Koran Jakarta | December 13 2017
No Comments

Mencermati Jenis Penyakit yang Bersumber dari Hewan

Mencermati Jenis Penyakit yang Bersumber dari Hewan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Zoonosis

Penulis : Dr drh I Wayan Suardana, MSi

Penerbit : Kanisius

Tebal : xii + 288 halaman

Cetakan : 2016

ISBN : 978-979-21-4361-4

Interaksi antara manusia dan hewan terkadang tidak bisa dihindari, justru hubungan keduanya sangat dekat. Oleh karena itu, peluang penyebaran penyakit dari hewan memiliki peluang besar terjadi. Padahal, tidak sedikit penyakit menular dan mematikan di dunia tidak lepas dari peran hewan. Buku ini memuat berbagai jenis penyakit menular dari hewan ke manusia atau yang biasa disebut zoonosis.

Bagian pertama menjelaskan permulaan istilah zoonosis dan garis besar penyebarannya. Konsep One Health mengakui bahwa kesehatan manusia sangat terkait dengan kesehatan hewan dan lingkungan. Saat ini lebih dari 200 penyakit yang terjadi pada manusia dan hewan diketahui dapat saling berpindah, baik penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, maupun cacing. Para ahli memperkirakan enam dari 10 kasus infeksi yang terjadi pada manusia berasal dari hewan (halaman 1).

Bagian selanjutnya menguraikan pembagian zoonosis berdasarkan agen penyebab. Viral zoonosis menjadi pembuka bagian ini. Viral mengacu pada virus. Contoh dari golongan ini yang tidak asing di telinga adalah ebola yang sempat menjadi wabah di Afrika dan meresahkan dunia pada tahun 2014–2016 silam. Pemerintah Afrika sampai memutuskan untuk mengisolasi daerah-daerah yang penduduknya terpapar ebola. Bagaimana tidak? Separuh dari penderita mengalami kematian yang umumnya terjadi pada hari ke-6 hingga ke-9 sejak dimulainya gejala. Penyebarannya bisa sangat cepat dan secara umum penularan terjadi akibat kontak dengan cairan tubuh atau organ yang terinfeksi virus.

Penyakit yang juga sempat menggegerkan dunia, termasuk Indonesia, adalah avian influenza atau yang terkenal dengan istilah flu burung. Bukan tanpa alasan, virus ini tergolong unik karena memiliki kemampuan untuk melakukan genetic reassortment (penyatuan materi genetik) sehingga mampu menembus dinding pertahanan hewan dan manusia.

Selain itu, virus ini juga memiliki kemampuan untuk berubah setiap saat. Inilah salah satu penyebab ilmuwan mengalami kesulitan untuk memproduksi vaksin yang ideal. Manusia yang terinfeksi avian influenza bisa menunjukkan gejala ringan sampai dengan yang fatal. Menilik data dari WHO, tahun 2003–2015, Indonesia menempati peringkat kedua terbanyak di dunia dalam jumlah kasus dan peringkat pertama dari segi jumlah kematian.

Selanjutnya, ada histoplamosis yang gejala infeksinya sangat bervariasi, tetapi penyakit ini terutama memengaruhi paru-paru. Terkadang terjadi kekeliruan, penyakit ini dianggap TBC karena memiliki gejala yang mirip dan sama-sama menimbulkan rongga atau lubang pada paru-paru. Padahal, keduanya berbeda. TBC disebabkan oleh bakteri, sedangkan histoplasmosis oleh jamur. Pasien umumnya dapat bertahan beberapa tahun, namun penyakit biasanya mematikan apabila tidak ditangani (229–231).

Ada juga Q fever yang gejala klinisnya seperti demam biasa. Penyebabya adalah bakteri yang terdapat pada biri-biri, kambing dan hewan ternak. Udara yang mengandung partikel debu yang terkontaminasi merupakan media penyebaran penyakit ini. Jika terhirup, besar kemungkinan akan ikut terinfeksi. Produk susu yang belum dipasteurisasi juga termasuk dalam agen penyebaran Q fever. Tingkat mortalitasnya kurang dari 1 persen. Namun, implikasi klinis jadi mengkhawatirkan karena adanya penggunaan antibiotika secara sembarangan pada pasien demam (halaman 236–237).

Dari jenis cacing terdapat cysticerosis merupakan infeksi oleh larva cacing pita taenia. Bilamana manusia mengonsumsi daging babi yang tidak cukup dimasak yang mengandung larva ini, bagian tubuh dari larva akan menempel pada usus halus dan akan menembus dinding usus. Sering ditemukan di otak, mata, otot, dan lapisan bawah kulit. Gejala umumnya tampak beberapa tahun setelah infeksi. Jika terjadi kematian larva, akan menimbulkan reaksi peradangan yang toksik. 

Diresensi Husnul Aini, alumna Universitas Mataram

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment