitas tidak memiliki perbedaan, kecuali keterbatasan sik dan mental.

“Malah kadang, mereka lebih berprestasi, itu yang membiki kita malu,” ujar dia. Saat kegiatan marketibility semacam bazar yang diselenggarakan komunitas, dia menyadari bahwa para disabilitas dangat supportif. Bazar yang banyak diikuti para disabilitas mampu menarik pengunjung dari kalangan disabilitas juga. Bahkan, mereka rela datang jauhjauh dari Bogor maupun Parung untuk kegiatan yang berlangsung di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta.  din/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment