Koran Jakarta | October 15 2018
No Comments
Mengelola Keberagaman

Memupuk Rasa Kebangsaan Milenial Indonesia di Korsel

Memupuk Rasa Kebangsaan Milenial Indonesia di Korsel

Foto : istimewa
Dialog Kebangsaan - Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Benny Susetyo (kiri) dan Dubes RI di Korsel, Umar hadi, ketika menjadi narasumber dialog kebangsaan di KBRI Seoul. Dialog ini dihadiri pelajar dan mahasiswa RI di Korsel.
A   A   A   Pengaturan Font

Jauh dari Tanah Air bukan berarti tidak peduli dengan nasib bangsa. Bahkan di tengah himpitan tuntutan jadwal kerja lembur ataupun masa ujian tengah semester, ihwal kebangsaan tetap menjadi perhatian para milenial Indonesia di Korea Selatan. Minggu (15/4) di penghujung hari, bertempat di Aula KBRI Seoul, kaum muda yang digawangi PERPIKA (Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan) berkumpul dan berdialog bersama berbagai elemen masyarakat Indonesia di Seoul dan sekitarnya untuk menyoal masalah kebangsaan dan kebinekaan.

Dialog bertema “Mengelola Keberagaman, Memperteguh Ke-Indonesiaan” menghadirkan Romo Benny Susetyo dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Acara Dialog Kebangsaan kerja sama d PERPIKA dengan KBRI Seoul tersebut bertujuan untukmenanamkan serta memupuk rasa dan nilai-nilai keindonesiaan di kalangan generasi muda Indonesia di luar negeri.

Dialog berhasil membangun kepercayaan diri para milenial ini untuk semakin bangga terhadap Tanah Air dan berupaya untuk melihat perbedaan sebagai suatu kekuatan guna membangun Indonesia yang lebih baik. Dialog dihadiri tak kurang dari 70 milenial Indonesia di Korsel.

Mereka merupakan perwakilan dari berbagai organisasi sosial kepemudaan yang ada seperti Persatuan Pelajar Indonesia, PCINU, PCI Muhamadiyah, Persekutuan Gereja Indonesia, Komunitas Katolik Indonesia, Komunitas Muslim Indonesia hingga kelompok Gamelan danTariTradisional Indonesia di Korsel. Dialog mengalir dan menjangkau nilai-nilai kritis semua yang hadir.

Berbagai pertanyaan pun tak berhenti disampaikan. Mulai dari persoalan bagaimana membumikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana mengelola informasi yang mereka terima dalam dilema paradox of plenty, hingga bagaimana memupuk keniscayaan sebagai satu bangsa di tengah hantaman pergesekan nilainilai modernitas yang kerap memunculkan sisi egosentris.

Menjawab serentetan pertanyaan yang mengemuka, Romo Benny secara lugas membedah satu – persatu secara sederhana namun mengena. Menurut Romo Benny, membumikan Pancasila itu sudah tidak lagi dengan menghapal puluhan butir-butir nilai Pancasila. “Namun salah satunya adalah dengan mendulang prestasi tinggi serta membangun solidaritas dan jejaring. PR kita bersama yaitu bagaimana Indonesia membangun peradaban dan menjadi generasi yang tercerahkan,” jawab Romo Benny. ril/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment