Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments

Lingkungan dan Kesehatan Mental

Lingkungan dan Kesehatan Mental

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Oleh Abdul Syukur

Tentu bukan kebetulan bila Hari Kesehatan Jiwa atau Mental Sedunia (World Mental Health/WMH) yang jatuh 10 Oktober berdekatan Hari Habitat Sedunia (Worl Habitat Day/WHD) yang diperingati Senin pertama Oktober. Apalagi, sudah ada kesepahaman “inter disipliner” bahwa penyakit apa pun, termasuk yang terkait dengan mental atau jiwa, selalu ada peran penting tempat tinggal (habitat).

Misalnya, warga kawasan kumuh perkotaan yang tidak memenuhi standar kelayakan untuk hidup sehat, lebih mudah sakit. Mereka juga lebih rentan terkena gangguan jiwa. Sebaliknya, bila habitatnya bersih dan baik, kesehatan atau kualitas hidup juga akan lebih baik dibanding mereka yang tinggal di kawasan kumuh.

Terkait ini, layak diapresiasi langkah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) senantiasa berupaya meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Dalam rangka turut memperingati WHD, Kemen PUPR melakukan beberapa cara mewujudkan kondisi perkotaan dan kebutuhan dasar permukiman layak huni.

Hal itu tecermin dalam Rencana Strategis Kemen PUPR yang mencanangkan Gerakan 100-0-100. Mereka menyediakan 100 persen akses air minum aman, pengurangan luasan kawasan kumuh perkotaan hingga 0 persen, dan penyediaan 100 persen akses sanitasi layak.

Bagaimanapun kondisi lingkungan yang rusak atau tidak sehat, termasuk perkotaan bisa menjadi salah satu faktor kerentanan warga terkena gangguan kejiwaan. Secara global menurut WHO, sekitar 450 juta jiwa dari tujuh miliar penduduk dunia mengidap gangguan jiwa, khususnya depresi. Diperkirakan dua sampai tiga per 1.000 penduduk negeri ini mengalami gangguan jiwa.

Hasil Riskesdas 2007, sekitar 0,64 persen atau hampir sejuta dari seluruh penduduk Indonesia mengidap gangguan jiwa berat, sedangkan gangguan jiwa ringan dan sedang mencapai 19 juta jiwa lebih. Secara khusus perlu memberi perhatian lebih pada para penderita gangguan jiwa lanjut usia.

Terdapat 800 juta lansia dunia. Sedang di negeri ini dari 24 juta lansia, dipekirakan 5 persennya mengalami gangguan depresi. Kesulitan ekonomi kalangan bawah atau keterasingan dan dikucilkan di kalangan menengah atas, memicu para lansia mengalami depresi.

Tak heran, ada yang takut menjadi tua. Mereka memilih mati muda dengan bunuh diri karena merasakan kehampaan. Menurut WHO, tahun lalu, satu juta orang bunuh diri. Di negara yang ekonominya membaik seperti Singapura, Korsel, Jepang, Tiongkok dan India, angka bunuh diri justru tinggi.

Maka, kita diajak peduli pada para lansia sehingga hak-hak dasar mereka untuk pelayanan medis dan habitat yang kondusif, tidak diabaikan. Dengan peduli lansia, kita sekaligus belajar mempersiapkan diri menghadapi usia tua dengan kesiapan mental yang lebih tangguh agar terhindar dari gangguan jiwa.

Memang sehat tidaknya seseorang tergantung pada banyak faktor, utamanya habitat atau lingkungan hidup. Destruksi lingkungan seperti pencemaran udara dan air menurunkan kesehatan. Demikian juga penurunan kualitas lingkungan akibat bencana alam seperti banjir, longsor, kebakaran hutan, dan kabut asap.

Jangankan kesehatan manusia, hewan pun amat dipengeruhi kondisi habitat. Misalnya, perubahan iklim, ikut mengubah kualitas habitat di kutub. Kini semakin banyak ditemukan anjing laut atau penguin stres dan mati.

Tragisnya, dari segenap penjuru dunia, tak henti-hentinya terdengar informasi seputar kerusakan lingkungan dengan pelaku utama makhluk paling berakal budi bernama manusia. Dunia tengah menghadapi krisis ekologi yang lebih hebat dari ‘holocaust.’ Krisis ekologi menyebabkan efek domino seperti krisis pangan, ekonomi, keuangan sehingga menurunkan kualitas hidup. Ujung-ujungya semakin banyak orang mengidap gangguan jiwa.

Tidak Imbang

Gangguan jiwa memang dipicu ketidakimbangan ekologis. Ketidakimbangan bisa dipulihkan bila manusia mau masuk menjadi bagian dari tatanan ekologis. Ini sesuai dengan makna “oikos”( Yunani: rumah tempat tinggal atau lingkungan hidup) dan “logos” perbincangan atau ilmu.

Di sinilah diperlukan komunikasi ekologis antara manusia dan habitat lingkungan hidup. Manusia jangan eksploitatif lagi! Komunikasi diharapkan mendorong integrity of creation atau keutuhuhan ciptaan. Inilah kondisi ideal yang diharapkan bakal terjadi.

Untuk itu, daripada terus terjebak dalam korupsi dan praksis politik yang kontra produktif, secara konkret, pemerintah perlu memiliki kebijakan pro lingkungan. Caranya, buat kebijakan perumahan, pengelolaan sampah, dan sanitasi serta tata ruang wilayah yang ramah alam.

Namun kondisi ideal sulit dicapai karena minim anggaran. Banyak pemerintah dunia mengecilkan sektor lingkungan. Anggaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2017 ini sebesar 6,77 triliun dari total APBN kitapada 2017 sebesar 2.080 triliun. Maka perlu peran kepedulian perorangan. Para pengusaha perlu mengikuti jejak Bill Gates yang telah berani menyumbangkan miliaran dollar AS bagi program vaksinisasi melalui WHO.

Bill Gates juga sudah menggandeng pengusaha Dato Sri Prof Dr Tahir MBA. Kita berharap lewat program beasiswa, ke depan negeri ini bisa menutup kekurangan psikolog atau psikiater guna membantu para penderita jiwa. Saat ini ada 650.000 psikiater dan 450.000 psikolog. Padahal India punya satu juta psikiater.

Peringatan WHD dan WMD tahun ini semoga menjadi momentum mengugah kesadaran bangsa guna menjaga dan memelihara habitat atau lingkungan. Dengan demikian, rakyat bisa melintasi usia secara sehat dan bahagia. 

Penulis Alumnus Al-Ahliyya Amman University, Yordania

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment