Koran Jakarta | October 23 2018
No Comments

Melestarikan Biodiversitas dari Ancaman Eksploitasi

Melestarikan Biodiversitas dari Ancaman Eksploitasi
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Konservasi Biodiversitas

Penulis : Jatna Supriatna

Penerbit : Obor Indonesia

Cetakan : Juli 2018

Tebal : xvi + 546 halaman

ISBN : 978–602- 433-633-2

 

Para ahli melihat situasi eksploitasi sumber daya alam (SDA) saat ini semakin mengganggu keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati (biodiversitas). Kecenderungan ini mengarah pada penurunan kualitas lingkungan dan kelangkaan SDA. Hal ini akan diikuti banyak bencana alam di beberapa kawasan.

Kegagalan implementasi konservasi antara lain akibat ketidaksamaan persepsi pengambil kebijakan terhadap dasar pertimbangan para ahli. Sebab adanya pengaruh kuat dari kepentingan sesaat para pengambil kebijakan. Ini boleh jadi dipengaruhi kepentingan para pendukungnya (hlm xii).

Pergeseran paradigma teknik penyampaian pesan konservasi yang semakin mengajak peran serta masyarakat diikuti penguatan kearifan lokal akan urgensi kelestarian alam menampakkan hasil mikro. Diharapkan pendekatan demikian dapat diangkat secara bertahap pada tataran yang lebih luas.

Hanya Brasil dan Indonesia yang mempunyai biodiversitas sangat tinggi. Brasil memiliki keanekaragaman tumbuhan nomor satu dunia. Sedangkan Indonesia mempunyai keanekaragaman mamalia terbesar dunia. Brasil mempunyai daratan sangat luas dengan hutan Amazonnya. Indonesia mempunyai banyak pulau dengan perairan laut yang sangat luas pula (hlm 59).

Eksploitasi berlebihan salah satu faktor utama ancaman kekayaan biodiversitas tersebut. Sepertiga mamalia dan burung diduga dalam kondisi genting karena eksploitasi. Bertambahnya manusia, peningkatan teknologi, dan intensifikasi pemanfaatan SDA turut mendorong eksploitasi. Selain itu, eksploitasi berkorelasi dengan semakin lunturnya nilai budaya dan kearifan lokal dalam pemanfaatan SDA.

Eksploitasi juga dipengaruhi kondisi habitat yang semakin mudah diakses. Perburuan primata endemik di Kepulauan Mentawai meningkat seiring akses yang semakin mudah memasuki hutan lebih dalam. Eksploitasi juga berhubungan erat dengan pola perdagangan. Ketika satu SDA ditemukan, akan dikembangkan pasar komersialnya, sedangkan pasar mendorong penduduk lokal berburu. Ketika sumber berkurang dan semakin langka, harga meningkat. Ini menciptakan insentif besar eksploitasi berlebihan sumber tersebut.

Eksploitasi kadang memiliki tujuan yang lebih dari sekadar nafkah dan uang seperti rekreasi berburu, mitos pengobatan tradisional, cinderamata, dan status. Contoh perburuan harimau Sumatera (hlm 68).

Krisis biodiversitas global ini fakta yang tidak bisa dipungkiri. Solusinya bisa dengan menggabungkan kajian ilmiah dan mengomunikasikan penyebabnya. Perlu mengembangkan teknologi, menguatkan hukum, menyusun insentif dan perencanaan ekonomi. Hasil langkah-langkah ini dapat untuk menentukan strategi konservasi seperti penyediaan kawasan lindung, intervensi dalam tingkat genetik, dan restorasi ekosistem.

Agama sebagai jembatan untuk memperjuangkan konservasi merupakan langkah tepat karena umumnya, masyarakat sangat termotivasi melakukan yang benar berdasar keyakinan agama. Maka, menyaring etika lingkungan dari agama-agama sangat penting untuk konservasi global (hlm 98).

Buku ini merupakan hasil renungan dan pengalaman lapangan penulis. Buku menekankan berbagai teori dan fakta biodiversitas global atau nasional. Kekayaan data dan kisah faktual konservasi didasarkan pada pengalaman keluar masuk hutan Indonesia dan berbagai negara. 

 

Diresensi Asnawi Susanto, Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment