Koran Jakarta | November 22 2019
No Comments

Mengenal Sejarah Kota Kecil Blitar dari Masa ke Masa

Mengenal Sejarah Kota Kecil Blitar dari Masa ke Masa

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Napak Tilas Jejak-jejak Kaki Wong Blitar
Penerbit : Perpustakaan Nasional
Cetakan : 2018
Tebal : xxx+330 halaman

Blitar memiliki perjalanan seja­rah ke swatantraan yang cukup menarik untuk dicermati. Ini mulai dari zaman kerajaan, penjaja­han, kemerdekaan, kini, hingga nanti. Perlu digarisbawahi, pada zaman kerajaan, nenek moyang masyara­kat Blitar memiliki andil besar dalam menyelamatkan Raden Wijaya, Raja pertama Majapahit, dari kejaran pa­sukan Kediri. Sehingga setelah wafat, abu jenazahnya disimpan di Candi Simping Sumberjati, Kademangan, Blitar Selatan.

Peletakan ini dilakukan penerus­nya, Sri Jaya Negara. Ini dapat dimung­kinkan karena wasiat Raden Wijaya sendiri atau karena Sri Jaya Negara memiliki ikatan batin dengan warga Blitar ketika meninggalkan Majapahit dalam menghindari pemberontakan Semi dan Kuti. Ini sekaligus mengu­kuhkan Blitar sebagai daerah Swatan­tra, dalam sebuah prasasti tertanggal 5 Agustus 1324 (hlm 97).

Selain persemayaman abu Raden Wijaya, potret bahwa Blitar harus men­jadi Bhumi Laya Ika Tantra Adi Raja (bila dicermati kemudian diringkas maka terbentuklah kata BLITAR) atau “bumi pusara raja-raja besar yang merdeka.” Terbukti dengan pendirian bangunan Candi Penataran untuk pemujaan arwah nenek moyang yang didewakan sebahai bathara I palah.

Kemudian, dibangunnya Candi Sawentar sebagai tempat pendarmaan Anusapati dan disemayamkannya abu jenazah Mapanji Seminingrat atau Ranggawuni yang bergelar Sri Rajasa Wisnuwardana Amurwabhumi di Candi Waleri. Puncaknya, dimakam­kan jenazah pendiri Negara Republik Indonesia, Bung Karno. Dulu disebut “Taman Bahagia” di Desa Bendogerit, Kota Blitar (hlm 22).

Berlanjut pada masa penjajahan, baik Belanda, Jepang, maupun era pergerakan Nasional. Yang perlu diperhatikan terkait keswatantraan Blitar, Belanda yang berkedudukan di Blitar ingin terlepas dari pemerin­tahan kabupaten. Hal ini didorong ke­pentingan Belanda sendiri agar segala sesuatu yang menyangkut keberadaan etnis Belanda tidak di bawah kendali Bupati yang dipegang pribumi.

Maka dibentuklah satu wilayah Gemeente atau pemerintah kota yang dipimpin seorang etnis Belanda (Burgemeester) atau wali kota. Hal ini tertuang dalam Staadsblaad van Nederlandsche Indie No 150 Tahun 1906 tertanggal 1 April 1906 untuk 18 Gemeente termasuk Gemeente Blitar. Momentum inilah menjadi awal ter­bentuknya pemerintahan kota hingga sekarang (hlm 111).

Pada masa penjajahan Jepang, tak asing lagi di telinga masyarakat tentang cerita pemberontakan PETA Blitar yang di pimpin Supriyadi pada 14 Februari 1945. Kemudian untuk mengenang peristiwa tersebut diban­gunlah monumen PETA di depan Taman Makam Pahlawan.

Dalam rangka mempertahankan kemerdekaan, saat agresi militer Be­landa baik I mapupun II, masyarakat Blitar turut berperan aktif. Ini dibukti­kan dengan adanya pergerakan mem­bumihanguskan pabrik gula Kenongo di Wlingi, pagrik gula di Garum, pabrik serat nanas di Bendorejo-Ponggok, Balai Kota, SGL, Gedung Kesenian, as­rama TRIP di Pakunden, dan SR (hlm 185). Langkah itu diambil agar tidak dapat dimanfaatkan Belanda.

Kini, Blitar kuat dengan pariwisa­tanya. Objek-objek pariwisata dan cagar budaya telah menjamur. Di an­taranya, Istana Gebang, Makam Bung Karno, dan Monumen Pemberontakan PETA. Namun, “Wong Blitar” masih menyimpan banyak cerita dan peris­tiwa seperti akal Pak Moedjair yang telah dapat mengembangkan ikan laut menjadi ikan air tawar yang dikenal dengan nama ikan Mujair.

Kemudian, Pak Turut dapat me­miliki keterampilan ketok magic yang sekarang menjaur di seluruh penjuru Nusantara. Sudahkan “Wong Blitar” lewat pemerintahannya memberi penghargaan? Atau cerita-cerita konyol seperti “Kasboneden” (Kasman Kebone Hotel van Ridjen). Kemudi­an, primadonanya sociteit atau kamar bola, siapa yang mau menulisnya? (hlm 213).

Diresensi Rosy Nursita Anggraini, Mahasiswi Pascasarjana Unbraw

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment