Koran Jakarta | September 20 2018
No Comments

Menghadapi Bencana Alam Berbasis Kearifan Lokal

Menghadapi Bencana Alam Berbasis Kearifan Lokal
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Empat Bencana Geologi

Penulis : Kartono Tjandra

Penerbit : G adjah Mada University Press

Cetakan : S eptember 2017

Tebal : 161 halaman

ISBN : 978–602- 386-251-1

 

Nusa Tenggara Barat, yang saat ini dilanda gempa bumi, merupakan salah satu dari sekian banyak daerah di Nusantara yang dimanjakan dengan kesuburan tanah, keindahan panorama, dan kekayaan sumber daya alam. Akan tetapi, di balik itu terkandung bahaya dan ancaman bencana geologi. Anugerah keindahan, kesuburan, dan kekayaan tersebut terletak pada jalur cincin api dunia yang dikenal dengan istilah ring of fire. Dia merupakan jalur tumbuh dan berkembangnya gunung api yang serta merta berhimpitan dengan jalur gempa bumi teraktif di dunia.

Indonesia diapit tiga lempeng besar benua. Sebelah selatan oleh Lempeng Indo-Australia yang bergerak relatif ke utara. Sebelah utara oleh Lempeng Eurasia yang bergerak ke arah tenggara, dan sebelah timur oleh Lempeng Pasifik dan Lempeng Kecil Filipina yang bergerak ke arah barat (hlm 3).

Zona pertemuan 3 lempeng tersebut terletak di sepanjang pantai barat Pulau Sumatera, pantai selatan Pulau Jawa, Bali, NTB dan NTT. Kemudian, berbelok ke utara menuju Papua, Laut Banda, Maluku, hingga Sulawesi Utara. “Jalur ini merupakan penyebab gempa bumi di mana hampir 90 persen gempa bumi dunia lahir dari jalur ini dan 80 persen di antaranya berkekuatan sedang,” (hlm 6).

Di sepanjang jalur tersebut, Indonesia memiliki 129 gunung api aktif yang setiap saat dapat meletus dan menyebabkan gempa bumi tektonik yang sangat berkemungkinan diikuti tsunami dahsyat. Selain jalur tumbukan lempeng tektonik, Indonesia memiliki sumber gempa lainnya, beberapa patahan aktif antara lain Sesar Semangko di Sumatera yang membentang dari Aceh hingga Lampung.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Purwo Nugroho, mengatakan saat ini ada 148,4 juta penduduk yang terpapar bencana gempa bumi. Jumlah tersebut 2 kali lipat dari total penduduk Thailand. Mereka tinggal di daerah yang rawan gempa bumi. Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rawan bencana alam di dunia. Data resmi BNPB menyebutkan, sepanjang tahun 2014 terjadi 1.559 bencana.

Bencana geologi sulit, bahkan tidak mungkin dicegah. Yang dapat dilakukan memperkirakan potensi bencana dengan kajian ilmiah di lapangan dibantu peralatan, analisis laboratorium, serta sejarah bencana. Daerah bencana mempunyai karakteristik geografi, geologi, dan sosial budaya tertentu. Maka, mitigasi bencana selalu disesuaikan dengan karakter tersebut. Keterlibatan masyarakat dan peran kearifan lokal sangat penting disertakan dalam usaha mitigasi bencana. Dengan partisipasi tokoh dan masyarakat awam, sosialisasi peringatan dini bencana diharapkan dapat optimal. Selain itu, metode mitigasi berbasis kearifan lokal diharapkan dapat menarik minat masyarakat setempat untuk ikut berperan aktif dalam mitigasi (hlm 21).

Bencana alam oleh sebagian masyarakat kadang dikaitkan dengan mitos dan legenda yang kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akal sehat. Seiring dengan kemajuan tingkat pendidikan masyarakat, mitos dan legenda tersebut semakin menghilang. Buku ini disusun berdasarkan berbagai acuan pustaka dan pengalaman lapangan untuk memberi gambaran dan pengertian secara umum tentang bencana dan usaha mitigasinya. Dengan begitu masyarakat luas dapat memahami dan mematuhi aturan tata ruang dengan taat dan benar, sehingga terjadi keharmonisan antara manusia dan alam. 

 

Diresensi Redy Ismanto, Alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya

 

 

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment