Koran Jakarta | June 18 2018
No Comments
Revolusi Industri 4.0 - Kampus Dituntut Antisipasi Jenis Profesi Baru

Kurikulum Mesti Disesuaikan

Kurikulum Mesti Disesuaikan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Perguruan tinggi dituntut menyiapkan diri untuk mengantisipasi peralihan jenis pekerjaan baru sebagai dampak revolusi industri 4.0. Salah satunya dengan merekonstruksi kurikulum agar dapat membekali mahasiswa dengan kompetensi baru yang sesuai dengan era digital dan siber.
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, mengingatkan kepada perguruan tinggi akan tantangan ekonomi digital yang sudah ada di depan mata.

Sebab berdasarkan kajian world bank tahun 2017, diperkirakan 75 juta–375 juta tenaga kerja global akan beralih profesi dimana 65 persen jenis pekerjaan masa depan belum ditemukan. “Akan muncul jenis pekerjaan baru akibat revolusi industri 4.0. Artinya, perguruan tinggi harus mampu mengantisipasi peralihan jenis pekerjaan di era ekonomi digital ini dengan menyiapkan kompetensi dosen dan kurikulum yang tepat,” kata Nasir di Jakarta, Minggu (25/2).

Menurut Nasir, sistem dan program pendidikan tinggi perlu disesuaikan agar relevan dengan Revolusi Industri 4.0. “ Perlu dilakukan rekonstruksi kurikulum yang dapat memberikan mahasiswa kompetensi yang lebih luas dan baru seperti ilmu coding, big data, artificial intelligence, dan lainnya,” sebut mantan rektor terpilih Universitas Diponegoro ini.

Selain itu, menggunakan format baru dalam proses pembelajaran mulai dari face to face, blended learning, maupun full online learning. Ia menjelaskan bahwa Kemristekdikti telah menyiapkan langkah dan kebijakan bidang riset, inovasi dan pendidikan tinggi untuk menghadapi tantangan revolusi industri 4.0.

Dunia kerja di era ekonomi digital membutuhkan kombinasi berbagai kompetensi yang berbeda dengan yang selama ini diberikan oleh sistem pendidikan tinggi. Oleh karena itu perguruan tinggi harus membekali mahasiswa dengan kompetensi yang dibutuhkan tersebut agar mampu bersaing di era ekonomi digital.

Menristekdikti juga meminta perguruan tinggi untuk mulai mempersiapkan pembelajaran daring (Online/Distance Learning) dengan merujuk pada Peraturan Menteri tentang Standar Pendidikan Tinggi Jarak Jauh (PJJ). PJJ ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pendidikan tinggi secara fleksibel lintas ruang dan waktu, dengan menggunakan teknologi informasi.

PJJ dapat dilaksanakan pada tingkat mata kuliah, program studi, dan perguruan tinggi. Indonesia saat ini mempunyai Universitas Terbuka (UT), yang dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat berperan sebagai Cyber University of Indonesia. Perguruan tinggi selain UT juga didorong untuk mengembangkan PJJ.

Pelaksanaan PJJ tetap harus memperhatikan kualitas, memenuhi standar PJJ yang meliputi aspek sistem, proses pembelajaran, pendidik dan dosen, serta infrastruktur teknologi informasi yang diperlukan. Nasir mengatakan bahwa saat ini tidak ada dikotomi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan Perguruan Tinggi Negeri dalam masalah kualitas, publik yang akan menilai hal tersebut.

Dalam hal publikasi ilmiah internasional, Menristekdikti mengapresiasi kinerja perguruan tinggi swasta. Beberapa PTS masuk 100 besar dalam jumlah publikasi ilmiah internasional, contohnya Universitas Binus di urutan 13, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di urutan 65, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta di urutan 66.

Menjadi Tantangan

Dalam kesempatan yang sama Rektor UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta), Sofyan Anif, mengatakan bahwa UMS merupakan salah satu perguruan tinggi swasta yang telah menerapkan “Distance Learning” dan siap untuk memasuki tantangan Revolusi Industri 4.0. “Ditambah masuknya perguruan tinggi asing ke Indonesia di era persaingan global ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi dalam negeri,” tutup Sofyan. cit/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment