Koran Jakarta | August 19 2018
No Comments
Keamanan Nasional - Masyarakat Diminta Tidak Khawatir Berlebihan

Koopssusgab untuk Berantas Teror

Koopssusgab untuk Berantas Teror

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Untuk mengatasi teror di Tanah Air, Presiden Joko Widodo sudah mengizinkan pembentukan Komando Operasi Khusus Gabungan.

JAKARTA - Kepala Kantor Staf Kepresidenan, Moeldoko, me­nyatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mengizinkan pembentukan Komando Opera­si Khusus Gabungan (Koopssus­gab) untuk memberantas teror. Pasukan di Koopssusgab setiap saat bisa dikerahkan ke penjuru mana pun secepat-cepatnya un­tuk mengatasi teror.

“Untuk Komando Operasi Khusus Gabungan TNI sudah direstui oleh Presiden dan dir­esmikan kembali oleh Panglima TNI. Tugasnya seperti apa, akan dikomunikasikan antara Kapolri (Jenderal Pol Tito Karnavian) dan Panglima TNI (Marsekal TNI Hadi Tjahjanto),” kata Moeldoko, di lingkungan Istana Kepresi­denan Jakarta, Rabu (16/5).

Koopssusgab merupakan tim antiteror gabungan tiga ma­tra TNI. Pasukan ini berasal dari Sat-81 Gultor Komando Pasu­kan Khusus milik TNI Angkatan Darat, Detasemen Jalamang­kara TNI Angkatan Laut, dan Satbravo 90 Komando Pasukan Khas dari TNI Angkatan Udara.

Menurut Moeldoko, Koop­ssusgab berada di bawah ko­mando Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. “Tidak perlu menunggu revisi UU Antiter­orisme. Pasukan itu sudah di­siapkan, tidak perlu payung hukum,” tambah Moeldoko.

Operasi ini harus dijalankan untuk preventif agar masyarakat merasa tenang. Saat ini terjadi hukum alam, hukum aksi dan reaksi. “Begitu teroris melaku­kan aksi, kita beraksi, kita melakukan aksi, mereka be­reaksi,” tambah Moeldoko.

Diimbau masyarakat agar tidak merasa khawatir berlebi­han. “Serahkan sepenuhnya ke­pada aparat keamanan, kepoli­sian, dan TNI bekerja penuh. BIN dengan sepenuh jajaran­nya bekerja. Percayakan penuh kepada instrumen keamanan, tidak usah khawatir kalau ada peristiwa kemarin atau hari ini. Jangan direspons berlebihan,” ungkap Moeldoko.

Koopssusgab pertama diresmikan pada 9 Juni 2015 oleh Moeldoko saat menjabat Pangli­ma TNI. Wacana pembentukan Koopssusgab sudah muncul se­jak 2002, tapi tidak terwujud ka­rena pergantian panglima TNI. Pusat pelatihan Koopssusgab berada di Indonesia Peace and Security Center Sentul.

“Awal pembentukan, saya yang membentuk. Beberapa saat dibekukan. Saat ini dihidupkan kembali, kalau perlu seterusnya karena lingkungan strategis yang seperti tadi memerlukan seperti itu,” tambah Moeldoko.

Dipimpin Bergantian

Kepemimpinan di Koopssus­gab digilir secara bergantian selama enam bulan. Misalnya, enam bulan pertama Koop­ssusgab dipimpin oleh Dan­jen Kopassus (TNI AD), enam bulan kedua Dankormar (TNI AL), enam bulan kemudian di­pimpin Dankorpaskhas (TNI AU), dan seterusnya. Dengan Koopssusgab, TNI memiliki pa­sukan yang bisa diturunkan se­cara cepat ketika terjadi situasi genting menyangkut terorisme.

“Bisa untuk operasi perang dan operasi selain perang, ter­gantung kebutuhan. Ke mana pun diperlukan, siap dikerah­kan dan kita berharap lebih memberikan kekuatan yang op­timal, apakah intelijen atau un­sur represif,” ungkap Moeldoko.

Bila revisi UU No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dis­ahkan maka polisi dapat lang­sung melakukan deteksi dan selanjutnya menangkap saja langsung. “Seluruh kekuatan yang ada di kepolisian, apa­kah itu Densus 88 atau ada unsur lain intinya kita siap menghadapi situasi apa pun. Masyarakat tidak perlu resah. Sekali lagi percayakan pada kami,” tambah Moeldoko.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto mengimbau masyarakat te­tap tenang dan meningkat­kan kewaspadaan dengan beraktivitas seperti biasa ter­kait rentetan peristiwa bom bunuh diri di Surabaya. Polri akan tetap melakukan ke­wajiban melindungi dan me­layani masyarakat dalam pene­gakkan hukum terhadap kasus peledakan bom.

fdl/eko/SB/Ant/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment