Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments

Meneropong Perilaku “Gamer”

Meneropong Perilaku “Gamer”

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Popularitas game sebagai hiburan telah mendorong industrinya tumbuh menjadi raksasa. Perilaku para gamer telah menjadikan permainan ini bagian tak terpisahkan dari kehidupannya.

Game kini telah menjelma menjadi industri hiburan terbesar, mengalahkan film. Para pemainnya yang dulu dipersepsikan sebagai anak laki-laki yang betah berada di dalam kamar dengan perangkatnya, kini telah berkembang dan terbagi menjadi beberapa kategori.

Menurut riset Lenovo terdapat lima macam kategori gamer. Pertama gamer hardcore, gemar avid, gamer moderate, gamer casual, dan gamer casual costumizers. Industri game perlu memahami karakter dari masing-masing dengan memahami kabutuhan dan terus memperbarui layanan.

“Di antara lima grup ini, usia memainkan peran penting. Saat urusan kerja dan keluarga masuk ke aspek kehidupan, waktu tersedia untuk bermain game menjadi terbatas. Tapi hasrat untuk bermain dan keinginan untuk mendapatkan pengalaman gaming yang terbaik masih tetap ada,” ujar Costumer Insights Manager, Intelligent Devices Group, Lenovo Sandhya Nagaraj.

Gamer Hardcore adalah mereka yang sudah bermain game selama 10 tahun lebih, dan bermain game demi passion-nya. Biasanya usianya lebih muda dan fokus untuk memainkan games dengan multiplayers. Bermain game adalah prioritas utama mereka dalam mencari hiburan.

Sedangkan Gamer Avid yaitu mereka yang bermain game selama 9 tahun atau lebih. Mirip dengan hardcore, tapi avid gamer lebih sering bermain sendiri dan menikmati menonton streaming game. Mereka tidak begitu memperhatikan kualitas grafis sebagai prioritas.

Gamer Moderate yakni mereka yang sudah bermain game selama rata-rata 15 tahun. Mereka biasanya agak lebih tua dibanding dua grup sebelumnya. Mereka suka bermain game tapi tidak senang menonton online streaming.

Sementara gamer casual adalah orang yang sudah bermain game selama rata-rata 16 tahun. Mereka gemar memainkan single player game dan bermain saat ada waktu luang saja, mengingat begitu sibuk menjalankan pekerjaan.

Terakhir gamer casual costumizers adalah yang sudah bermain game selama rata-rata 24 tahun. Grup ini sudah tidak begitu sering bermain game dibanding grup lainnya, biasanya memiliki PC gaming dan masih mengerti komponen terbaru dan cara membangun atau meng-upgrade PC nya.

Namun kata Sandhya seorang gamer bisa berpindah kategori. “Saat mereka semakin dewasa dan memiliki tanggung jawab yang lebih besar, cara mereka bermain game pun berubah. Mereka bisa berubah dari hardcore gamer menjadi moderate gamer, tergantung pekerjaan atau perubahan dalam kehidupan,” kata dia.

Di antara lima grup ini, usia memainkan peran penting. Saat urusan kerja dan keluarga masuk ke aspek kehidupan, waktu tersedia untuk bermain game menjadi terbatas. Tapi hasrat untuk bermain dan keinginan untuk mendapatkan pengalaman gaming yang terbaik masih tetap ada.

Riset Lenovo menyebutkan, rata-rata, gamer menghabiskan 7.5 jam per minggu untuk bermain video game, dengan 28 persen gamer bermain lebih dari 10 jam tiap minggu.

Mereka kebanyakan bermain jenia social/casual games dan first-person shooters. “Genre mungkin berbeda tergantung wilayah, misalnya di Cina, multiplayer online games dan multiplayer online battle arena games lebih tinggi peminatnya,” lanjut Sandhya.

Sebagian besar gamer memilih untuk bermain di malam hari sebesar 69 persen dari total waktu seharian. Sementara sisanya untuk melakukan kewajiban di pagi dan siang hari. Namun sebanyak 14 persen gamer mengatakan mereka bisa bermain kapan saja mereka mau, tapi sebagian besar mengatakan bahwa pekerjaan (67 persen) dan keluarga (56 persen) kadang menjadi penghalang bagi mereka untuk bermain lebih sering.

Gamer ternyata gemar melihat orang lain bermain game. Hal ini terlihat dari live streaming di berbagai saluran seperti YouTube, Lenovo menemukan 45 persen gamer menonton video bermain game. YouTube adalah destinasi utama untuk menonton video gaming (63 persen), sementara Twitch ada di urutan kedua (44 persen), disusul platform lain seperti Ustream (33 persen), Livestream (23 persen), dan Mixer (14 persen) pada di urutan berikutnya.

Gamer ternyata tidak hanya senang menonton permainan game, mereka juga ingin menjadi kreator konten profesional. Ada sekitar 1/10 gamer yang memposting gameplay mereka di situs sharing, biasanya dibagikan ke tiga platform berbeda.

Dari 11 persen yang membagi videonya, 54 perseb membagi di YouTube, 45 persen di Twitter, dan 41 persen di Facebook. Sebanyak 57 persen dari mereka ini menciptakan channel sendiri dan 91 persen telah memonetisasi videonya. hay/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment