Koran Jakarta | November 17 2018
No Comments

Menakar Prospek Bisnis Produk Tiongkok

Menakar Prospek Bisnis Produk Tiongkok

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Judul       : Terbongkar! Rahasia Bisnis

                 Besar Impor Produk China

Penulis    : Yana Mulyana

Penerbit  : Elex Media Komputindo

Cetakan   : 2018

Teba        : xxix + 176 halaman

ISBN        : 978 602 04 5760 4

Tidak ada negara yang bisa men­cukupi bahan-bahan produksi dari dalam negerinya secara absolut. Setiap negara pasti membu­tuhkan pasokan bahan dari negeri lain. Sebab itu, perdagangan antarne­gara tidak bisa dipungkiri. Indonesia merupakan pengekspor tekstil. Na­mun, bahan baku baik mentah atau setengah jadi harus mengimpor dari India, yang sejak lama memiliki keka­yaan bahan produksi tekstil.

Buku ini menjelaskan sumber ratusan ribu produk yang diperjualbe­likan marketplace lokal yang murah. Meski dengan harga murah, triliunan rupiah tetap bisa diraup. Menurut pebisnis produk impor ini, kekuatan pasar Tiongkok sangat berperan pen­ting. “Buku ini akan membongkar dan mengupas tuntas tentang bisnis besar impor produk Tiongkok yang selama ini ditutup-tutupi para importir,” kata Yana (hlm xi).

Tiongkok memiliki semua produk milik berbagai negara. Di Tirai Bambu ada elektronik dari Jepang, otomatif dari Amerika, fashion dari Italia, tekstil dari India, peralatan rumah tangga dari Korea Selatan, dan produk-produk khas negara-negara lainnya. Di sam­ping itu, harga produk Tiongkok jauh lebih murah (hlm xxx).

Produk-produk Beijing jauh lebih murah karena tenaga kerja melimpah dan upah murah. Kelimpahan tenaga kerja tersebut sudah ada pada masa Mao Zedong. Saat itu, ratusan juta tenaga kerja dikelompokkan ke dalam “komune rakyat” untuk mengerjakan tanah negara dan diupah makanan. Sejak pemerintahan Deng Xiaoping, komune rakyat tersebut dipindah­fokuskan ke industri seiring derasnya urbanisasi.

Pemerintah membuka keran perusahaan asing memanfaatkan kelimpahan tenaga kerja dengan sya­rat tukar teknologi. “Arus urbanisasi yang sangat cepat telah memasok ratusan juta ‘kaki berlumpur’ sebagai buruh tidak terampil dan berpen­didikan rendah, dengan upah sangat rendah,” tulis penguasaha muda ini (hlm 6).

Dengan masuknya teknologi, banyak industri bertumbuh. Peme­rintah dan perbankan mendukung sepenuhnya. Tak pelak, rakyat Tiong­kok bersaing membangun industri apa saja sehingga begitu banyak produksi. Ini berimbas pada ke­limpahan barang, lahirnya predatory pricing atau perang harga. Mereka rela untung 2–3 persen karena masih bisa berharap dari PPN pemerintah hingga 17 persen.

Yang membuat produk Tiongkok laris bukan saja karena murah, namun fungsinya tepat guna. Mereka me­nyasar semua usia, dari mainan bayi sampai alat bantu dengar kakek-kakek. Fungsi produknya spesifik sehingga memudahkan kehidupan.

Stereotip bahwa produk Tiongkok tidak berkualitas, selama belasan tahun mulai diubah dengan ber­gabungnya ke World Trade Organi­zatio (WTO). Ini memaksa negara terpadat tersebut memberangus pembajakan hak cipta, meningkatkan standar proses produksi, dan men­gantongi sertifikat, di antaranya ISO, sebagai bentuk pengakuan kualitas produk (hlm 18).

Beberapa perusahaan tirai bambu sendiri, seperti Grup Konka, meraih kualitas desain televisi terbaik dunia. Tentu saja, tidak mudah mengubah mindset kualitas produk Tiongkok se­perti dirasakan Konka. Banyak orang minta produk-produknya diganti merek lain seperti dari Jepang. “Ma­syarakat akan berubah. Mereka akan mengerti made in China tidak lagi ber­arti kualitas jelek,” tegas Grup Konka (hlm vii).

Diresensi Muhammad Abdul Manan, Dosen Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment