Koran Jakarta | November 22 2018
No Comments
Nilai Tukar

Lira Anjlok, Ekonomi Turki Makin Tertekan

Lira Anjlok, Ekonomi Turki Makin Tertekan

Foto : AFP Photo
A   A   A   Pengaturan Font

New York - Nilai tukar lira, mata uang Turki, kembali mengalami penurunan tajam dan menyentuh rekor terendah setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, resmi melipatgandakan bea impor logam ke Turki, Jumat (10/8).

Lira melemah 14 persen menjadi 6,26 lira ( 14.279 rupiah) terhadap dollar AS setelah Trump mengutarakan pengumuman itu di Twitter.


“Saya meresmikan pelipatgandaan bea impor terhadap baja dan aluminium untuk Turki ketika mata uang mereka, lira, anjlok dengan cepat terhadap dollar kita yang sangat kuat! Aluminium sekarang akan menjadi 20 persen dan baja 50 persen. Hubungan kami dengan Turki tidak baik saat ini!” kata Donald Trump.


Kicauan Trump muncul setelah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, meminta warga menukarkan dollar dan mata uang asing lainnya, serta kepemilikan emas mereka menjadi lira.


“Tukarkan euro, dollar, dan emas yang Anda simpan di bawah bantal dengan lira di bank-bank kita. Ini adalah perjuangan domestik dan nasional,” kata Erdogan.


Erdogan mengatakan Turki menghadapi “perang ekonomi” dan negaranya akan merespons ke negara-negara yang memulai. Indeks harga saham Turki juga anjlok pada hari Jumat ketika iShares MSCI Turkey ETF anjlok 13,8 persen. Sebelumnya, ETF sudah terperosok 42,3 persen tahun ini.


Penurunan tajam di aset-aset Turki muncul setelah rombongan delegasi kembali dari Washington tanpa perkembangan terkait penahanan pendeta AS, Andrew Brunson, yang dituntut karena mendukung sebuah kelompok yang disalahkan dalam percobaan kudeta di tahun 2016.


Bulan lalu, Trump mengancam akan mengenakan “sanksi besar” ke negara itu jika menolak membebaskan Brunson.

AS kemudian mengumumkan sanksi tertanggal 1 Agustus terhadap Menteri Kehakiman dan Menteri Dalam Negeri Turki, serta melarang warga negara AS berbisnis dengan negara itu. AFP/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment