Koran Jakarta | June 20 2018
No Comments
WAWANCARA

Marina Estella Anwar Bey

Marina Estella Anwar Bey

Foto : Koran Jakarta/Wachyu AP
A   A   A   Pengaturan Font
Untuk meningkatkan pembangunan di dalam negeri, Indonesia harus aktif dan gencar menjalin kerja sama dengan negara-negara sahabat. Menjadi tugas para duta besar (Dubes) Indonesia, termasuk Dubes Indonesia untuk Republik Peru merangkap negara Bolivia, Marina Estella Anwar Bey, untuk membuka pasar tersebut.

Peru menilai Indonesia sebagai mitra strategis yang memiliki peran yang sangat besar di tingkat regional maupun internasional. Peru dan Bolivia yang menjadi anggota banyak grup dan mempunyai perjanjian perdagangan dengan banyak negara, seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, Thailand, Malasyia, dan banyak negara lain tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk itu.

Diperlukan upaya nyata yang bisa membuka akses pasar lebih lebar, khususnya perdagangan produk-produk pertanian melalui sebuah memorandum saling pengertian. Penting ditingkatkan kerja sama di bidang kehutanan, penanganan bencana, kerja sama antarkementerian yang bergerak di bidang perikanan dan akuakultur.

Untuk mengetahui apa saja yang akan dilakukan oleh jajaran Kedutaan Besar Indonesia untuk Republik Peru merangkap negara Bolivia, wartawan Koran Jakarta, Frans Ekodhanto, berkesempatan mewawancarai Dubes Indonesia untuk Republik Peru merangkap negara Bolivia, Marina Estella Anwar Bey, di Jakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Apa pesan Presiden Joko Widodo kepada Anda sebagai Dubes Indonesia untuk Republik Peru merangkap Bolivia?

Presiden Joko Widodo dan Menlu Retno LP Marsudi mengarahkan kami agar jangan tergantung pada pasar tradisional saja. Jika sewaktu-waktu negara-negara tradisional tersebut down atau tidak punya uang, mereka membatasi daya belinya maka kita perlu mencari pasar-pasar baru.

Pasar-pasar baru tersebut, antara lain di Amerika Latin, Asia Selatan, Eropa Timur. Salah satunya Peru dan Bolivia karena mereka menjadi anggota banyak grup dan mempunyai perjanjian perdagangan dengan banyak negara, seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, Thailand, Malasyia dan banyak negara lain yang kemudian bisa kita manfaatkan.

Untuk mendukung pengembangan pasar baru, apa yang dilakukan pemerintah?

Sekarang ini, Kemlu dengan Kemendag sudah mengadakan pembahasan mengenai perjanjian perdagangan. Nah, salah satu tugas yang harus saya selesaikan sebagai Dubes, salah satunya adalah mempercepat rampungnya perjanjian perdagangan Indonesa dan Peru.

Mungkin dengan perjanjian ini, pajaknya bisa menjadi nol persen dan akhirnya perdagangan kita bisa ditingkatkan. Nah, ketika barang sudah sampai ke Peru dan para pengusaha yang ada di Peru tertarik dengan barang-barang dari Indonesia, maka bisa diekspor lagi ke negara-negara lain.

Keuntungan dari perjanjian kerja sama ini selain pajak, apa lagi?

Dengan percepatan diselesaikan perjanjian dagang ini, tentu menjadi salah satu daya tarik para pengusaha untuk lebih meningkatkan perdagangan. Tapi, sebenarnya Indonesia dan Peru sudah banyak perjanjian yang ditandatangani, salah satunya perjanjian pertahanan. Ada juga kerja sama pertanian, pencegahan narkoba, pendidikan berupa pengiriman diplomat.

Kapan dimulainya kerja sama bilateral Indonesia dengan Peru dan Bolivia?

Hubungan bilateral Indonesia Peru itu 12 Agustus 1975. Kalau Bolivia dimulai pada tahun 1965. Namun pada saat dulu, kedutaan kita di Peru merangkap Bolivia dibuka pada tahun 2002. Peru dan Bolivia ini berada di Amerika Latin.

Jika kita lihat petanya, di bagian atas ada Meksiko, Ekuador, Kolombia, Venezuella. Jadi, Peru bersebelahan dengan Brazil, di atasnya ada Ekuador, di bawahnya dia bertetangga dengan Cile dan Argentina. Berarti dia diapit oleh negara-negara besar lainnya yang ada di Amerika Latin.

Apa yang menarik dari kedua negara ini?

Indonesia harus memiliki hubungan dengan banyak negara. Yang dilihat ketika menjalin hubungan dengan banyak negara tidak saja ekonomi, tapi juga bidang lain. Mungkin jika dilihat dari kaca mata ekonomi, kedua negara ini memang tidak terlalu besar, tetapi secara politis bagi Indonesia sangat penting. Misalnya, Peru dan Bolivia mendukung keanggotaan Indonesia di DK PBB untuk tahun 2019–2020.

Dari segi ekonomi, Peru dan Bolivia menjadi anggota banyak kelompok, misalnya Peru anggota Pasific Lions, kalau Bolivia anggota Mercosur. Secara bilateral, kedua negara ini juga banyak menjalin hubungan ekonomi dan bilateral lain dengan banyak negara. Kondisi semacam ini tentunya bisa memberikan keuntungan bagi Indonesia jika ingin mendapatkan keuntungan secara ekonomi. Tentu dengan cara mengeskpor (mengirim) barang kita ke negara-negara lain yang juga memunyai hubungan bilateral dengan kedua negara ini.

Produk-produk Indonesia yang diekspor ke Peru dan Bolivia apa?

Selama lima tahun ini, hubungan Indonesia dan Peru di bidang perdagangan memberikan surplus untuk Indonesia. Pada 2016, 226 juta dollar Amerika Serikat (AS), sementara impor kita dari mereka hanya 50 juta dollar AS, artinya kita surplus. Beberapa produk yang kita ekspor, seperti spare part kendaraan, biodisel (kelapa sawit), produk karet, sepatu, tekstil, kertas, produk- perkantoran, dan garmen. Impor kita kebanyakan pakan ikan, tepung ikan, dan obat-obatan.

Apakah jarak yang jauh antara Indonesia dan Peru/Bolivia ini jadi kendala?

Ya memang jarak yang jauh masih menjadi kendala dalam menjalin hubungan kerja sama. Jarak ini membuat para pengusaha enggan menjalin bisnis yang lebih besar lagi. Memang, selama ini pasar tradisional Indonesia berada di negara-negara besar di Eropa, seperti Amerika dan Eropa Barat lainnya.

Kalau Peru dan Bolivia terkenal apanya?

Peru yang terkenal machu picchu, sebuah situs yang ada di puncak gunung. Machu picchu merupakan sebuah kawasan di Pengunungan Andes, Peru yang sudah terkenal. Kawasan ini mulai dibangun oleh bangsa Inca sekitar 14.000 SM. Mereka tidak pernah dijajah Spanyol atau negara mana pun. Yang menjadi misteri, penduduknya, yaitu penduduk Inca hilang. Tidak tahu persis kenapa hilangnya, apakah terkena penyakit atau kenapa.

Maka kalau orang bilang Peru, yang teringat atau yang terkenalnya adalah machu picchu. Kalau Bolivia saya kurang bisa mengatakan soal apa yang langsung diingat orang tentang negara ini. Namun, kedua negara ini merupakan negara berkembang dan penduduknya tidak terlalu banyak seperti Indonesia. Kalau Peru penduduknya sekitar 31 juta, kalau Bolivia 10, 9 juta atau hampir 11 juta, tapi mereka kaya akan tambangnya, antara lain emas, timah, dan tembaga.

Oleh karena itu, sekarang tidak hanya dengan Uni Eropa dan Amerika saja mereka menjalin kerja sama, sekarang Tiongkok sudah mulai masuk. Dari kekayaan tambang tersebut dapat mendorong pertumbuhan income Gross Domestic Product (GDP) Peru mencapai 8.000 dollar AS, Bolivia 3.000 dollar AS. Artinya, kekayaan tambang tersebut merupakan salah satu potensi yang besar untuk dikerjasamakan dengan Indonesia, mulai dari bahan baku, barang jadi hingga ilmu soal tambangnya, dan hal lain-lainnya.

Program kerja di bidang pendidikan dan pariwisata antara Indonesia dan Peru/Bolivia apa?

Kalau pendidikan, kerja sama dengan universitas memang belum, akan tetapi saya pernah melihat diplomat Peru sekolah di Indonesia. Kalau promosi di bidang pariwisata, salah satunya adalah bagaimana cara menarik turis Peru. Memang jika dibandingkan dengan turis dari Eropa, tentu jumlah turisnya tidak sebanyak di Eropa.

Sedangkan Amerika Latin, hanya 38 ribu sekian, dari Peru tidak sampai 2.000 turis. Akan tetapi turis Peru yang ke luar bisa mencapai 40 ribu kebanyakan mereka ke Amerika Serikat dan negara-negara lain. Maka, salah satu program saya adalah bagaimana mempromosikan Indonesia agar menarik 40 ribu turis itu untuk berwisata ke Indonesia.

Targetnya selama 4 tahun ini bisa naik berapa banyak turisnya?

Turis Peru yang berkunjung ke Indonesia dulu pernah sekitar 1.950 turis dan pernah juga turisnya 1.970 orang terakhir 1980. Targetnya, naik 10 persen. Peningkatan tersebut merupakan salah satu usaha yang saya lakukan dalam mendukung program pemerintah. Salah satunya memperkenalkan Indonesia di negara-negara Amerikan Latin. Jika turisnya 2.000 maka 10 persenya 200. Artinya, setiap tahun selama empat tahun ini akan bertambah 200 turis Peru yang berkunjung ke Indonesia.

Apa yang ingin Anda tawarkan dari Indonesia ke Peru dan Bolovia?

Biasanya kita promosi pariwisata, investasi, dan perdagangan. Investasi Peru di Indonesia hanya satu, yaitu sebuah perusahaan di bidang minuman. Target saya lebih pada perdagangan dan pariwisata. Di bidang perdagangan, tentunya meningkatkan ekspor produk atau barang dari Indonesia ke Peru maupun Bolivia.

Selama ini sudah ada, saya akan meningkatkan jumlah ekspornya serta mengirim produk baru, seperti meubel daripada mereka mengambil dari Thailand atau Vietnam. Sedangkan pariwisatanya, memang sampai saat ini Bali masih menjadi destinasi wisata favorit turis manca negara. Saya akan memperkenalkan 10 destinasi lain yang menjadi program prioritas wisata pemerintah.

Upaya lainnya?

Saya akan memperkenalkan seni dan kuliner Indonesia untuk menarik perhatian dan minat turis Peru dan Bolivia. Salah satu kesenian yang saya perkenalkan, seperti tari-tarian, sedangkan kulinernya seperti rendang. Bentuknya adalah mengikuti berbagai macam pameran, baik makanan dan minuman, produk-produk dan berbagai macam kegiatan yang bisa memperkenalkan Indonesia kepada Peru, Bolivia bahkan negara-negara Amerika Latin lainnya.

Kira-kira, apa kendala yang akan dihadapi dalam menjalankan program kerja Anda?

Kebetulan saya pernah ke Peru untuk Delegasi APEC, jadi hampir sama seperti kita jika dilihat dari warna kulit, ukuran tubuh dan ramah sama orang asing. Seperti kita orang Indonesia, kalau ketemu dengan orang asing ramah dan senang menolong, mereka pun demikian. Saya kira kendalanya tidak ada.

Tantangannya, bagaimana memperkenalkan dan meyakinkan aneka hal tentang Indonesia. Sebab, di Eropa kadang ada orang yang tidak kenal Indonesia, apa lagi ini di Amerika Latin karena jaraknya sangat jauh. Akan tetapi dari segi pemerintah, mereka tertarik untuk meningkatkan kerja sama dengan Asia Pasifik.

Cara Anda memperkenalkan Indonesia seperti apa?

Saya akan memperlihatkan keindahan alam, salah satunya dengan memutar film. Memperkenalkan makanan, mempertunjukkan tari-tarian, memperdengarkan musik tradisional seperti gamelan, membacakan puisi-puisi Indonesia agar mereka tertarik. 

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment