Koran Jakarta | June 20 2018
No Comments
Mobil Nasional

Mayoritas Warga Malaysia Tolak Ide Mahathir

Mayoritas Warga Malaysia Tolak Ide Mahathir

Foto : AFP/TENGKU BAHAR
Proyek Mobil Nasional l Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengacungkan jempol saat peluncuran mobil nasional Proton Savvy, di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 2005. Saat berbicara dalam forum Kebijakan Asia di Tokyo, Jepang, pada Senin (11/6). PM Mahathir kembali menggagas ide proyek mobil nasional yang baru.
A   A   A   Pengaturan Font

KUALA LUMPUR – Penyataan Perdana Menteri Mahathir Mohamad saat di Tokyo, Jepang, soal rencana untuk mendirikan kembali proyek mobil nasional yang baru, telah membuat khawatir mayoritas warga Malaysia. Menurut pemberitaan South China Morning Post edisi Selasa (12/6), sebagian besar warga menentang gagasan Mahathir soal mobil nasional dan perekonomian.

Penentangan atas gagasan Mahathir terlihat di akun media sosial Facebook milik laman berita The Star Online yang telah tersebar ke 450 tautan dan mendapat 1.600 reaksi mulai kemarahan hingga pujian. Perdebatan di akun dunia maya itu pun berlangsung hingga lebih 8 jam sejak pertama kali ditayangkan.

Sebagian besar responden menyatakan daripada mewujudkan gagasan mobil nasional, lebih baik Malaysia fokus pada peningkatan pengadaan sarana transportasi massal. “Perlu peningkatan keuntungan bagi sistem transportasi massal yang lebih aman, efisien dan ramah lingkungan bagi semua khalayak terutama rakyat miskin dan kaum difabel,” komentar Rozana Iza.

Tanggapan juga dikemukakan seseorang bernama Austin Yap agar PM Mahathir meniru kebijakan Jepang dalam fasilitas transportasi massal. “PM Mahathir, Anda pergi ke Jepang untuk mengikuti konferensi kebijakan di Asia, Harap Anda amati layanan transportasi publik di Tokyo,” kata Yap.

PM Mahathir Mohamad berada di Jepang untuk menghadiri konferensi masa depan Asia yang diprakarsai Nikkei. Saat berpidato, Mahathir sempat mengatakan gagasannya untuk membangun kembali gagasan mobil nasional yang baru dengan merangkul kemitraan dengan negara Asia seperti Thailand atau Jepang.

 

Masalah Utang

Sementara itu responden lain bernama Gunasagaren Kumarasamy, menyatakan bahwa gagasan Mahathir soal mobil nasional bukan prioritas, namun saat ini pemerintah Malaysia harus fokus mengurusi situasi perekonomian.

“Lupakan mobil nasional. Tolong fokus bagaimana mengembalikan utang negara dan memulihkan perekonomian,” kata Kumarasamy.

Komentar juga dilontarkan Prasnth Ramachandran yang menyarankan daripada membuat mobil nasional, lebih baik pemerintah Malaysia memberdayakan sumber daya manusia dan menciptakan para insinyur yang bisa membantu pembangunan. “Contoh Singapura. Mereka tak membutuhkan pabrik mobil untuk memimpin dunia. Keunggulan di bidang ekonomi jadi kisah sukses negara ini,” kata Ramachandran. “Malaysia bisa secara mudah seperti Singapura. Jika tak bisa lebih baik lagi, prioritaskan hal-hal mendasar, bukan membebani negara dengan inisiatif-inisiatif,” imbuh dia.

Penyataan Ramachandran dikuatkan Stephen Chua yang mencontohkan Thailand yang bisa memperkuat industri kendaraan walau tak memiliki mobil nasional.

Sementara itu ada beberapa suara yang mendukung mobil nasional namun dengan nilai tambah seperti menggunakan teknologi mobil listrik. “Jika ia (Mahathir) bersikeras untuk mendirikan proyek mobil nasional, harap mobil itu sepenuhnya menggunakan teknologi listrik. Itulah industri masa depan yang kita perlukan,” komentar Haidir Hashim.

 

StarMedia/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment