Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments
Gayatri: Reinkarnasi

Mencari Logika Karma yang Tak Pernah Moksha

Mencari Logika Karma yang Tak Pernah Moksha

Foto : foto-foto: dok Sarasvati
A   A   A   Pengaturan Font

Panggung menampilkan meja kerja di mana Sha Ine Febriyanti merekam video dirinya sendiri yang sedang bercerita tentang Gayatri. Kemudian dari jauh bunyi genderang bertalu mewarnai kegelisahan. Dia menjadi Gayatri muda. Ini adalah adegan pembuka dari pementasan dengan lakon Gayatri: Reinkarnasi.

Pementasan ini mengisahkan seorang penari perempuan yang sangat mengagumi sosok Gayatri Rajapatni, salah satu istri Raden Wijaya, raja pertama Majapahit yang mengundurkan diri dari kehidupan duniawi dengan menjadi seorang pendeta Buddha.

Ia meyakini bahwa Bhiksuni itu tidak pernah sepenuhnya mati. Konsep ‘kelahiran kembali’ dalam Buddha, Punabbhava, membuatnya tertarik untuk menelusuri kesejarahan perempuan yang baginya memiliki pengaruh besar pada kemaharajaan Majapahit. Ia percaya siklus reinkarnasi selalu berkaitan dengan masa kehidupan sebelumnya.

Narasi dari cita-cita Gayatri yang kuat tentang persatuan Nusantara membuatnya berhadapan pada bayang-bayang sejarah itu sendiri; cita-cita Kertanegara, Raden Wijaya, Jayanagara, Palapa, Adhityawarman, Bubat dan keruntuhan Majapahit.Perempuan penari itu mencari Gayatri melalui logika karma, dan berusaha mempersembahkan sebentuk tarian Moksha (lenyap) untuknya.

“Pementasan kali ini berkisah tentang Gayatri, seorang perempuan yang welas asih dan mendambakan persatuan negeri melebihi apapun. Untuk mengangkat tema sejarah ke atas panggung memang hal yang rumit, apalagi kalau rentang waktu sejarah itu sudah demikian jauh dengan zaman ini. Saya berusaha menggumul iba yang bayang peristiwa dari sosok yang hidup 8 abad lalu melalui lontar-lontar kuno dan candi-candi yang semakin hari semakin tak terawat,” ungkap Ine.

Selama sekitar 60 menit, para penikmat seni mendengarkan kisah Gayatri yang disutradarai Yustiansyah Lesmana dan penata gerak Elly D Luthan.

Alunan tembang Jawa yang lebih menyerupai mantra mengalun dengan iramanya yang menghipnotis. Panggung ruang dimana pertunjukan biasa dihelat membiaskan warna temaram, mengiringi tarian Sha Ine Febriyanti saat ‘kesurupan’ Gayatri Rajapatni, sosok perempuan di balik kejayaan Majapahit.

Menurut sejarah, Gayatri adalah istri dari Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit. Tak hanya menjadi teman diskusi yang handal bagi suaminya, Gayatri juga sosok di balik kebesaran dan ketangguhan Maha Patih Gajah Mada. Bersama dengan pria-pria hebat di sekelilingnya, Gayatri juga memendam cita-cita menyatukan Nusantara yang sebenarnya adalah cita-cita luhur ayahnya, Kertanegara, yang tak lain adalah raja dari Kerajaan Singasari.

Ine merepresentasikan tokoh Gayatri dengan tarian dan ekspresi gerak yang begitu bercerita. Tidak hanya Gayatri, Ine juga memerankan tokoh peneliti sekaligus penari perempuan yang sangat terobsesi dengan sosok Gayatri.

Pada beberapa adegannya, ditampilkan Ine sebagai peneliti membaca makalah sejarah dan merekam aktivitasnya menggali informasi tentang sosok Gayatri. Sosoknya sebagai peneliti bertanya-tanya mengenai ketangguhan sejati Gayatri. Apa yang membuatnya menjadi pribadi yang begitu kuat, serta berhasilkah keinginannya menyatukan Nusantara?

Rekam adegan yang sinergi tidak membuat penonton bingung, kapan Ine menjadi sosok penulis kapan pula merupan Gayatri. Tak berapa lama saat sang peneliti sibuk berkontemplasi dengan pemikiran dan fakta baru mengenai Gayatri, Ine berubah peran menjadi sosok Gayatri sendiri. Duka dan luka saat sang ayah mati, polemik intrik kerajaan yang membuatnya jengah dan memutuskan hidup menyendiri menjadi bhiksuni diceritakan melalui tarian Ine, gerak dinamis penari pembantu dan layar yang menampilkan cuplikan peristiwa-peristiwa yang dialami Gayatri.

Sebenarnya keinginan Gayatri sendiri adalah menyatukan Nusantara dengan cara damai dan akhirnya dia sadari kalau itu adalah sebuah kemustahilan. “Seluhur-luhurnya cita-cita dia juga adalah penderitaan,” demikian penggalan monolog Ine. Karena seringkali cita-cita dapat tercapai melalui penderitaan dan kesedihan.

Pada akhirnya sejarah akan terus mengulang karmanya dan kehidupan tidak akan berhenti untuk bereinkarnasi sampai akhirnya mencapai moksa itu sendiri. pur/R-1

Rajapatni, si Lembut Penuh Kasih

Wanita adalah tiang negara. Ungkapan bijak ini seolah menjadi pegangan Gayatri Sri Rajapatni, istri Raden Wijaya, pendiri Majapahit dan ibu Ratu Tribhuwana. Bahkan bukan sekadar tiang, tapi juga sumber spirit kejayaan Majapahit. Wanita cantik, cerdas dan penuh kasih ini adalah inspirator tiap langkah Maha Patih Gajah Mada.

Gayatri Sri Rajapatni adalah anak Kertanegara raja terakhir Singasari. Putri berdarah biru kelahiran Tumapel ini berparas cantik, berpikiran cerdas dan memiliki watak penuh kasih.

Dia digambarkan mewarisi kecantikan Ken Dedes, nenek buyutnya yang memiliki kodrat nareswari, atau wanita cantik yang dapat menurunkan raja-raja. Pancaran kecantikan Gayatri digambarkan oleh Earl Drake dalam “Gayatri Rajapatni” selalu menenangkan, meneduhkan dan penuh kecerdasan.

Seperti sang nenek yang menjadi sumber inspirasi Singasari, Gayatri Rajapatni juga menjadi sumber semangat Majapahit. Perempuan yang berada di balik kejayaan Majapahit. Gayatri menjadi sosok sentral yang membawa Majapahit menjadi imperium terbesar di Nusantara.

Namun keberadaannya hampir tak tersentuh kajian historis konvensional. “Adalah watak Gayatri yang agung, sehingga mereka menjadi pemimpin yang tiada tandingan. Putri, menantu dan cucunya menjadi raja dan ratu. Dialah yang menjadikan mereka penguasa dan mengawasi semua tindak-tanduk mereka,” ungkap Earl Drake yang mengutip naskah Negarakertagama.

Gayatri memegang teguh dalam mewujudkan cita-cita luhur sang ayah. Usahanya untuk bertahan hidup di saat Singasari dikalahkan Kediri dan belajar dari ilmu yang diwariskan sang ayah, tampaknya mampu meluluhkan pangeran Wijaya, kakak iparnya.

Raden Wijaya berjanji akan menikahinya ketika kelak ia menjadi raja. Setelah pangeran tampan ini berhasil menumpas Kerajaan Kediri dan memukul balik pasukan Mongol yang menyerang Jawa saat itu, lalu mendirikan kerajaan di Tarik, kawasan hutan yang banyak terdapat buah maja yang pahit.

Jadilah Raden Wijaya raja pertama Kerajaan Majapahit. Gayatri yang ketika itu masih berusia 19 tahun lalu disunting. Cita-cita luhur Kertanegara dia utarakan pada sang suami, dan mereka berdua berhasil membangun Majapahit dengan pesat. Kebahagiaan mereka tak berlangsung lama, karena Raden Wijaya wafat di usia 46 tahun.

Gayatri mangkat dalam usia sangat sepuh (76). Wanita anggun dan penuh kasih di zamannya dan tidak mengejar gelar maupun penghargaan. pur/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment