Koran Jakarta | August 20 2018
No Comments
Kasus Pelabuhan Sabang - Penyidik Menyita Tiga Stasiun Pengisian Bahan Bakar

KPK Sita Aset Senilai Rp64 Miliar

KPK Sita Aset Senilai Rp64 Miliar

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Untuk memaksimalkan pengembalian aset, penyidik KPK memblokir rekening PT Nindya Karya dan menyita aset PT Tuah Sejati senilai 64 miliar rupiah.

JAKARTA - Dalam upaya membongkar kasus dugaan korupsi pembangunan pelabu­han di Sabang, Komisi Pem­berantasan Korupsi (KPK) me­nyita uang dan aset senilai 64 miliar rupiah. Dalam kasus ini diduga melibatkan dua korpo­rasi yaitu PT Nindya Karya dan PT Tuah Sejati.

“Sebagai bagian dari upaya memaksimalkan asset recovery, penyidik telah memblokir rek­ening PT NK (Nindya Karya) dengan nilai sekitar 44 miliar rupiah. Penyidik kemudian memindahkannya ke rekening penampungan KPK untuk ke­pentingan penanganan perka­ra,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, yang dikonfirmasi, Minggu (15/4).

Selain menyita uang, tambah Febri, KPK juga menyita tiga stasiun pengisian bahan bakar di Aceh milik PT Tuah Sejati yang nilai tiga aset itu diprediksi sekitar 20 miliar rupiah. Ketiga aset itu, yaitu satu unit SPBU, satu unit stasiun pengisian ba­han bakar nelayan (SPBN) di Banda Aceh, dan satu unit stasi­un pengisian bahan bakar elpiji (SPBE) di Meulaboh.

Terus Telusuri

Menurut Febri, dalam men­gungkap kasus ini, penyidik KPK terus menelusuri aset mi­lik Tuah Sejati. Selain itu, KPK telah memeriksa 128 orang saksi dalam proses penyidikan kasus ini.

Seperti diketahui, KPK me­netapkan dua perusahaan sebagai tersangka korporasi dalam kasus dugaan korupsi pembangunan dermaga bong­kar pada kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas Sabang, Aceh, tahun anggaran 2006–2011. Kedua perusahaan tersebut yakni PT Nindya Karya dan PT Tuah Sejati.

Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif, mengatakan penetapan tersangka terhadap dua kor­porasi itu merupakan pengem­bangan dari penetapan empat tersangka korupsi sebelumnya. Mereka adalah Kepala PT Nin­dya Karya Cabang Sumatera dan Aceh, Heru Sulaksono, dan pejabat pembuat komit­men Satuan Kerja Pengem­bangan Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas Sabang, Ramadhani Ismi.

Sebelumnya, KPK juga me­netapkan tersangka Kepala Ba­dan Pengusahaan Kawasan Sa­bang sekaligus kuasa pengguna anggaran, Ruslan Abdul Gani dan Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang, Teuku Syaiful Ahmad untuk kasus pemba­ngunan dermaga di Sabang.

“Setelah KPK melakukan proses pengumpulan informa­si dan data, termasuk permint­aan keterangan pada sejumlah pihak dan terpenuhi bukti per­mulaan yang cukup, KPK me­nyidik dugaan tindak pidana korupsi dengan tersangka PT NK dan PT TS,” katanya.

Syarif menyebut PT Nin­dya Karya dan PT Tuah Sejati melalui Heru Sulaksono se­laku Kepala Cabang PT Nin­dya Karya Cabang Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam merangkap kuasa Nindya Sejati Joint Operation diduga melawan hukum un­tuk memperkaya diri sendiri, orang lain atau korporasi da­lam pengerjaan proyek senilai 793 miliar rupiah dari APBN tahun 2006–2011.

“Nilai proyek pembangunan Dermaga Sabang dari tahun 2006 sampai 2011 terus me­ningkat. Pada 2006 anggaran turun sebesar delapan miliar rupiah, 2007 sebesar 24 miliar rupiah, 2008 sebesar 124 miliar rupiah, 2009 sebesar 164 miliar rupiah, 2010 sebesar 180 miliar rupiah, dan pada 2011 sebesar 285 miliar rupiah. Tahun 2004 (sudah dianggarkan) senilai tujuh miliar rupiah, tidak dik­erjakan pada kurun 2004-2005 karena bencana tsunami Aceh. Namun, uang muka telah di­terima sebesar 1,4 miliar ru­piah,” kata Syarif.

Syarif melanjutkan dugaan penyimpangan yang terjadi dalam proyek Dermaga Sabang yang melibatkan PT Nindya Karya dan PT Tuah Sejati, di antaranya terjadi penunjukan langsung, Nindya Sejati Join Operation sejak awal telah di­arahkan sebagai pemenang pelaksana pembangunan.

Selain itu, ada rekayasa da­lam penyusunan HPS dan peng­gelembungan harga, perkejaan utama diserahkan kepada PT Budi Perkasa Alam dan terjadi kesalahan dalam prosedur di mana izin-izin terkait seperti Amdal dan lainnya belum ada, namun pembangunan sudah dilaksanakan. n mza/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment