Koran Jakarta | September 19 2019
No Comments
GAGASAN

Masa Depan PDI Perjuangan

Masa Depan PDI Perjuangan

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Kongres V PDIP baru saja selesai dengan Megawati tetap sebagai ketua umum (ketum). Usul calon ketum sudah ditetapkan dalam konferensi cabang (kabupaten/kota), dibawa ke konferensi daerah (provinsi). Akhirnya ditetapkan dalam Kongres V di Denpasar, Bali, kemarin.

Semua cabang hampir satu suara memilih Megawati. Perlu dipikirkan andai lima tahun ke depan Mega tidak bersedia dicalonkan lagi, calon ketum sudah disiapkan. Jangan-jangan hanya kekuatan dana, dia berani maju menjadi calon ketum tanpa memahami jiwa dan ideologi partai. Dibutuhkan keterbukaan calon ketum dalam perjalanan lima tahun ke depan.

Riwayat perjuangan calon ketum partai perlu diketahui umum dan meyakinkan. Pengalaman lalu, banyak kader berkualitas mencalonkan diri jadi ketum, namun gagal. Mereka lalu pindah atau mendirikan partai baru. Dalam situasi seperti ini, Mega tetap diharapkan tampil meyakinkan. Dengan demikian, para kader yang tidak sejalan dengan Pancasila, UUD 1945, dan AD/ART Partai boleh pergi tanpa pamit.

Selama lima tahun ke depan Mega perlu membimbing calon ketum yang betul-betul berjiwa pemimpin, menjiwai ideologi, visi dan misi PDIP berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Kader partai, perlu memahami sejarah kehidupan Bung Karno. Karena itu, tidak heran pengalaman nyata senior partai Sidarto Danusubroto yang selama 13 bulan (6 Februari 1967 sampai 13 Maret 1968), tetap setia menjadi ajudan pribadi Bung Karno justru dalam situasi paling sulit.

Dengan demikian, anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu, bisa menyaksikan gigih, sedih, dan girangnya Bung Karno di dalam tahanan politik Orde baru. Dia menuliskan pengalamannya dalam Dari Ajudan sampai Wakil Rakyat.

 

Calon Pendamping

 

Pertanyaannya, siapa calon pendamping Mega 2019-2024? Menjelang Kongres IV 2014, lima tahun lalu, almarhum Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP, Taufiq Kiemas terang-terangan mengakui, Puan Maharani dan Prananda Prabowo berpeluang sama jadi waketum. Dalam Kongres 2014 lalu, ada isu akan diplilih wakil ketum, tapi tak terbukti.

Maka, diharapkan, dalam masa transisi lima tahun ke depan, Mega sendiri perlu menyerahkan kepemimpinan sehari-hari kepada calon penggantinya sebagai titik awal pengaderan ideologi dan visi/misi partai sehingga soliditas partai selama lima tahun berikutnya (2024-2029). Masa ini merupakan transisi krusial sebagai jembatan emas proses penyerahan tongkat kepemimpinan partai kepada kader muda pengganti Mega.

Kecuali pada tahun 2024 nanti, Mega terpilih lagi berdasarkan aspirasi para kader. Menjelang kongres kemarin sempat banyak isu sampingna muncul. Sempat terlintas makna pertemuan Bu Mega dan Ketum Partai Gerindra Prabowo beberapa waktu lalu yang secara implisit muncul isu koalisi PDIP dengan Gerindra. Apalagi Prabowo diundang khusus hadir ke kongres.

Dibutuhkan pertimbangan matang. Ingatan kita masih segar suasana masa kampanye lalu, di mana nyaris tercabik-cabik keutuhan masyarakat melalui isu-isu kampanye yang diungkapkan para kader partai dan berita hoax. Isu yang sangat menarik perhatian, cara partai memberi akses seluas-luasnya kepada kader muda untuk masuk menjadi pengurusan DPP.

Namun harus secara selektif memilih kader yang bisa memperjuangkan ideologi dan cita-cita partai dalam kenyataan sehari-hari. Hal ini menjadi isu sentral untuk membawa PDIP menjadi partai yang berwatak dan berkarakter sesuai dengan ideologi partai, Pancasila 1 Juni 1945.

Itu berarti, kongres 2019 kemarin seharusnya diselenggarakan dalam situasi memantapkan jati diri partai yang bersifat historis dengan figur sentral Megawati Soekarnoputri menuju partai dewasa, independen, mandiri, dan modern. Posisi Mega pada 2019-2024 secara esensial jelas berbeda dengan sebelumnya.

Tidak lagi seperti era rezim Soeharto, atau ketika dia menjabat wapres dan presiden atau era 2004-2019. Pada zaman Soeharto, dia menjadi simbol ketertindasan dan tumpuan pembebasan. Menjelang pemilu lalu, dia menjadi simbol kemenangan partai dengan gambar Mega terpampang di mana-mana. Situasinya sekarang sangat berbeda karena Mega menjadi faktor yang menentukan dalam masa transisi kepemimpinan kepada penggantinya yang jauh lebih muda dalam usia dan pengalaman pada tahun 2024.

Perbedaan situasi dan kondisi seperti itu menjadi faktor pertimbangan serius untuk membawa PDIP ke masa depan. Masalah itu juga seharusnya menjadi pergelutan di kongres. Kita memahami bahwa harapan kader-kader PDIP mendatang sangat tergantung pada kader mengidentifikasi diri pada figur dan prinsip perjuangan politik Mega yang bisa membagi pengalamannya kepada siapa pun yang dipilih menjadi calon ketum 2024.

Bahwa ada kepentingan faksi di dalam PDI Perjuangan, itu merupakan realitas politik dan historis. Sejak didirikan 10 Januari 1973 lalu, PDI Perjuangan merupakan fusi lima partai: Partai IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia), Partai Katolik, Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Murba dan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Dalam konteks itulah, Pesan Soekarno, “jangan sekali-sekali melupakan sejarah (Jas Merah)”. Sejak Megawati terjun ke dunia politik, ketika mulai ikut pemilu PDI tahun 1987, walaupun hasilnya menggembirakan, terjadi kontroversial berkepanjangan.

Faktor eksternal berupa situasi politik nasional di rezim Soeharto, kegigihan perjuangan Mega dan pendukungnya menghadapi pengkhianatan Kongres Medan dan Palu, Peristiwa 27 Juli 1996 dan proses penuntutan legalitas formal partai melalui jalur hukum/pengadilan, adalah variasi kasus membuat konsolidasi internal partai berlangsung secara alamiah.

Justru karena partai semakin disudutkan, ditekan, diteror, dan lain-lain, maka terjadi dinamika partai, yang secara kontraproduktif, membuat kader-kader semakin mencintai partai dan Mega. Secara analogi bisa dikatakan bahwa cita-cita dan jiwa Mega hampir identik dengan cita-cita dan jiwa PDIP menjadi wadah perjuangan demokrasi.

Mega menjadi ”komoditi” dan simbol perlawanan Orde Baru. Juga benar, ada yang mengatakan, yang terjadi bukanlah kemenangan PDIP , tetapi kemenangan Mega sebagai orientasi utama rakyat dalam memilih PDIP karena Mega dibayangkan sebagai seorang pembebas. Maka, jagalah PDIP karena partai simbolisasi NKRI dalam diri dan kepribadian Mega.

 

Cyprianus Aoer -Anggota Departemen KehormatanDPP PDIP 2010-2015

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment