Koran Jakarta | June 22 2018
No Comments
Perlindungan Anak

KPAI Pantau Kasus Pelecehan Seksual pada Anak

KPAI Pantau Kasus Pelecehan Seksual pada Anak

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) akan terus memantau perkembangan kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang oknum guru honorer kepada murid laki-lakinya di SDN 10, Kelurahan Tugu, Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Saat ini, kasus tersebut sedang ditangani pihak kepolisian.

“Modus kasus ini, murid laki-laki diminta mengikuti perintah oknum guru untuk membuka celananya di kelas. Jika tidak mengikuti, murid diancam dengan diberikan nilai yang jelek. Modus yang sama juga dilakukan dengan mengajak anak-anak berenang dan jalan-jalan,” kata Ketua KPAI, Susanto, di Jakarta, Selasa (12/6).

Susanto mengatakan, KPAI telah menurunkan tim untuk melakukan pengawasan langsung ke kepolisian. Pengawasan dilakukan untuk melakukan pendalaman kasus sekaligus meminta progres penanganan kasusnya oleh Polresta Depok. Tim terdiri dari Susanto (Ketua KPAI) dan Retno Listyarti (Komisioner bidang Pendidikan).

“KPAI juga akan bertemu pelaku untuk mendalami profile guru honorer itu, sebelum dan selama menjadi pendidik,” ujar Susanto. KPAI juga akan mendalami modus yang dilakukan, selain untuk kepentingan pendalaman kasus juga untuk mengetahui tren modus terkini yang dilakukan terduga pelaku. Hal ini penting diketahui publik agar meningkatkan kewaspadaan sekolah. Sekolah sejatinya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi peserta didik.

“Info yang diperoleh KPAI menunjukkan dugaan kuat bahwa pelaku melakukan perbuatan tidak senonohnya saat kegiatan belajar-mengajar berlangsung di dalam kelas, antara lain mengajak anak-anak nonton bareng film porno dari handphone-nya, dan mengajari anak-anak senam tangan (masturbasi),” tambah Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti.

Retno menambahkan, bahkan setiap jam pelajaran bahasa Inggris, terduga pelaku, infonya, memisahkan anak-anak perempuan dan anak laki-laki di dua kelas yang berbeda. “KPAI setelah liburan Idul Fitri akan mendalami lebih jauh mengapa pihak sekolah tidak curiga dengan pemisahan kelas ini,” kata Retno. Ia mengatakan sekolah tempat kejadian kasus ini sebenarnya sudah masuk dalam Sekolah Ramah Anak (SRA). “Karena itu, kami minta masyarakaat dan media agar tidak gagal fokus dari kasus kekerasan seksual menjadi menghakimi SRA,” tandasnya. eko/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment