Koran Jakarta | September 16 2019
No Comments
Transformasi Ekonomi - Pelaku Usaha Ingin Bahas Paket Kebijakan Ekonomi yang Belum Terealisasi

Kurangi Kebergantungan Modal Asing

Kurangi Kebergantungan Modal Asing

Foto : ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
DARMIN NASUTION Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
A   A   A   Pengaturan Font
Pendalaman pasar keuangan dan peningkatan investasi yang berorienstasi ekspor diharapkan bisa mengurangi kebergantungan terhadap modal asing jangka pendek yang rentan terhadap gejolak global.

JAKARTA – Pemerintah menyatakan bahwa transformasi ekonomi diperlukan untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, berdaya saing, dan berkualitas. Bentuk transformasi ekonomi yang digagas saat ini bertumpu pada pembangunan infrastruktur, penggunaan teknologi, dan pengelolaan usaha masyarakat.

“Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah mengurangi ketergantungan terhadap modal asing jangka pendek. Untuk itu, penting mengefektifkan inklusi keuangan dan investasi untuk meningkatkan ekspor,” kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution, dalam Seminar Nasional bertajuk Transformasi Ekonomi untuk Indonesia Maju, di Jakarta, pekan lalu.

Dari sisi sektor tenaga kerja, Menteri Tenaga Kerja, Hanif Dhakiri, dalam kesempatan tersebut mengatakan Hanif menjelaskan ada empat pilar dalam transformasi sistem ketenagakerjaan. Pilar tersebut yaitu pelatihan dan produktivitas, penempatan dan perluasan kesempatan kerja, hubungan industrial, dan pengawasan.

Hanif menegaskan, pihaknya tidak hanya berupaya meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan dan pendidikan vokasi, melainkan juga terus memperbaiki keseluruhan ekosistem ketenagakerjaan. “Jadi, kita upayakan bukan hanya punya skill yang baik, tapi juga pasti dapat kerja. Jaminan sosial pun harus diperkuat,” terang Hanif.

Saat ini, pihaknya berusaha meningkatkan iklim ketenagakerjaan agar tak lagi kaku. Dengan konsep flexibility labour market, sulit untuk meminta perusahaan memberi jaminan kepastian kerja. “Paradigmanya yang mesti diubah, dari semula dahulu harus kerja tetap, kini yang penting tetap kerja,” kata Hanif.

Selain pembangunan soft infrastructure berupa sumber daya manusia, kebijakan lahan pun menjadi perhatian pemerintah. Menteri ATR/BPN, Sofyan Djalil, menjelaskan kebijakan reforma agraria untuk mendorong transformasi ekonomi Indonesia.

Menurutnya, kebijakan tersebut dirancang untuk menata kembali struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah yang lebih berkeadlian. Sebab itu dilakukan penataan aset yang disertai dengan penataan akses untuk kemakmuran rakyat Indonesia.

Dia pun menyampaikan gagasan Bank Tanah sebagai salah satu fasilitator untuk meningkatkan investasi. Dengan konsep itu, akan memudahkan masyarakat pemilik tanah mendapat pinjaman modal. “Detail aturan mainnya kini sedang disiapkan,” kata Sofyan. Sementara itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai pentingnya mendorong ekspor.

 

Persoalan Serius

 

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan fokus dunia usaha saat ini adalah pada persoalan SDM, infrastruktur, investasi dan reformasi birokrasi-regulasi, serta efektivitas kebijakan fiskal.

“Keempatnya adalah persoalan serius bagi kami. Kemudian, salah satu harapan kami dari dunia usaha adalah duduk kembali untuk membahas implementasi Paket Kebijakan Ekonomi, khususnya untuk kebijakan yang belum terealisasi,” pungkas Hariyadi. 

 

bud/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment