Koran Jakarta | May 28 2018
No Comments
suara daerah

Kota Batu Terus Kreatif Mengembangkan Wisata Desa

Kota Batu Terus Kreatif Mengembangkan Wisata Desa

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Batu, Jawa Timur, yang terletak di lereng Gunung Panderman, dikenal sebagai salah satu kota wisata di Indonesia dengan beragam potensi keindahan alam. Kekaguman bangsa Belanda terhadap keindahan alam Batu membuat daerah berhawa sejuk itu diberi julu­kan De Kleine Zwitserland atau Swiss Kecil di Pulau Jawa.

Sebagai bagian dari ke­satuan wilayah yang dikenal dengan Malang Raya, sebagian besar keadaan topografi Batu didominasi kawasan dataran tinggi dan perbukitan yang berlembah-lembah. Tanahnya yang subur membuat wilayah tersebut tak hanya menonjol dari sektor pariwisata, namun juga maju di bidang pertanian sayur dan buah-buahan.

Oleh karena itu, pereko­nomian kawasan agropolitan ini banyak ditunjang dari sektor pariwisata dan perta­nian. Pembangunan berbagai wahana wisata yang pesat, membuat sebagian besar pertumbuhan PDB Kota Batu ditunjang dari sektor tersebut. Sementara bidang pertanian, Batu merupakan salah satu daerah penghasil apel terbesar di Indonesia sehingga juga dijuluki sebagai Kota Apel.

Untuk mengetahui berbagai upaya yang telah dan akan di­lakukan untuk mengembang­kan kawasan agropolitan Batu melalui sektor pariwisata dan pertanian, wartawan Koran Jakarta, Selocahyo, berkesem­patan mewawancarai Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, di Batu, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Batu terus mengembang­kan sektor pariwisata, pro­gram apa yang Anda laku­kuan untuk tahun ini?

Kota Wisata Batu, begitu kami selalu menyebutnya se­bagai branding. Masyarakat sebagai bagian yang paling penting, didorong menjadi tuan rumah yang baik, seka­ligus bisa meman­faatkannya menjadi sumber penghasilan. Ber­beda dengan pihak swasta yang membuka berbagai wahana baru, yang sifatnya lebih modern, tahun ini kami konsentrasi pada pe­ngembangan wisata.

Program kami, ba­gaimana caranya agar desa-desa di Batu punya ciri khas yang dikem­bangkan sesuai potensi masing-masing. Sekarang sudah mulai ada be­berapa tempat di desa yang dikelola oleh masyarakat setempat dan Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa. Namun, itu belum merata di semua desa ada.

Sudah ada berapa desa yang mulai mengembang­kan?

Batu hanya terdiri dari tiga kecamatan, semua sudah mulai ada. Namun memang desanya baru sekitar lima dari 24 desa yang ada di Batu. Kami ingin nantinya di setiap desa ada.

Seperti apa konsep wisata desa yang sudah berjalan?

Kebanyakan berkonsep alam dengan berbagai spot foto yang unik. Ada juga yang bertema dirgantara seperti paralayang serta wisata per­tanian seperti petik apel dan komoditas buah lain.

Bagaimana dukungan Pemkot Batu?

Selain dana desa dari pusat, ada ban­tuan dana desa dari Pemkot Batu. Dana desa itu yang diharapkan bisa untuk mengembangkan desa agar punya tujuan wisata unggulan sesuai potensi masing-masing.

Dananya digunakan untuk apa saja?

Infrastruktur sudah pasti, tapi itu sudah lebih banyak dari pusat. Yang dari Pem­kot lebih diharapkan untuk mengembangkan objek wisa­tanya. Dana desa Pemkot Batu digunakan untuk mem-back up dana dari pusat. Seperti promosi, pengembangan dan pelatihan SDM, serta pe­nguatan objeknya.

Target kunjungan wisatawan?

Kalau tahun 2015 sudah mencapai 4,4 juta wisatawan, tahun 2018 kami harapkan mampu menembus 5 juta orang. Untuk mencapainya, yang sedang menjadi concern kami adalah infrastruktur untuk mencapai Batu belum mencukupi. Dengan angka kunjungan 4 juta, macetnya sudah seperti itu.

Apa yang diharapkan?

Jalan tembus alternatif. Proyek jalan tembus Pasuru­an-Batu, sepertinya tidak jadi. Nanti akan ada tol dari Pandaan sampai Karangploso (Kabupaten Malang). Nah, dari Karangploso ke Batu yang harus kami pikirkan. Saya akan komunikasi dengan Kabupaten Malang, untuk membangun akses jalan ke Batu.

Batu ini kecil, makanya kami butuh dukungan daerah lain dan provinsi. Tanpa mer­eka, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kabupaten Malang besar sekali. Untuk sepenuh­nya menganggarkan jalan tembus itu, kami perlu minta bantuan provinsi.

Sinergi lain dengan dae­rah tetangga?

Kota Wisata Batu memang identik dengan Malang karena dulu menjadi bagian darinya. Konsep besarnya, bagaimana memajukan pariwisata ini bersama-sama dengan kolabo­rasi. Kota Batu dengan wisata gunungnya, Kabupaten Ma­lang dengan wisata baharinya, seperti Pantai Balekambang, Pulau Sempu, dan Gondang Merak serta Kota Malang seba­gai pusat shopping.

Bagaimana dengan perta­nian?

Kami terus mengembang­kan pertanian organik dan nonorganik, termasuk untuk perdagangannya. Belum lama ini Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) membantu kami mengem­bangkan perbanyakan bibit dengan tehnik ex vitro bagi petani kentang di Desa Sum­ber Brantas. Kami minta BPPT membuat teknologi serupa untuk apel. n N-3

Tags
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment