Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Andropause

Memahami Pesona Pria yang Mulai Memudar

Memahami Pesona Pria yang Mulai Memudar

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Anda merasa tidak bergairah dan mudah kelelahan belakangan ini? Mungkin itu tanda dari andropause. Ya, bisa dibilang andropause adalah masa menopause bagi laki-laki. Lantas apa saja tanda dari andropause? Apakah kondisi ini dapat dicegah?

Andropause berakar dari kata Yunani kuno “Andras” (pria) dan “pause” (berhenti). Jadi, andropause sebenarnya bisa diartikan sebagai sindrom penurunan kepuasan dan gairah seksual pada pria akibat rendahnya kadar testosteron.

Bisa dibilang, andropause adalah sekumpulan gejala, tanda, dan keluhan pada pria yang mirip menopause pada perempuan. Bedanya dengan meno­pause, andropause pada pria biasanya terjadi dalam waktu yang cukup lambat.

“Di dunia kedokteran, berbagai isti­lah lain diberikan untuk menyebut an­dropause, seperti klimakterik pada pria, androclise, Androgen Decline in Ageing Male (ADAM), Partial Androgen Defi­ciency of the Ageing Male (PADAM), sindrom penuaan pria (ageing male syndrome), late onset hypogonadism (LOH),” ungkap Dito Anurogo, dokter literasi digital, dan dosen FK Unismuh Makassar.

Istilah hipogonadisme sendiri, lanjutnya, merupakan sindrom atau masalah kesehatan yang biasanya disebabkan oleh kekurangan hormon androgen, sehingga memengaruhi fungsi multiorgan dan kualitas kehidu­pan. Dengan demikian, “pesona” alias keperkasaan para pria yang mengalami andropause akan memudar seiring bert­ambahnya usia.

Andropause terjadi pada usia 40-60 tahun. Hal yang dapat menyebabkan andropause antara lain:

  1. Faktor lingkungan

Biasanya kondisi ini dipicu karena tubuh terpapar polusi lingkungan serta pengaruh bahan kimia, ter­masuk bahan pengawet makanan dan limbah. Penerapan diet dan pola makan yang tidak baik juga bisa men­jadi hal pemicu andropause.

  1. Faktor dari dalam tubuh

Hal yang merangsang andropause terjadi adalah perubahan hormon pada laki-laki. Hormon yang menjadi pemi­cu, yaitu Testosteron, DHEA (dehydro­epiandrosteron), DHEA-S (Dehydro­epiandrosteron Sulfat), Melatonin, GH (Growth Hormone), IGF-1 (Insulin-like Growth Factor-1), dan Prolaktin.

  1. Faktor psikogenik

Stres psikis dan fisik juga menjadi penyebab andropause. Biasanya, ketika memasuki masa pensiun hingga perubahan kondisi lingkungan serta sosial, menjadi salah satu pemicu stres pada pria paruh baya dan lanjut usia.

  1. Faktor risiko lain

Pria yang mengalami penyakit kronis akan cenderung lebih cepat mengalami andropause. Penyakit kronik yang dimaksud yaitu Diabetes mellitus, Pe­nyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), Penyakit artritis inflamasi, Penyakit ginjal, Sindrom metabolic, Obesitas, Penyakit terkait HIV, dan hemokroma­tosis. pur/R-1

Ini yang Terjadi dalam Tubuh

Hormon testosteron pria menurun sekitar 1-15 persen per tahun, dimu­lai pada usia 45 tahun. ‘Meno­pause’ pada pria ini terjadi ke­tika kadar testosteron menurun drastis. Selain karena faktor usia, penurunan kadar testosteron ini juga berkaitan dengan tingginya lemak viseral alias lemak yang berada di antara organ.

“Lemak ini biasanya terlihat dengan jelas pada perut yang buncit. Nah, tumpukan lemak tersebut akan mengacaukan sistem metabolisme, meng­ganggu hormon insulin untuk memecah kadar gula darah, hingga menyumbat pembuluh darah,” ujar Dito.

Penyumbatan ini akan memengaruhi respon sistem saraf terhadap testosteron. Ketika tubuh tidak mendeteksi adanya testosteron, akhirnya hasrat dan gairah seksual pun menurun.

“Jadi, bukan cuma merasa kurang bergairah, andropause juga akan menunjukkan tanda lain. Gejala andropause antara lain mudah lupa, merasa kurang energi dan cepat lelah, sering mengantuk, mudah tersinggung, berkurangnya kemampuan ereksi.

Bahkan, pria yang men­galami andropause mungkin mengalami perubahan tingkah laku seperti memiliki rasa takut berlebihan terhadap suatu gang­guan kesehatan, uring-uringan, hingga sangat cemas ketika merasa sakit,” jelasnya.

Persoalannya adalah, bagaimana kita bisa mengetahui jika kita sudah memasuki masa andropause.

Dito mengatakan, selain berkonsultasi dengan dokter, Anda juga bisa mengetahui apakah gejala yang Anda alami termasuk tanda dari andropause dengan menjawab beberapa pertanyaan dari kuesioner ADAM (Androgen Deficiency in Ageing Males).

Apakah Anda mengalami penurunan libido (gairah seks)? Apakah Anda merasakan kekurangan energi? Apakah kekuatan atau daya tahan Anda menurun? Apakah tubuh Anda terasa memendek? Apakah Anda kurang atau tidak me­nikmati hidup? Apakah Anda merasa sedih dan/atau sering marah-marah? Apakah ereksi Anda kurang kuat?

Pernahkah akhir-akhir ini Anda memperhatikan penu­runan kemampuan di dalam berolahraga? Apakah Anda tertidur setelah makan malam? Apakah akhir-akhir ini terjadi penurunan produktivitas?

“Jika Anda cenderung menjawab “ya” dari semua pertanyaan tersebut, bisa jadi Anda memang memasuki masa andropause. Namun, untuk memastikannya Anda dapat berkonsultasi pada dokter,” tukasnya. pur/R-1

Apakah Kondisi Ini Dapat Diobati?

Menurut Dito, sebenarnya, andro­pause adalah kondisi yang terjadi secara alami. Namun, lanjutnya, Anda bisa melakukan beberapa hal untuk mencegah efek andropause kian parah. “Mis­alnya saja mengonsumsi multivitamin seperti vitamin E dan D serta tambahan kalsium. Pemberian mulitivitamin dapat membantu daya tahan tubuh Anda selalu prima,” ujarnya.

Sementara untuk masalah gairah yang kian menurun, dokter biasanya akan memberikan pengobatan supaya kadar hormon testosteron tetap stabil, entah itu melalui terapi hormon atau pemberian obat-obatan.

Lagi-lagi, sebaiknya diskusikan pada dokter Anda sebelum menjalani pengobatan tertentu, karena beberapa pengobatan memi­liki efek samping bagi tubuh. “Misalnya saja terapi testosteron yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker prostat,” katanya.

Dito menjelaskan, karena proses ini terjadi secara alami, Anda hanya dapat memper­lambat ‘kedatangannya’. Caranya dengan menerapkan pola hidup sehat, menghindari berbagai paparan polusi dari lingkungan.

Mulai sekarang hindari makan makanan berpengawet, berkalori dan berlemak tinggi. Sebagai gantinya, makan makanan yang penuh gizi dan serat supaya tubuh tetap se­hat. Iringi pola makan sehat dengan olahraga rutin yang membuat tubuh makin kuat.

“Jangan lupa juga untuk mengelola stres dengan baik dan belajar menerima keadaan. Kebanyakan pria yang memasuki usia paruh baya cenderung tidak bisa menerima peruba­han pada dirinya. Hal ini hanya akan men­imbulkan stres dan rasa tertekan, akhirnya andropause datang dengan cepat. Segeralah berkonsultasi dengan dokter jika testis kemeng atau nyeri, terasa sakit saat kencing, beser, ejakulasi dini, kencing mengejan, atau tidak lancer,” pungkasnya. pur/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment