Koran Jakarta | May 28 2018
No Comments
Pendanaan Pertanian

Lagi, Indonesia Terpilih sebagai “Co-Chair” IFAD

Lagi, Indonesia Terpilih sebagai “Co-Chair” IFAD

Foto : Koran Jakarta/ Citra Larasati
Pimpin Sidang IFAD - Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Makro Ekonomi dan Keuangan Internasional, Rionald Silaban (di layar), mewakili Indonesia dalam pertemuan ke-41 Governing Council International Fund of Agricultural Development (IFAD) 2018 di Roma, Italia. Dalam kesempatan ini, Indonesia kembali terpilih menjadi Co-Chair IFAD periode 2018-2020.
A   A   A   Pengaturan Font

Roma – Indonesia kembali terpilih untuk memimpin konferensi ke-41 Badan Pendanaan Pembangunan Pertanian PBB atau International Fund for Agricultural Development of the United Nations (IFAD) untuk periode 2018-2020 di Roma, Italia. Indonesia kali ini terpilih bersama-sama dengan ketua dari Belanda dan wakil ketua kedua dari Argentina. Staf Ahli Menteri Keuangan, Bidang Makro Ekonomi dan Keuangan Internasional, Rionald Silaban mengatakan ini kali kedua Indonesia terpilih menjadi Co-Chair (Wakil Ketua) IFAD.

Posisi ini, kata Rionald sangat strategis karena Indonesia akan terlibat langsung dalam diskusi dan pengambilan keputusan kebijakan IFAD. “Seperti dalam laporan hari ini, kita terlibat dalam finalisasi mengenai revisi atas tata cara proses pemilihan Presiden IFAD,” ujar Rionald usai menjadi Chairperson dalam salah satu sesi sidang dalam pertemuan ke-41 Governing Council IFAD 2018, seperti diwartakan wartawan Koran Jakarta, Citra Larasati dari Roma, Italy, Selasa (13/2) waktu setempat. Governing Council merupakan dewan pengambil keputusan tertinggi di IFAD, yang merupakan satu-satunya institusi keuangan internasional yang secara khusus didedikasikan untuk mendorong investasi di kawasan pedesaan demi tujuan pengentasan kemiskinan dan kelaparan.

Ada sejumlah perubahan dalam pemilihan tata cara dan pemilihan Presiden IFAD, diantaranya soal kriteria kandidat, dan proses kampanya yang harus dilakukan secara etis. Lebih dari itu, terpilihnya Indonesia juga menunjukkan partisipasi aktif Indonesia dalam dialog global. “Ketika IFAD menunjuk Indonesia sebagai Co-Chair itu sebagai suatu kepercayaan terhadap performa Indonesia di IFAD,” tegas Rionald. Kehadiran Rionald sebagai delegasi dari Indonesia juga dalam rangka menghadiri The eleventh Replenishment of the Fund IFAD.

Terdapat target sebesar 1,2 miliar dollar AS untuk membiayai operasi sebesar 3,5 miliar dollar. “So far (sejauh ini), angka yang didapat baru sekitar 845 juta dollar AS,” sambung Mantan Direktur Eksekutif Bank Dunia 2015 ini. Hal terpenting dari hubungan IFAD untuk Indonesia kali ini, kata Rionald, ketika lembaga itu menetapkan Jakarta sebagai kantor regionalnya. Meski diakui Rionald, saat ini program IFAD di Indonesia masih terfokus pada wilayah timur, termasuk nelayan di pesisir. Sebab, warga di kawasan Indonesia timur membutuhkan perhatian lebih.

Sejak awal pendiriannya pada 1977 sampai 2016, IFAD mengesahkan lebih dari 1.037 proyek yang telah membantu sekitar setengah miliar petani di dunia. Dalam program pembangunan pertanian IFAD periode ke-11 (2019-2021), lembaga di bawah naungan PBB itu menargetkan mengucurkan program pinjaman dan hibah pertanian bernilai lebih dari 3,5 miliar dollar AS.

Kepercayaan Meningkat

Kuasa Usaha Sementara KBRI Roma, Charles Hutapea menyambut baik kembali terpilihnya Indonesia sebagai Co-Chair IFAD untuk periode 2018-2020. Hal ini menunjukkan kepercayaan dunia terhadap Indonesia kian meningkat. Dia mengakui, setelah Indonesia menjadi anggota G20, postur diplomasi Indonesia kian kuat di dunia. “Kami pikir ini sangat strategis karena indonesia banyak terlibat dalam memikirkan persoalan dunia,” pungkas Charles. cit/E-10

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment