Koran Jakarta | June 18 2018
No Comments

Menganut Islam Mazhab Damai

Menganut Islam Mazhab Damai
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Islam yang Saya Anut

Penulis : M Quraish Shihab

Penerbit : Lentera Hati

Cetakan : Januari 2018

Tebal : 346 halaman

ISBN : 978 - 602-7720-74-9

Aksi penyimpangan sosial yang dilakukan sebagian umat Islam, baik secara kelompok ataupun personal belakangan viral di media dan menjadi perbincangan nasional. Aksi tersebut bisa dilakukan kepada sesama umat Islam atau penganut agama lain. Tindakan demikian sama sekali tidak bisa dibenarkan. Ia bukan semata memecah belah kesatuan bangsa, tapi juga telah menyalahi ajaran Islam itu sendiri.

Kedangkalan pemahaman atas ajaran Islam merupakan biang tindakan deviatif tersebut. Hal demikian disebabkan ditutupinya kekayaan ragam pandangan ulama oleh kelompok tertentu untuk kepentingan tertentu. Bisa juga diakibatkan pembelajaran agama yang singkat, namun dengan angkuh menyatakan diri orang paling tahu agama dan paling suci.

Buku ini menguraikan bahwa Al Quran sebagai sumber utama ajaran Islam memiliki spektrum tafsir yang kaya. Semua tafsir itu tidak bisa disalahkan selama mengacu pada pesan utama ajaran Islam, damai dan mendamaikan. Ini dimanifestasikan dengan sikap lapang dada atas realitas perbedaan, tanpa menyalahkan dan menyesatkan (hlm 100).

Di internal umat Islam sendiri, sesuai dengan kesepakatan 200 ulama dari 50 negara di Sudan tahun 2005, terdapat delapan aliran pemikiran keagamaan yang dianggap valid dan dilarang untuk disalahkan. Mereka adalah Maliki, Hanafi, Hanbali, Syafi’i, Ja’fary, Zaidiyah, Az-Zahiriyah dan al-Ibadhiyah (hlm 20). Faktanya, di Indonesia, pemikiran Ja’fary yang diakomodasi Syiah tidak mendapat tempat proporsional. Kasus pengusiran ratusan penganut Islam Syiah di Sampang menjadi tragedi tidak terlupakan. Mereka diusir dari tanah kelahiran sendiri atas vonis penyesatan ajaran yang mereka anut. Padahal jelas-jelas ulama sedunia mengesahkannya.

Imam asy-Syatibi berpendapat, setiap perbedaan dalam Islam keniscayaan, sedangkan perpecahan karena perbedaan merupakan kebodohan. Nabi Muhammad menyatakan perbedaan di kalangan umat Islam yang berilmu adalah rahmat karena dengan perbedaan tersebut ajaran Islam lebih fleksibel diterapkan sesuai dengan konteksnya. Begitu perbedaan ada di tangan umat Islam tidak terdidik, menjadi sumber perpecahan sosial.

Terhadap penganut agama yang berbeda, Islam juga memiliki sikap toleransi tinggi. Yang sering ditutup-tutupi, fakta historis akan sikap Nabi Muhammad yang biasa bekerja sama dan membangun komitmen dalam relasi sosial berbasis religius dengan penganut agama lain. Dengan umat Kristen Najran, misalnya, nabi mengikat janji untuk melindungi seperti memproteksi keluarga sendiri. “Saya berjanji melindungi dan membela mereka, gereja, tempat-tempat ibadah serta permukiman para rahib dan pendeta. Saya juga berjanji memelihara agama dan cara hidup mereka di mana pun berada. Ini sebagaimana pembelaan saya pada diri, keluarga, dan orang-orang Islam yang seagama dengan saya,” tulisnya di lembar perjanjian (hlm 50).

Nabi minta umat Islam menjaga terjaminnya kelestarian gereja sebagaimana umat Kristen juga melakukan hal serupa. Jika mereka membangun gereja lalu membutuhkan bantuan, agar kaum muslimin menyumbang untuk menyelesaikan pembanguan rumah suci tersebut.

Ketika tidak terjamin keamanan rumah ibadah satu agama – sesuai dengan pesan Alquran surat al-Haj ayat 40 - akan terjadi chaos di mana antarumat beragama akan saling merobohkan tempat ibadah. Menghina Tuhan agama lain juga dilarang, atas logika dan dalil apa pun. Sebab ini bisa melahirkan caci maki yang mendegradasi kesucian Tuhan itu sendiri. Jika tempat ibadah dihancurkan dan Tuhan dihina atas nama kebenaran agama, memang sebaiknya agama demikian tidak ada karena hanya melahirkan ajaran kontraproduktif.

Diresensi Miftahul Khoiri, Lulusan Sunan Ampel Surabaya

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment