Koran Jakarta | October 19 2018
No Comments

LIPI WISELAND,Perangkat Pencegah Tanah Longsor

LIPI WISELAND,Perangkat Pencegah Tanah Longsor

Foto : antara/ADITYA PRADANA PUTRA
A   A   A   Pengaturan Font

Teknologi LIPI WISELAND merupakan sebuah sistem pemantauan gerakan tanah berbasis jejaring sensor nirkabel.

Perangkat ciptaan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) ini mampu menyediakan teknologi pemantauan gerakan tanah yang lebih efektif dan andal untuk sistem peringatan dini pada kasus gerakan tanah di daerah yang luas. Perangkat ini juga bisa digunakan sebagai sistem pemantauan struktur bangunan, seperti Jembatan.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa bencana tanah longsor merupakan bencana yang paling banyak menimbulkan korban jiwa meninggal dunia di Indonesia. Setidaknya 19 orang meninggal dunia akibat bencana tanah longsong di sejumlah wilayah di Indonesia sejak awal Januari hingga 7 Februari 2018.

Frekuensi bencana tanah longsor pun cukup sering terjadi seiring dengan kondisi musim penghujan yang menjadi salah satu faktor risiko bencana tanah longsor.

BNPB menyebutkan bahwa potensi tanahlongsor di Pulau Jawa meningkat di daerah-daerah yang memiliki topografi pegunungan, perbukitan dan di lereng-lereng tebing dengan permukiman di bawahnya. Tipe wilayah ini memanjang dari bagian tengah hingga bagian selatan pulau Jawa.

Berdasarkan peta potensi tanah longsor pada Februari 2018, wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur merupakan daerah yang memiliki potensi ancaman tanah longsor yang paling tinggi. Menilik tingginya ancaman tanah longsor ini, LIPI sejak 2015 lalu telah mengembangkan penelitian terkait dengan teknologi pemantauan gerakan tanah yang menjadi salah satu pemicu terjadinya tanah longsor.

Teknologi yang dinamai sebagai LIPI Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring atau LIPI WISELAND ini diharapkan bisa menjadi bagian dari sistem peringatan diri untuk masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsong.

Sebagaimana diketahui, sistem peringatan dini dapat mengurangi resiko jatuhnya korban jiwa akibat bencana tanah longsor. Dengan, prinsip dan cara kerjanya, teknologi ini mampu menyediakan jeda waktu setidaknya dua jam, sebelum longsor benar-benar terjadi.

Adrin Tohari, peneliti dari Pusat Penelitian (Puslit) Geoteknologi LIPI yang terlibat dalam riset ini mengatakan teknologi ini merupakan suatu sistem pemantauan gerakan tanah berbasis jejaring sensor nirkabel yang sudah teruji dan dapat diandalkan. “Tujuan dari pengembangan LIPI WISELAND adalah untuk menyediakan teknologi pemantauan gerakan tanah yang lebih efektif dan handal dalam memantau dan memberikan peringatan dini dari ancaman berbagai jenis gerakan tanah di daerah yang luas,” terang Adrin.

LIPI WISELAND mempunyai beberapa keunggulan, antara lain dapat menjangkau daerah pemantauan yang luas berdasarkan jejaring sensor, menyajikan data dalam waktu nyata dengan akurasi tinggi, serta memiliki catu daya yang mandiri menggunakan tenaga panel surya dan baterai kering atau lithium. “Sebenarnya tidak hanya untuk memantau ancaman gerakan tanah/tanah longsor, LIPI WISELAND juga bisa memantau kondisi keamanan struktur tiang bangunan tinggi seperti jembatan dan gedung bertingkat,” tambah Adrin.

Sistem monitoring ini telah diimplementasikan di lokasi rawan gerakan tanah di Desa Pangalengan, Kabupaten Bandung; Jembatan Cisomang ruas tol Cipularang, Kabupaten Purwakarta; dan Desa Clapar, Kabupaten Banjarnegara.

Aplikasi dan cara kerja

LIPI WISELAND sendiri sudah mulai dikembangkan sejak 2015 lalu. Hingga saat ini telah diaplikasikan dan dipasang disejumlah lokasi rawan gerakan tanah, yaitu daerah Pangalengan Kabupaten Bandung, ruas tol Cipularang serta di daerah Madukara, Banjarnegara.

Supriyadi dari pusat penelitian Fisika LIPI yang terlibat dalam penelitian ini menjelakan, bahwa LIPI WISELAND menggabungkan sejumlah sensor yang dipasang di daerah rawan bencana yang dapat memantau, merekam dan mengirimkan data perubahan kondisi hidrologi dan pergerakan lereng di daerah yang rawan atau berpotensi gerakan tanah. Perangkat ini mampu bekerja secara realtime.

Perangkat ini terdiri dari satu unit gateway, empat unit modul sensor tiltmeter, empat unit modul ekstensometer, empat unit modul sensor kadar air dan tekanan air pori tanah, serta satu unit alat takar hujan. Sebagai bagian dari sistem peringatan dini, perangkat ini juga dilengkapi dengan alarm yang akan memberikan tanda berupa sirine manakala terjadi perubahan yang tinggi pada data ataupun sudah melewati ambang batas kondisi aman.

“WISELAND bekerja dengan cara menggunakan teknologi komunikasi nirkabel berbasis Xbee, sehingga setiap modul sensor berkomunikasi satu sama lain dan juga berkomunikasi langsung dengan gateway dan bisa menyajikan data secara realtime dan bisa diakses dari perangkat apapun. PC ataupun ponsel,” kata Suryadi

Teknologi WISELAND juga dikembangkan tidak hanya bersifat stationery yang menetap di satu tempat, WISELAND juga kini dikembangkan dalam mobile type. Sehingga dapat digunakan untuk memantau potensi longsor susulan pada daerah atau lokasi bencana tanah longsor. nik/E-6

“Kulit Elektronik” Baru yang Dapat Didaur Ulang

Peneliti dari University of Colorado, Boulder (CU Boulder) berhasil mengembangkan jenis baru dari kulit elektronik lunak yang mudah dibentuk dan dapat didaur ulang dengan baik. Kulit elektronik ini memiliki aplikasi luas mulai dari pengembangan robotika dan prostetik hingga perangkat biomedis yang lebih baik.

Kulit elektronik, yang dikenal dengan e-skin ini merupakan bahan tembus pandang tipis yang bisa meniru fungsi dan sifat mekanik kulit manusia. Saat ini, beragam jenis dan ukuran e-skin yang dapat dipakai dikembangkan di laboratorium di seluruh dunia karena perannya yang besar di bidang kedokteran, sains dan teknik.

Jianliang Xiao , asisten profesor di CU Boulder yang terlibat dalam riset ini mengatakan bahwa e-skin baru ini memiliki sensor yang tertanam untuk mengukur tekanan, suhu, kelembaban dan aliran udara. E-skin ini juga memiliki beberapa sifat khas, termasuk jenis baru dari polimer jaringan dinamis berikat kovalen.

Bahan ini dikenal sebagai polimine yang telah dicampur dengan nanopartikel perak untuk memberikan kekuatan mekanik, stabilitas kimia dan konduktivitas listrik yang lebih baik.

Dalam riset ini, Jianliang Xiao, juga menggandeng rekan peneliti lain yakni Wei Zhang, yakni profesor di bidang kimia Biokimia. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Science Advances. Riset ini juga melibatkan peneliti lainnya, Zhanan Zou dan Yan Li dari teknik mesin dan Chengpu Zhu dan Xingfeng Lei dan biokimia.

“Yang unik di sini adalah ikatan kimiawi poliimina yang kita gunakan memungkinkan kulit elektornik ini mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan dapat didaur ulang sepenuhnya pada suhu kamar,” kata Xiao. “Dengan jutaan ton limbah elektronik yang dihasilkan di seluruh dunia setiap tahun, daur ulang kulit elektornik kita bisa menjadi pertimbangan ekonomi dan lingkungan yang baik,” tambah Xiao.

“Banyak orang yang mengenal film The Terminator, di mana kulit penjahat utama film tersebut “sembuh kembali” hanya beberapa detik setelah ditembak, dipukul atau dilindas,” kata Zhang. Sementara proses baru tidak begitu dramatis, penyembuhan luka kulit atau patah e-skin, termasuk sensor, dilakukan dengan menggunakan campuran tiga senyawa yang tersedia secara komersial.

Manfaat lain dari kulit elektonik yang dikembangkan CU ini adalah bahwa ia dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan permukaan melengkung seperti tangan manusia dan tangan robot dengan menerapkan panas dan tekanan moderat tanpa menambahkan tekanan berlebihan.

“Katakanlah Anda menginginkan robot merawat bayi,” kata Zhang. “Kalau begitu Anda akan mengintegrasikan e-skin pada jari robot yang bisa merasakan tekanan bayi. Idenya adalah mencoba dan meniru kulit biologis dengan e-skin yang memiliki fungsi yang diinginkan,” tambah Zhang.

Untuk mendaur ulang kulit, perangkat direndam dalam larutan daur ulang. Ini agar polimer terdegradasi menjadi oligomer (polimer dengan derajat polimerisasi biasanya di bawah 10) dan monomer (molekul kecil yang dapat digabungkan menjadi polimer) yang dapat larut dalam etanol.

Kondisi itu menyebabkan ano partikel perakpun tenggelam. “Solusi daur ulang dan nanopartikel kemudian dapat digunakan untuk membuat e-skin baru yang fungsional,” kata Xiao. nik/berbagai sumber/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment