Koran Jakarta | October 20 2018
No Comments
wawancara

Lambertus Somar

Lambertus Somar

Foto : Koran Jakarta/ Muhaimin A Untung
A   A   A   Pengaturan Font

Narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) menjadi persoalan yang tak kunjung usai, tidak hanya di negeri ini, namun juga di dunia. Belakangan, narkoba kembali menjadi sorotan masyarakat. Sederet nama pesohor dunia hiburan ditangkap karena kedapatan menyalahgunakan narkoba.

Masih ditambah dengan penangkapan pelaku pencucian uang hasil narkoba senilai 6,4 trilliun rupiah. Belum lagi perdagangan narkoba hingga pabrik narkoba yang santer dikabarkan berlangsung dari dalam lembaga permasyarakatan. Tindak penangkapan dan rehabilitasi tidak membawa efek jera, bahkan narkoba justru semakin tumbuh bak jamur di musim hujan. Kondisi ini yang juga menyita perhatian dan keprihatinan Romo Lambertus Somar MSC. Seorang rohaniawan, yang memilih pengabdian dengan membebaskan masyarakat yang tersesat dalam jeratan narkoba.

Pria yang akrab disapa Romo Somar ini mendirikan panti rehabilitasi narkoba, Kedhaton Parahita dengan menggunakan metode therapeutic community. Metode therapeutic community diakui sejumlah negara, sebagai cara yang paling efektif untuk merehabilitasi pecandu narkoba. Metode ini mengajak masyarakat untuk menerapi pecandu narkoba. Tidak hanya menyembuhkan pasien, namun dijaga agar tidak terjerumus kembali menggunakan narkoba. Romo Somar juga menjadi Vice President World Federation of Therapeutic Community (WFTC) di New York, Amerika Serikat (AS) dan badan pengurus dalam Asian Federation of Therapeutic Community (AFTC).

Untuk mengetahui lebih jauh masalah penanganan narkoba, khususnya penerapan metode therapeutic community di Panti Rehabilitasi Kedhaton Parahita, wartawan Koran Jakarta, Dini Daniswari dan Citra Larasati, berkesempatan mewawancarai pembina Panti Rehabilitasi Kedhaton Parahita dan Ketua Yayasan Kasih Mulia, Romo Lambertus Somar MSC, di Kedhaton Parahita, Sentul City, Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/2). Berikut petikan selengkapnya.

Di mana sebetulnya akar persoalan penyalahgunaan narkoba? Penyalahgunaan narkoba karena kita telah kehilangan sesuatu dalam keluarga. Seperti pendidikan dalam keluarga hilang, orang kehilangan pegangan hidup dan orang kehilangan nilai-nilai hidup. Saya lihat kehidupan masyarakat begitu, kita nggak menjaga kesehatan, komunikasi satu sama lain kacau. Lihat anak-anak, orang tua bekerja dari pagi sampai malam, kapan ketemu anak-anaknya. Anak kehilangan orang tua, dia cari teman sendiri. Ini fakta. Di sisi lain, secara sosial dan ekonomi, orang mengalami kesulitan. Jadi, tekanan membuat orang mencari jalan keluar. Sebagian orang menganggap narkoba adalah jalan keluar. Di luar negeri, saya lihat itu sama.

Sejauh mana efek membahayakan yang ditimbulkan narkoba? Narkoba membawa efek negatif yang besar. Secara fisik orang mudah terkena penyakit macammacam. Narkoba membuat orang malas bekerja atau mudah marah, tergantung dengan obat yang dikonsumsinya. Ini semua akan menjadi gangguan di keluarga dan masalah sosial, bukan hanya penyakit tapi masalah sosial. Orang menjadi imbalance, gampang marah, gampang tersinggung, pikirannya kacau. Akhirnya, orang kehilangan nilai-nilai kehidupan, seperti kebaikan, kesabaran, saling mendengarkan dan memaafkan.

Lalu, apa itu therapeutic community? Nah, sejak tahun 1994, saya melakukan penelitian. Sudah keliling Asia sampai Eropa. Kemudian pada 1998, saya menemukan cara mengatasi penyakit narkoba hanya dengan satu model, yaitu therapeutic community. Seperti namanya, metode ini akan melibatkan masyarakat atau lingkungan di sekitar pecandu. Ini bisa diartikan panti rehabilitasi, lingkungan maupun masyarakat.

Bagaimana therapeutic communiy menjadi metode pengobatan yang efektif? Dalam metode ini, masyarakat saling memperhatikan dan melihat kebutuhan manusia secara komprehensif dan secara holistik (menyeluruh), kalau demikian lingkungannya menjadi kondusif. Secara sosial manusia saling berhubungan maupun saling komunikasi. Hal ini akan menjadi pelindung dalam mengatasi kesulitan hidup sehingga narkoba menjadi hal yang ditolak. Manusia ditolong untuk dikembalikan ke harkatnya.

Siapa saja yang menjadi sasaran penyembuhan? Tidak hanya orang yang terkena narkoba. Orang yang terkena narkoba harus disembuhkan, orang tuanya juga harus disembuhkan sebab penyakit itu (narkoba) saling mempengaruhi. Rehabilitasi itu ada dua yaitu orang tua dan anak. Orang yang sudah sembuh kami jadikan jaringan bersama orang tua dan mantan-mantan pengguna narkoba. Kami harus menjaga bencana baru dan mengajak masyarakat turut ambil bagian, bukan hanya menjaga mencegah penyerangan narkoba, melainkan membangun lingkungan yang sehat. Untuk itu, saya membuka panti rehabilitasi dan asosiasi keluarga yang menangani orang tua yang anaknya dirawat di sini (Kedhaton Parahita). Mereka nanti berkomunikasi dengan masyarakat. Sebab tidak mungkin, orang yang terkena narkoba kembali ke masyarakat begitu saja. Panti Rehabilitasi Kedhaton Parahita berdiri pada 21 April 1999 dan Yayasan Kasih Mulia berdiri pada 21 oktober 1998.

Mengapa tidak mungkin langsung dikembalikan ke masyarakat? Karena biasanya pertentangan. Untuk itu, kami bikin open house di sini (Kedhaton Parahita) orang bisa datang, kita bikin pesta, seperti Tahun Baru China, Lebaran, atau momen-momen besar lainnya. Mereka mulai melihat suasana yang berbeda, siapa staf dan siapa residential (pasien) tidak kelihatan. Ini akan menjadi sebuah cerita, ada perubahan dari para pengguna narkoba yang tengah melakukan rehabilitasi dan disaksikan oleh masyarakat luas bukan sekadar cerita dongeng. Sebagian residential bermain sepak bola di kampung.

Secara teknis, bagaimana therapeutic community bekerja? Mereka (residential) sharing hidup bersama secara terstruktur. Mereka belajar menggunakan waktu dengan baik. Dulu menggunakan waktu salah, sekarang dari pagi sampai malam terstruktur. Kami ajarkan kalau malas banyak kerugiannya, kalau rajin banyak keuntungannya. Mereka bisa mengatur tempat tidur dengan rapi benar. Karena mereka akan ditanyakan rapi untuk disuruh atau rapi untuk senang. Kami juga membuat pelatihan supaya kalau pulang tidak nganggur. Kami tanyakan ke orang tua minatnya apa. Kalau ingin kuliah lagi, mereka dilatih untuk membuat ringkasan-ringkasan.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam proses rehabilitasi di Kedhaton Parahita? Paling cepat 18 sampai 24 bulan. Di sini, enam bulan pertama atau primary digunakan untuk memahami diri dan mengembangkan diri. Enam bulan berikutnya adalah re-entry, tahap ini merupakan tahap kembali ke masyarakat bukan menjadi beban masyarakat. Dalam hal ini, panti bekerja sama dengan orang tua untuk mengawasi residensial. Enam bulan berikutnya merupakan after care, pihak panti, orang tua dan residensial kerap melakukan pertemuan untuk saling diskusi dan menguatkan.

Metode therapeutic community ini katanya menekan angka mantan pecandu yang sudah sembuh untuk kembali memakai narkoba? Iya. Biasanya dengan metode terapi lain, ada pasien yang bisa kembali lagi pakai narkoba. Sistem ini menjamin bahwa lingkungan dan masyarakat turut bertanggung jawab. Mereka saling menolong agar tidak kembali menyalahgunakan narkoba.

Kendala terbesar yang dihadapi dalam merehabilitasi apa saja? Untuk merehabilitasi dan membangun lingkungan, butuh konselor adiksi profesional. Namun sayangnya, Indonesia minim jumlah konselor adiksi. Rehabilitasi narkoba tidak bisa dilakukan main-main. Lalu, apa solusi untuk mengatasi krisis konselor adiksi ini? Saya bekerja keras menghubungi Colombo Plan, yang memiliki sistem mendidik terapisterapis, melatih konselor-konselor adiksi. Hingga akhirnya, Kedhaton Parahita ditunjuk untuk melatih konselor adiksi, dengan ujian dan sertifikasi internasional. Jadi, diharapkan jika ada pihak swasta yang membuka panti rehabilitasi narkoba, tidak asal-asalan, tapi dikelola secara profesional.

Bagaimana perjalanan Anda membangun lembaga pelatihan tersebut? Pada 12 Oktober 2015, saya mendirikan suatu lembaga pelatihan untuk tenaga profesional di bidang adiksi (education provider) yang resmi ditunjuk oleh Colombo Plan, Internatiomal Centre for Certification and Education of Addiction Profesionals (ICCE). Kedhaton Parahita juga menjadi panti rehabilitasi yang mendapat lisensi dari WFTC. Lembaga pelatihan ini kemudian berkembang pesat dan rencananya akan menjadi perguruan tinggi dalam waktu dekat. Perguruan tinggi ini akan dibangun di dua negara, Indonesia dan Filipina. Nanti akan ada D1, D2, D3 sampai S-1. Induknya tetap di Indonesia, yang di Manila untuk memfasilitasi peminat dari dunia internasional.

Mengapa di Filipina? Di Filipina untuk internasionalnya. Sekarang, kami sedang membangun gedung pendidikan diharapkan tahun ini selesai. Dipilih Filipina karena Indonesia dan Filipina culture-nya sama. Institut International Therapeutic Commuities (IITC) di Fipilina akan menjadi jaringan therapeutic communiy secara internasional. Saat ini, Eropa baru mulai mengakui, sedangkan AS yang pernah mengakui therapeutic communiy, lima tahun lalu meninggalkan therapeutic communiy dan beralih penanganan secara pengobatan. Selain itu, Di Filipina, kami sudah banyak bergerak ke mana-mana dan IITC sudah diakui pemerintah setempat. Kami juga ingin memberikan sumbangan ke dunia internasional mengingat masalah narkoba di dalam negeri cukup kompleks.

Bagaimana kurikulum yang akan ditawarkan nantinya? Kurikulum yang ditawarkan dalam perguruan tinggi tersebut nantinya mulai dari materi fisiologi, farmakologi, manajemen kasus untuk profesional bidang adiksi, intervensi krisis, sampai pada etika profesional bidang adiksi. Nanti ada ujian internasionalnya, International Certified Addiction Professionals (ICAP) 1, ICAP2, hingga ICAP III. Bidang adiksi ini terbuka bagi berbagai bidang profesi, seperti konselor, pekerja sosial, praktisi klinis dan medis, pembuat kebijakan, akademisi, maupun masyarakat yang bekerja dalam bidang adiksi. Akan diajarkan juga materi tentang therapeutic community.

Berapa jumlah konselor adiksi yang ada saat ini di Indonesia dan berapa kebutuhan idealnya? Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), kami hanya punya 100 konselor adiksi. Jumlah pecandu narkoba mencapai 5,9 juta orang. Itu sangat kurang. Idealnya paling tidak satu konselor adiksi menangani 10 orang penderita. N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment