Koran Jakarta | August 22 2017
No Comments

Membaca Yesus dalam Sebuah Novel

Membaca Yesus dalam Sebuah Novel

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Judul               : Yesus Anak Manusia

Penulis            : Kahlil Gibran

Penerjemah     : Sapardi Djoko Damono

Cetakan           : I, April 2017

Tebal               : xiv + 314 halaman

Penerbit            : Bentang Pustaka

ISBN                : 978-602-291-381-8

Di buku Yesus Anak Manusia (2017), Kahlil Gibran memosisikan diri sebagai pencatat. Dia meriwayatkan Yesus berdasarkan kesaksian Yakobus, Assaf, Maria Magdalena, Filemon, Petrus, Kayafas, Yohana, Rafka, Daud, Lukas, Matius, Yusuf, Nataniel, Rahel, Yudas, dan tokoh-tokoh lain yang pernah berjumpa Yesus. Ihwal peristiwa hari lahir dan masa kecil Yesus, kita bisa menyimak cerita dari sang nenek atau Ibu dari Maria, Anna.

Yesus lahir di Nazaret pada bulan Januari. Pada malam harinya, rumah Anna kedatangan tamu, orang-orang Parsi yang akan ke Mesir. Para musyafir itu kemalaman dan tak mendapat penginapan. Jadilah mereka tinggal di rumah Anna. Anna minta maaf sebab tak bisa menjamu dengan baik. Hari itu, dia dan keluarganya sedang sibuk mengurus persalinan Maria dan kelahiran Yesus.

Mendengar berita tersebut, orang-orang Parsi justru ingin menengok Sang Bayi. Anna terkejut melihat orang-orang Parsi menaruh pundi-pundi emas, perak, dan wewangian di kaki Yesus.

Mereka lalu bersujud dan berdoa dalam bahasa yang tak dipahami. Keesokannya, saat orang-orang Parsi akan melanjutkan perjalanan, Anna dititipi pesan, “Anak itu baru sehari umurnya, tetapi kami menyaksikan cahaya Tuhan di mata-Nya dan senyum Tuhan kami di mulutnya. Kami mohon kalian melindungi-Nya baik-baik sehingga nanti Ia bisa melindungi kalian semua (hlm 11).” Pilihan kata “mohon kalian melindungi-Nya” menunjukkan ketokohan Yesus sebagai Anak Manusia yang membutuhkan pertolongan dan perlindungan dari manusia lainnya.

Di halaman 64–65, bisa dibaca kesaksian Yohanes, Anak Zebedeus, yang menguatkan alasan Kahlil Gibran untuk menamai buku ini Yesus Anak Manusia. Lihat, “Yesus orang Nazaret dilahirkan dan dibesarkan seperti kita. Ibu dan ayah-Nya seperti orang tua kita, dan ia manusia biasa…. Ia sendiri ingin disebut dengan nama (Anak Manusia) itu karena Ia tahu rasa lapar dan haus. Dia memandang manusia mencari diri-Nya yang Agung.”

Hal ini tak lain dan tak bukan merupakan kerendahhatian Yesus. Sekalipun Anak Manusia, Dia istimewa. Tuhan memuliakan dan mengaruniai berbagai mukjizat. Ia mampu menyembuhkan penyakit-penyakit yang tak diketahui cara pengobatannya oleh orang Yunani dan Mesir. Ia pun bisa menghidupkan orang mati (hlm 23). Yesus pun diberi tugas membawa umat menuju jalan yang benar lewat ajaran yang dipikul-Nya.

Selama hidup, Yesus hampir selalu migrasi dari suatu daerah ke daerah lain untuk menyiarkan ajaran. Ketokohan dan kemasyuran-Nya menyebar ke pelosok-pelosok negeri. Banyak orang yang kemudian menjadi pengikut setia. Tapi, muncul pula orang-orang yang menentang. Kesaksian demi kesaksian, pengikut dan penentang, dapat disimak dalam buku ini.

Akhirnya, kesaksian tentang prosesi penyaliban Yesus mendapat halaman banyak. “… sejak kematian-Nya yang tanpa perlawanan, bala tentara bangkit dari dalam bumi guna bertempur untuk-Nya.… Dan, meskipun telah meninggal, Ia lebih baik dilayani oleh mereka daripada Pompei ataupun Cesar yang masih hidup,” kata Klaudius, pengawal Romawi (hlm 276).

Buku Yesus Anak Manusia adalah novel. Pengertian ini penting untuk ditekankan agar pembaca bisa agak bebas menikmatinya sebagai karya sastra dan bukan buku sejarah, apalagi Kitab Suci. Memang, di dalam karya sastra terdapat fakta-fakta yang dibicarakan, tetapi pembaca juga mesti ingat Dia tetap mengandung unsur imajinasi.

Artinya, akan ada penambahan dan pengurangan “fakta” yang boleh dilakukan pengarang demi cerita. Meski demikian, hal itu bukanlah suatu kekurangan karya sastra, tetapi justru suatu keunggulan.

Simaklah perkataan ahli bahasa dan sastra Melayu Klasik asal Belanda, A Teeuw, yang mengutip Aristoteles: “… bahwa sesungguhnya pekerjaan penyair lebih agung, lebih bersifat ‘ilmiah’ dari pekerjaan sejarawan. Sebab sejarawan mau tak mau harus membataskan diri pada data faktual, yang bersifat insidental dan kebetulan.

Sebaliknya, penyair sanggup menciptakan dunia lengkap, masuk akal, secara inheren. Dengan demikian, berhasil mengungkapkan unsur-unsur eksistensi manusia yang hakiki dan universal.” Riwayat Yesus dalam novel Yesus Anak Manusia pun menjadi lebih puitis dan dramatis.

Diresensi Hanputro Widyono, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment