Koran Jakarta | October 18 2019
No Comments

Mengasah Sosialisasi Anak “Homeschooling”

Mengasah Sosialisasi Anak “Homeschooling”

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Sosialisasi selalu menjadi pertanyaan untuk anak-anak yang bersekolah secara homeschooling. Komunitas merupakan salah satu ruang interaksi di luar lingkungan keluarganya. Komunitas OASE merupakan salah satunya.

Di halaman belakang sebuah gedung coworking di bilangan Jalan Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, anak-anak tengah berkumpul. Mereka memperhatikan ibu guru yang tengah memberikan petunjuk.

Mereka duduk di atas conblok dengan alas sekedarnya. Ruang belajar yang berada di bawah pohon rindang seolah memberikan kenyaman belajar yang tidak ditemui saat belajar di ruang tertutup.

“Ini program orang tua yang membuat kegiatan dua minggu sekali,” ujar Wahyu Andito P.W, 37, Pembina Pramuka Penggalang, Komunitas OASE yang ditemui di tempat kegiatan, Rabu (2/10) siang.

Kegiatan tersebut merupakan kesepakatan antara orang tua dan anggota Komunitas OASE untuk memberikan kegiatan pada anak-anaknya setiap dua minggu sekali di hari Rabu. Kegiatan sekaligus menjadi ajang sosialisasi anak-anak yang bersekolah secara homeschooling. Dalam kegiatan yang diisi dengan pembelajaran, para anak-anak homeschooling berinteraksi, menimba pengetahuan dan tukar pengetahuan.

Kegiatan ini mensyaratan orang tua untuk berperan aktif. Baik mengantarkan anak maupun secara bergantian menjadi mentor. “Jadi nggak ada yang nitip anak,” ujar dia. Bahkan, peserta tidak boleh diantar pengasuhnya.

Selama kegiatan, anakanak tidak hanya berinteraksi dengan teman-teman seumurannya saja melainkan juga para orang tua bahkan yang lebih muda. Karena dalam kegiatan tersebut, para orang tua akan ikut berperan aktif untuk membantu anak-anak belajar, khususnya orang tua yang tengah bertugas mengajar pada saat itu.

“Sosialisasi akan mengajarkan anak untuk bersikap pada orang yang lebih tua dan bersikap pada orang yang lebih muda,” ujar laki-laki yang berprofesi sebagai wirausaha ini.

Sikap yang baik merupakan karakter yang dikembangkan di komunitas. Karena, sikap berbeda dengan ilmu yang bisa dipelajari dalam waktu yang tidak terbatas.

Sikap perlu dipupuk sedari awal yang dimulai dari lingkungan keluarga. Sikap yang kurang baik dapat menghambat masa depan anak, salah satunya ketika mereka mencari pekerjaan.

“Banyak teman yang memutuskan anak-anaknya homeschooling karena ingin memperkuat attitude anaknya,” ujar dia tentang karakter yang dikembangkan untuk menjawab tantangan jaman.

Homeschooling merupakan pendidikan berbasis keluarga. Maksudnya, kurikulum, metode, sosialisasi maupun legalitas yang akan ditempuh kembali kepada keluarga.

Lantaran berbasis keluarga, orang tua memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya. Tanggung jawab bukan sepenuhnya, karena kalau orang tua tidak mampu mentransfer pengetahuan yang diperlukan anak, mereka dapat membantu anak mendapatkan pengetahuan melalui online, klub-klub kegiatan maupun lembaga pembelajaran.

Untuk legalitas, para orang tua dapat mengikutsertakan anak-anak mengikuti kerja paket sesuai jenjangnya. Namun dalam homeschooling, legalitas bukan suatu kewajiban sekedar kebutuhan.

Pasalnya, banyak bidang-bidang kerja yang tidak membutuhkan legalitas amun potofolio alias hasil karya, seperti pekerja kreatif. Mereka dapat menggunakan portofolio untuk mendapatkan pekerjaan sesuai keinginan.

Komunitas yang berdiri pada 2011 memiliki kegiatan yang dinamakan PRAMUKA. Kegiatan terbagi menjadi dua Siaga (usia 7 sampai 10 tahun) dan Penggalang (usia 11 sampai 15 tahun). Kegiatan dilakukan atas dasar kesepakatan dengan orang tua. Di sisi lain, komunitas juga bekerja sama dengan orang tua yang memiliki kegiatan public speaking yang diakses secara umum. Homeschooling merupakan salah satu proses pembelajaran.

Hanya saja, proses belajar ini bukan satu-satunya mengantarkan anak menuju masa depan. Semua kembali kepada orang tua dan anak. Mereka bisa memilih jenjang pendidikan melalui homeschooling maupun sekolah. din/E-6

Disiplin Menjadi Tantangan

Disiplin menjadi tantangan untuk orang tua maupun anak yang menempuh pendidikan secara homeschooling. Pasalnya, semua pembelajaran tidak ada ikatan tergantung keinginan anak maupun orang tua.

Andito membenarkan bahwa disiplin menjadi tantang para orang tua maupun siswa homeschooling. “Berdasarkan pengalaman Komunitas OASE, disiplin merupakan point besar yang perlu dimiliki keluarga (homeschooling),” ujar bapak dua anak ini.

Jika di sekolah umum, anak-anak memiliki aturan ketat mulai jam masuk sekolah hingga pulang sekolah. Namun di homeschooling, semua aturan berpulang pada orang tua maupun anak-anak yang bersangkutan. Ada keluarga yang menerapkan aturan secara ketat namun ada anak yang sudah mempunyai perencanaan proses belajarnya.

“Ada juga anak yang belajar dengan suka-suka,” ujar dia. Lantaran, proses pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai cara.

Terlepas disiplin sebagai pengaturan waktu, komunitas memandanga disiplin dari sudut pandang universal. Di sisi lain, mereka mengajak anggotanya untuk memiliki perangai disiplin yang menyenangkan.

Salah satunya dengan, penggunaan seragam di setiap kegiatan komunias. Sebagai anak homeschooling, mereka tidak pernah menggunakan seragam selama kegiatan belajarnya. Selain itu di hari-hari kebesaran, mereka melakukan upacara sebagai upaya untuk menumbuhkan kedisiplinan pada anak.

Indri Djuliati, 35, ibu enam anak termasuk beruntung lantaran ketiga anak pertamanya yang menempuh pendidikan homeschooling telah memiliki perencanaan terkait jam belajarnya.

“Saya sekedar mengingatkan,” ujar dia. Terutama untuk anak ketiganya, dia perlu lebih sering mengingatkan waktu belajar lantaran anaknya tersebut senang main game.

Anak ketiga tersebut kerap beranggapan bahwa saat dia bermain game dia tengah belajar, terutama penguasaan Bahasa Ingggris. Jika sudah begitu, Indri akan menanyakan pada anaknya tentang waktu yang dibutuhkan untuk belajar maupun bermain. “Karena pada dasarnya, saya lebih mengikuti kemauan anak,” ujar dia. din/E-6

Antara “Skill” dan Belajar yang Fleksibel

Dengan alasan supaya anak memiliki skill, proses belajar yang fleksibel hingga proses belajar yang disenangi anak menjadi sejumlah alasan orang tua menyekolahkan anak secara homeschooling. Walaupun untuk itu, mereka dituntut ikut belajar demi perkembangan pendidikan dan proses belajar buah hatinya.

Dian Risnawati, 41, memilih mengeluarkan buah hatinya, Eagan Pandu Yudhistira, 10, dari sekolah formal lantaran proses belajarnya dianggapnya masih konvensional, penuh dengan teori. “Karena menurut saya dan suami, sekolah formal tidak mewakili jaman digital seperti saat ini,” ujar dia yang ditemui disela-sela kegiatan Komunitas Oase, di Vinoti Living, dibilangan Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, Rabu (2/10).

Bagi dia dan suaminya, di masa era digital saat ini, anakanak perlu banyak diberikan keterampilan. Karena di dunia kerja nanti, mereka akan lebih banyak diminta untuk memiliki portofolio ketimbang materi pembelajaran secara teks book.

Memilih menyekolahkan anak secara homeschooling bukan berarti tantangan. Dian dan suami perlu menyisihkan waktunya untuk memberikan pembelajaran pada buah hati semata wayangannya. Di sisi lain, mereka masih disibukkan dengan pekerjaan. “Manajemen waktu buat saya masih PR banget,” ujar wanita yang bekerja sebagai Promo Graphic Design Trans 7. Jika Dian pernah menyekolahkan buah hatinya di sekolah formal, Irma Nugraha, 38 memilih homeschooling sebagai proses sekolah ketiga buah hatinya.

Wanita yang berprofesi sebagai kepala sekolah di sebuah SMA ini berpandangan sekolah pada umumnya belum sepenuhnya mewadahi kebutuhan pembelajaran anak. “Ketidakfleksibelannya terhadap anak yang berbeda,” ujar dia yang bersuamikan Dosen Ekonomi dan Bisnis di Universitas Indonesia ini. Irma berpandangan bahwa setiap anak memiliki kemampuan belajar yang berbeda sehingga tidak dapat disamaratakan. Selain itu, ia berpendapat, ilmu akan lebih baik diberikan selapis demi selapis sehingga lebih bisa dipahami. Ilmu bukanlah benda yang bisa dituangkan ke dalam wadah secara bersamaan.

Dalam memberikan pembelajaran kepada ketiga buah hatinya, ada mata pelajaran yang memiliki waktu belajar khusus, yaitu matematika, mengaji dan literasi. Ketiga mata pelajaran ini dianggap sebagai “induk” mata pelajaran lainnya.

Dia beranggapan jika sudah bisa mempelajari ketiga mata pelajaran tersebut akan lebih mudah memahami pelajaran lainnya.

Selebihnya, ibu dangan tiga anak dengan usia 16 tahun, 13 tahun dan 10 tahun memberikan pembelajaran secara alami. Maksudnya, pembelajaran dilakukan bersama dengan kegiatan keseharian. Hanya saat menjelang satu tahun sebelum ujian kejar paket, dia akan mempersiapkan buah hatinya untuk mengikuti ujian tersebut.

Indri Djuliati, 35, memilih homeschooling untuk sekolah anak-anaknya lantaran sekolah model tersebut merupakan pilihan anak-anaknya. Sebelumnya, beberapa anaknya memiliki teman yang bersekolah secara homeschooling. Maka saat suaminya pindah kerja ke Jakarta dari Bandung, anak-anaknya memilih untuk sekolah homeschooling.

Diakui ibu enam anak, homeschooling membuat orang tua untuk ikut belajar mata pelajaran yang tengah ditekuni anak. “Tantangannya, orang tua ikut belajar,” ujar dia.

Di sisi lain, ia pun tidak segan-segan meminta maaf jika ada pembelajaran yang tidak diketahui maupun keliru memberikan penjelasan. Dengan proses belajar yang sesuai dengan minat anak, Indri berharap anaknya senang dan bahagia dengan bahagia dalam mencari ilmu. din/E-6

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment