Koran Jakarta | September 20 2018
No Comments

Komunitas Iman Melawan “Human Trafficking”

Komunitas Iman Melawan “Human Trafficking”
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Menolak Diam: Gereja Melawan Perdagangan Orang

Penulis : Meri Kolimon, dkk

Penerbit : BPK Gunung Mulia

Cetakan : I, 2018

Tebal : xvii + 366 halaman

ISBN : 978-602-231-470-7

 

 

Data Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Januari hingga Mei 2018 sudah ada 35 pekerja migran Indonesia asal Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal di luar negeri. Sebagian besar bermasalah karena berangkat, tanpa dokumen resmi dan terindikasi korban human trafficking (HT/perdagangan manusia).

Buku ini merupakan kumpulan 17 tulisan yang membahas human trafficking dari perspektif Gereja, ditulis para teolog dan aktivis sosial. Konteksnya kasus-kasus di NTT, yang banyak perdagangan manusia. Gereja memiliki keterlibatan langsung atau banyak warga menjadi buruh migran.

HT adalah kejahatan kemanusiaan, di antaranya menyusup dalam rekrutmen buruh migran dan muncul dalam berbagai wajah seperti prostitusi, kerja paksa dengan eksploitasi di berbagai bidang, atau perdagangan organ tubuh. Hal ini menjadi puncak masalah sosial NTT dengan kemiskinan sebagai akarnya.

Dua bagian awal buku dengan dukungan berbagai data faktual menyajikan gambaran lengkap mengenai masalah perdagangan manusia Indonesia dan NTT khususnya. Ini termasuk implementasi peraturan pemerintah terhadap buruh migran. Kemudian, dilanjutkan analisis-analisis masalah, termasuk hubungannya dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat serta berbagai peran sejumlah komunitas, termasuk Gereja untuk menghadapinya.

Gereja perlu berbenah dalam menghadapi kejahatan yang sebagian besar korbannya perempuan dan anak-anak ini agar teologi tak mengasingkan Gereja dari masalah-masalah sosial.

Dalam tulisan Ibadah Kristen Melawan Perdagangan Orang (hlm 297–318) disebutkan, peribadahan Kristen sebenarnya efektif dan signifikan dalam melawan perdagangan manusia. Tantangannya, mengembalikan perspektif mengenai ibadah sejati. “Ibadah tak hanya menyangkut ritual keagamaan dengan waktu tertentu, tetapi juga di mana saja dan kapan saja dalam segala aspek kehidupan” (hlm 301).

Ibadah Kristen merupakan perlawanan rangkap dan komunal. Karena datang sekaligus dari ritual dan karya dalam berbagai bentuk sesuai dengan kemampuan, keterampilan, dan posisi banyak orang yang bersama-sama membentuk jaringan luas. Ini termasuk pembukaan ruang partisipasi pemeluk agama lain untuk turut serta melawan mafia HT.

Gereja sebagai komunitas juga lebih sering mendemonisasi pelaku daripada memahami latar belakang perbuatannya. Sejatinya, Gereja tak hanya mendampingi korban, tetapi juga menolong pelaku. Pada tulisan Pastoral, Penyintas, dan Gereja: Peran Pastoral Gereja dalam Isu Perdagangan Orang dikemukakan mengenai pendekatan konseling pastoral bagi pelaku berbasis narasi atau konseling pastoral naratif (hlm 177–200).

Asumsinya, manusia dibentuk oleh narasi-narasi yang diyakininya. Narasi hidup korban yang mengalami penderitaan dimanfaatkan untuk mendorong upaya dekonstruksi narasi hidup pelaku, menjadi cermin untuk mengenali kejahatannya, kemudian disesali dan diubah dengan hidup lebih baik. Sama seperti penderitaan Kristus yang menjadi cermin para pendosa untuk mengenali dosa mereka dan bertobat (hlm 186).

Buku ini tak hanya mengkritisi pihak-pihak yang tutup mata atau cuci tangan, tapi juga berbagi pengalaman penanganan dan pendampingan beberapa kasus. Namun, Gereja tak dapat berjalan sendirian menghadapi jaringan mafia HT terstruktur, sistematis, dan masif. Tetap dibutuhkan peran serta pemerintah dan masyarakat untuk selalu aktif menolak eksploitasi manusia.

 


Diresensi oleh Anindita Arsanti, alumna UPN Veteran Yogyakarta

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment