Koran Jakarta | August 20 2018
No Comments

Membaca Peta Kekuatan Dunia

Membaca Peta Kekuatan Dunia
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Masa Depan Dunia

Penulis : Kamaruzzaman & Bustaman-Ahmad

Penerbit : Bandar Publishing

Cetakan : Pertama, Januari 2018

ISBN : 978-602-1632-95-6

Tebal : 414 halaman

Konflik antarideologi dan peradaban telah berlangsung lama. Perang Dunia menajdi penanda satu peradaban berpengaruh luar biasa terhadap peradaban lain. Pascaperang dingin, Amerika Serikat (AS) muncul sebagai negara superpower. AS memiliki posisi unggul atas negara-negara baik secara ekonomi, politik, militer, diplomasi, sains, teknologi, maupun dan budaya.

Kekuatan itu digunakan untuk mengekalkan kekuasaannya dengan menjual isu-isu demokrasi dan hak asasi manusia sebagai polisi dunia. Buku Masa Depan Dunia ini membahas masa depan dunia dengan tulang punggung teknologi informasi (TI). Bahasan lain tentang sejarah masa depan dunia, serta peta kekuatan global abad 21. AS ditopang kekuatan militer, inovasi, TI, finansial, dan ekonomi. Namun, ketika Tiongkok mulai membayang-bayangi, hampir seluruh kebijakan AS dicurahkan untuk menghadapinya bekerja sama dengan Uni Eropa (hal 229).

Ke depan AS tetap menjadi kekuatan utama dunia dengan mengontrol sudut-sudut dunia (hal 275) dengan memasang satelit di mana-mana. Jika ada yang mencoba melawan hegemoni barat, tidak akan diberi peluang tampil sebagai pemain utama dalam pentas global. Pada prinsipnya, peta kekuatan dan kekuasaan pada tingkat global tidaklah berbeda dengan sejarah konflik dunia yang telah terjadi selama beberapa abad ini (hal 36-37).

Secara umum, buku ini cukup detail membahas sejarah hubungan barat dengan Timur baik dari segi agama, ekonomi, maupun budaya. Dalam buku ini, tema tentang Islam, Kristen, dan Yudaisme mendapat porsi tersendiri (hal113 dan 171). Selain itu, juga dikupas tuntas peta kekuatan global yang hingga saat ini masih dipegang AS bersama aliansinya.

Buku ini tidak bisa lepas dari teori pembenaran dan geosentris. Teori pembenaran mengarahkan penjelasannya pada segala kebijakan dan sikap AS terhadap dunia luar adalah benar dan sah. Jualan isu HAM dan demokrasi untuk menyerang negara-negara Timur Tengah, misalnya, sangat laku. Negara-negara yang dinilai tidak demokratis, benar untuk ditaklukkan. Rezim-rezim yang dianggap melanggar prinsip-prinsip HAM harus ditumbangkan. Dengan demikian, buku dapat menuduh AS sebagai pelaku utama pencipta konflik global dan pemegang kartu As kekuatan dunia.

Sementara itu, teori geosentri mengarahkan penjelasannya pada peradaban besar dunia. Teori ini membagi peradaban barat, diwakili AS dan Eropa, dan peradaban timur yang diwakili negara-negara Asia seperti Tiongkok, Jepang, atau Korea. Barat dan timur mengerucut menjadi benturan antara Kristen dan Islam.

Dalam kajian ini, buku menyudutkan AS seolah-olah segala kekacauan di beberapa negara menjadi tanggung jawabnya. Padahal, Rusia, Tiongkok, Iran, Arab Saudi, dan Turki dengan kekuatan politik, ekonomi, dan militernya juga turut serta mewarnai perang berdarah di banyak negara.

Buku 414 halaman ini seakan luput menyoroti kebangkitan ekonomi politik India, Rusia, Iran dan Turki, sebagai penantang-penantang serius AS, di samping Tiongkok. Malahan buku ini menyediakan ruang terlalu besar (hal 113-204) hanya untuk membahas islamisme, kristianisme, dan Yudaisme. Buku ini semakin sulit dinalar karena menghadap-hadapkan barat yang.

dimaknai sebagai AS dan aliansinya (hal 207) dengan ideologi-ideologi seperti Islam, Komunis. Tapi kemudian menilai sebagian ideologi tidak mengganggu Amerika seperti Hindu dan Buddha.


Diresensi Janus TH Siahaan, Doktor Lulusan Unpad

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment