Koran Jakarta | June 18 2019
No Comments
Proyek Fiktif Waskita Karya

KPK Geledah Rumah Dirut Jasa Marga

KPK Geledah Rumah Dirut Jasa Marga

Foto : ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah rumah Direktur Utama Jasa Marga, Desi Arryani, di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada 11–12 Feb­ruari 2019. Penggeledahan di­lakukan terkait proses penyi­dikan kasus proyek fiktif di PT Waskita Karya.

“Dalam dua hari ini, KPK melakukan rangkaian peng­geledahan,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, Selasa (12/2).

Desi merupakan mantan ke­pala divisi dan mantan Direksi PT Waskita Karya. Dia mulai menjabat sebagai Direktur Utama Jasa Marga sejak 2016. Selain menggeledah rumah Desi, KPK juga menggeledah rumah dua pegawai negeri sipil Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di ka­wasan Jakarta Timur.

Penggeledahan dilakukan sebagai bagian dari proses pe­nyidikan terhadap tersangka Kepala Divisi II PT Waskita Karya, Fathor Rachman. Dari penggeledahan tersebut, KPK menyita sejumlah dokumen.

Dalam perkara ini, KPK menetapkan dua orang ter­sangka, yakni, Fathor, dan dan Kepala Bagian Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya, Yuly Ariandi Siregar.

KPK menyangka mereka telah merugikan keuangan negara terkait pelaksanaan pekerjaan subkontraktor fik­tif pada proyek-proyek yang dikerjakan perusahaan plat merah tersebut. KPK menduga Fathor dan Yuly telah menun­juk beberapa perusahaan sub­kontraktor untuk mengerjakan sejumlah proyek infrastruktur yang sebenarnya telah diker­jakan oleh perusahaan lain.

Keduanya disangka mem­buat seolah-olah pekerjaan tersebut dikerjakan oleh perusahaan subkontraktor.

“Sejauh ini telah teridenti­fikasi ada empat subkontrak­tor,” kata Ketua KPK, Agus Rahardjo, saat konferensi pers penetapan tersangka.

Menurut Agus, empat perusahaan subkontraktor itu tidak melakukan pengerjaan proyek sebagaimana tercan­tum dalam kontrak. Meski be­gitu, Agus mengatakan pihak PT Waskita tetap melakukan pembayaran ke perusahaan subkontraktor tersebut. Pihak subkontraktor itu pun kembali menyerahkan uang hasil pem­bayaran kepada sejumlah pi­hak, termasuk Fathor dan Yuly.

“Diduga digunakan untuk kepentingan pribadi FR dan YAS,” kata Agus.

KPK telah mengidentifikasi ada 14 proyek yang diduga dikorupsi. Keempat belas proyek itu tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia, di anta­ranya proyek jalan layang non-tol Antasari–Blok M, proyek Banjir Kanal Timur paket 22, proyek normalisasi kali Beka­si Hilir, Bandara Kualanamu Medan, dan normalisasi kali Pesanggrahan. Hasil tinda­kan korupsi ini diperkirakan mengakibatkan kerugian negara hingga 186 miliar rupiah.

“Perhitungan itu berdasar­kan jumlah pembayaran PT Waskita kepada subkontrak­tor,” ujar Agus. ola/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment