Koran Jakarta | June 22 2018
No Comments
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, tentang Sampah Plastik di Laut Kawasan Nusa Penida, Bali

Konsep Gerakan Nasional Kelola Sampah Segera Dirampungkan

Konsep Gerakan Nasional Kelola Sampah Segera Dirampungkan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Wisatawan asal Inggris bernama Rich Horner pekan lalu sempat menggemparkan pariwisata Bali. Pasalnya, rekaman video Horner tentang kondisi bawah laut di Manta Point, salah satu spot diving populer di kawasan Nusa Penida yang dipenuhi dengan sampah plastik dan bungkus makanan menjadi viral.

Melalui akun Instagram BBC News, Horner mengunggah rekaman video itu pada 3 Maret 2018 lalu itu. Horner juga menuliskan bagaimana arus laut membawa sampah-sampah tadi dan mengganggu keberlangsungan hidup hewan-hewan penghuni laut.

Untuk mengupas masalah ini, Koran Jakarta mewawancarai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar, beberapa hari lalu. Berikut petikannya.

Bagaimana tanggapan Anda soal sampah plastik di laut Bali seperti direkam wisatawan Inggris, Rich Horner?

Bali ini tidak seperti Citarum karena dia pulau sehingga sampah bisa dari mana-mana masuk karena arus laut, termasuk masuk dari Asia Timur.

Lalu, upaya pembersihan sampah plastik di laut dan pantai Bali?

Kita juga sudah buat inisiasi kecil di sana bersama Aqua dan Tetra Pack. Ada beberapa drop box untuk menampung kemasan botol plastik dan kemasan seperti susu Ultra. Sampah di pantai Kuta dibersihkan tiap hari, tapi memang yang datang juga banyak. Itu juga sudah dibantu Coca Cola dengan menyumbang tempat sampah dan truk-truk.

Bagaimana dengan gerakan mengurangi kantong plastik?

Beberapa LSM juga sudah membuat gerakan kurangi kantong plastik, di antaranya sedang minta ke gubernur untuk tidak menyediakan kantong plastik. Cuma memang kegiatan yang ada masih spot-spot, belum menyeluruh.

Jadi, sampah plastik yang ada di dalam laut bagaimana?

Kalau sampah yang mengapung bisa menggunakan pembatas seperti di sungai-sungai (DKI Jakarta sudah melakukannya), kalau di laut bisa juga, tapi mungkin diprioritaskan di pantai-pantai yang banyak turis. Tapi untuk sampah yang di dalam air ini yang susah. Yang Ocean Foundation lakukan percobaan memasang jaring dan menghisap sampah-sampah tersebut.

Lalu pencegahannya?

Intinya, sudah ada upaya yang dilakukan, cuma belum massal. Pencegahan menjadi penting dengan mengajak masyarakat tidak membuang sampah plastik/styrofoam sembarangan.

Bisa jelaskan bagaimana pengurangan sampah plastik?

Uji coba pengurangan sampah plastik sudah dilakukan dengan pola plastik berbayar dan terjadi penurunan penggunaan kantong plastik sampai dengan 55 persen di supermarket, seperti Food Hall dan Matahari.

Tapi yang muncul juga misleading karena dinilai pemerintah membebani rakyat kecil serta akuntabilitas pemanfaatan dana 200 rupiah per lembar plastik jadi pembahasan yang kontra produktif bagi pemerintah.

Lalu kelanjutannya?

Yang lebih penting lagi karena misleading dari polluters pay principles. Sehingga rencana pembuatan aturan harus lebih didorong ke konsep gerakan nasional kelola sampah. Sudah sekitar setahun dibahas dan akan segera dirampungkan. 

 

suradi/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment