Koran Jakarta | July 22 2019
No Comments
PERADA

Membangun Kerukunan Umat lewat Perjumpaan

Membangun Kerukunan Umat lewat Perjumpaan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

 

 

Buku ini berisi rekam jejak Romo Felix Supranto membangun kerukunan lintas agama di daerahnya. Dia memegang prinsip daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, prinsip tersebut diterjemahkan daripada mengeluhkan intoleransi, lebih baik menyalakan api kerukunan lewat intensitas perjumpaan dengan beragam komunitas berbeda. Dia yakin, perjumpaan terus menerus akan mengikis kekhawatiran, kesalahpahaman, dan perasaan terancam.

Sudah menjadi tabiat manusia untuk mengkhawatirkan yang tidak dikenal dan dipahami. Lewat perjumpaan, dia membuktikan kerukunan benar-benar bisa tercipta. Buku ini mendeskripsikan, perjumpaan Romo Felix meliputi dialog yang selama ini belum dipahami beragam pihak. Dengan dialog, banyak yang kemudian mengerti hakikat persoalan sebenarnya.

Santri dan santriwati Pondok Pesantren Darul Falahiyah bisa lebih mengerti keberadaan agama lain setelah rombongan Romo Felix sering mengunjungi dan berdialog dengan mereka. “Romo, terima kasih sudah sering mengunjungi kami. Kunjungan ini sangat baik bagi kami karena dapat mengenal pemeluk agama lain secara nyata,” kata para santri (hlm 26).

Dia juga menjalin kerja sama dengan aparat keamanan dan pemerintah, serta menekankan arti penting kebersamaan menjaga keamanan kenyamanan. Bersama tokoh masyarakat dan pemerintah, dia mendirikan rumah sakit lintas agama. Langkah terobosan ini dilakukan mengingat selama ini layanan kesehatan acapkali untuk mereka yang seagama.

Layanan kesehatan lintas agama diharapkan melahirkan kesadaran, agama bukanlah penghalang menolong sesama. Dia juga melakukan perjumpaan dengan tokoh-tokoh agama untuk mencari titik persamaan dan saling menghargai perbedaan. Terlihat jelas keakraban terbangun di antara Romo Felix dan para kiai atau ustaz.

Mereka berbincang dengan lesehan, tidak formal, makan bareng, dan tertawa bersama. Perbedaan agama justru mempererat hubungan mereka dan saling kunjung. Kadang Romo Felix secara resmi diundang pada acara keagamaan umat Islam dan dipersilakan menyampaikan orasi tentang urgensi kerukunan.

Di saat lain, kiai diundang mengunjungi kegiatan keagamaan umat Kristiani untuk melakukan serupa (hlm 56). Tokoh agama merupakan pusat umat dan panutan. Saat tokoh agama dengan lapang dada menerima perbedaan, umatnya akan dengan mudah melakukan serupa. Agar lebih mengakar, Romo Felix bersama para tokoh agama, masyarakat dan pemerintah menyelenggarakan kegiatan kebersihan bersama.

Semua pemeluk agama bersama-sama membersihkan lingkungan. Mereka berbaur, tanpa sekat. Dari beragam perjumpaan tersebut, Romo Felix dengan tokoh-tokoh agama menyepakati kerukunan. Misalnya, tatkala ada konflik antara umat beragama, sebaiknya tokoh-tokoh umat segera konsolidasi sehingga tidak menjalar membabi buta.

Sebab sering umat tidak bisa menyelesaikan konflik tersebut, maka perlu dibantu tokoh umat. Titik kesepakatan lain, dalam menghadapi teror, umat tidak boleh panik yang sebenarnya diharapkan para peneror. Dalam situasi panik akal sehat tidak bisa digunakan sehingga mudah dihasut untuk melakukan tindakan teror serupa.

“Ketakutan akan melumpuhkan semangat perjuangan kita bagi NKRI dan akhirnya kita akan putus asa melakukan hal yang baik bagi negeri tercinta ini,” tulis Romo Felix (hlm 108). Setiap ada konflik, begitu mudah menemukan orang-orang yang hanya pandai mengkritik, menyalahkan, dan menggerutu.

Sulit menemukan orang yang secara proaktif menyelesaikan konflik tersebut. Perjuangan Romo Felix yang diabadikan dalam buku ini layak dijadikan teladan. 

 

Diresensi Faiz, Staf Pendidikan An-Najah Karduluk

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment