Koran Jakarta | October 23 2018
No Comments

Mengedukasi Anak agar Tak Kecanduan “Gadget”

Mengedukasi Anak agar Tak Kecanduan “Gadget”
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Digital Parent Think

Penulis : Mona Ratuliu

Penerbit : Noura

Cetakan : Juli 2018

Tebal : 199 halaman

ISBN : 978–602- 385-513-1

 

 

Menurut survei WeAreSocial, Januari 2017, orang Indonesia menggunakan waktunya sekitar 4–9 jam untuk melihat gadget. Alasannya simpel. Gadget peranti yang bisa mewujudkan hasrat ingin tahu, dikerjakan, dan diperoleh. Walau banyak positif penggunaan gawai, buku-buku psikologis dan parenting lebih banyak menuduh gawai sebagai negatif. Sebab, teknologi tersebut menyebabkan anak kecanduan dan dipengaruhi beragam konten negatif.

Anak mudah kecanduan gadget karena teknologinya memiliki varian konten atraktif, tampilan memukau, dan menantang. Lewat gadget, anak bisa bermain aneka game, mendengar musik, menonton tayangan YouTube, dan berselancar di media sosial. Mereka juga bisa chatting dengan beragam teman. Beragam konten menarik ini tidak sepenuhnya baik, bahkan cenderung buruk (hlm 29).

Buku ini menjabarkan delapan efek negatif gadget terhadap perkembangan motorik, fisik, moral, sosial, bahasa, neurologi, dan kognitif. Pada ranah kognitif, anak yang kecanduan gadget akan mengidap popcorn brain. “Popcorn brain menggambarkan otak yang seakan meletup-letup karena terbiasa dengan layar perangkat digital yang selalu merespons stimulus. Pada kondisi ini, anak jadi tidak bisa merespons stimulus sehari-hari yang diberikan,” kata Mona Ratuliu, penulis buku ini (hlm 40).

Anak yang mengidap popcorn brain akan merespons datar saat diajak bermain di alam terbuka. Permainan lain membosankan. Masalah serius lain yang ditimbulkan, lemahnya kemampuan anak mengendalikan emosi. Pengidap popcorn brain tidak segera diberi stimulasi kuat, akan jenuh dan kesal.

Penulis merasakan pengalaman buruk tatkala anaknya yang masih baru 13 tahun kecanduan gadget. Awalnya, dia tidak menyangka sulungnya tersebut mengalami peristiwa “tragis” dari gadget. Teman-temannya juga punya. Dia bisa untuk mengerjakan tugas sekolah, menyalurkan bakat, menenun kreativitas, dan mencari referensi penting lainnya. Mona sama sekali tidak menyadari, ketidaksiapan mental dan pikiran anaknya berhadapan dengan selaksa konten gadget adalah racun berbisa.

Anaknya mulai jarang bergaul dan susah diajak berbicara. Dia mengonsumsi beragam konten “dewasa.” Mona pernah dipanggil ke kantor sekolah untuk membicarakan elemen porno yang dikirim anaknya. Artis ini berang bukan main ketika anaknya mengajak teman-teman dunia mayanya yang sebagian berusia jauh lebih tua dan tak diketahui identitas mereka mau bermalam.

Mona jelas tidak memberi izin. Anaknya terkejut, marah, dan sepekan tak mau diajak bicara. Puncaknya, gadget itu diambil diganti dengan HP biasa. Lebih sebulan anak sulungnya itu ngambek (hlm 76).

Servis gadget yang serba-instan akan menanamkan dalam diri anak karakter terburu-buru, tidak sabar, ingin serbamudah, serta enggan melewati proses pemecahan persoalan. Siklus kecanduan akan memudar jika selama lima pekan anak sama sekali tidak bersentuhan dengan gadget.

Mona tampaknya cenderung menganggap anak di bawah usia 13 tahun tidak memegang gadget. Jika ingin menggunakan, sebaiknya meminjam orang tua. Dengan demikian, orang tua juga efektif mengawasi. Ayah ibu juga harus mengerti banyak tentang gadget agar bisa menjelaskan lebih dini bahaya dan mendesainnya sebagai media positif dalam keluarga. Buatlah aturan penggunaan gadget.

Buku ini memang terasa energi validitasnya karena berangkat dari pengalaman, beragam kisah riil dari banyak orang tua yang diperkuat beragam riset. Buku ini boleh dibaca para orang tua sebagai tambahan referensi agar anak tak kecanduan gadget.


Diresensi Misnawi, Dosen IAIN Madura

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment