Koran Jakarta | August 22 2018
No Comments

Melawan “Hoax” lewat Puisi

Melawan “Hoax” lewat Puisi
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Sajak Hoax

Penulis : Sosiawan Leak

Penerbit : Elmatera

Cetakan : I, Februari 2018

Tebal : viii + 178 halaman

ISBN : 978=602-6549-97-6

 

Puisi melawan Hoax dengan cara membangun kesadaran pembaca atau pendengar (saat dibacakan). Puisi mampu menyentuh inti nurani dan akal budi manusia. Selain bertumpu pada estetika teks, puisi juga mempunyai semacam roh yang menelusup ke setiap relung jiwa pembaca.

Sosiawan Leak mengampanyekan pemberantasan Hoax lewat puisi. Ini sesuai dengan perannya sebagai penyair. Di antara bait-bait puisinya berjudul “Aku Tulis Puisi” tertera:

Aku tulis puisi/meski kumengerti kadang tak berarti/karena puisi bukanlah ayat tuhan/yang sah memanah surga atau neraka/puisi tak pula undang-undang/yang kadang sumbang/membidik kebenaran dan kasalahan/dalam ruang pengadilan/yang dipancang tiang-tiang/uang (hlm 176)

Ada semacam kesadaran, kadang puisi tak dihiraukan karena dianggap tak berarti. Namun, bagaimanapun puisi mempunyai tugas sendiri terhadap kehidupan sosial maupun ilmu pengetahuan. Bagi Leak “luka mesti disembuhkan biar pun kesakitan” (hlm 177)

Perihal Hoax, Sosiawan Leak menyampaikannya dengan lugas, tanpa menghilangkan kata-kata puitisnya.

Orang-orang tanpa kepala/tak bisa menyimpan argumentasi, fakta, dan data/serta kebenaran logika di otaknya/ dari kelingking, sikut, dengkul/bahkan duburdan belahan pantat; kata-kata muncrat/menjelma sihir provokasi, lendir agitas (hlm. 164).

Orang-orang, tanpa kepala yang dimaksud Leak mungkin para penyebar Hoax yang tidak diketahui identitasnya. Mereka berlindung di balik akun sosial palsu atau media-media tak terveritifikasi secara jelas. Sehingga, ia melanjutkan larik puisinya dengan “tak bisa menyimpan argumentasi, fakta, dan data/serta kebenaran logika di otaknya.” Tulisannya memang bukan fakta dan sering kali tidak dibangun dengan kebenaran logika berpikir yang benar

“Juga kedangkalan nurani/menabur filsafat kebodohan dan iri dengki tanpa tandingan/tak dapat dilacak di kamus istilah, risalah penelitian/teori, dan kajian keilmuan/apalagi kitab suci dan lontar kearifan lokal (hlm 164).

Bait lanjutan menegaskan, para penyebar Hoax tidak mempunyai hati nurani. Mereka menyebar kebohongan berlandaskan iri dan dengki. Namanya juga Hoax, data yang disampaikan tidak dapat ditemukan di berbagai sumber sah baik hasil penelitian, kajian-kajian keilmuan, apalagi kitab suci. Yang ada malah isi kitab suci diselewengkan sesuai dengan kepentingan tertentu.

Buku antologi puisi karangan salah satu pemenang “Hari Puisi Indonesia” tahun 2018 ini tidak melulu membahas Hoax, tetapi juga berbagai persoalan sosial, politik, budaya, dan teknologi. Sajak-sajak ini ditulis sejak 1991 sampai tahun 2017. Akan tetapi, pemilihan judul “Sajak Hoax” mungkin disesuaikan dengan tema sosial kronis dan urgen untuk disembuhkan. Ini semacam telah diprediksi belasan tahun lalu, sebagaimana tertuang dalam penggalan sajak “Fobia” berikut.

“Mereka pula yang melayang-layang di angkasa/menyerbu segala disket/menjelma kode-kode komputer dan internet/yang luput kau pahami maknanya (hlm 56).

puisi ini ditulis dua puluh dua tahun yang lalu, 15 Januari 1996, saat internet masih belum seluas dan secepat sekarang. Namun, hal itu benar-benar terjadi saat ini, “mereka menyerbu tanpa peduli” penggunanya.

 


Diresensi Moh Tamimi, mahasiswa Instika

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment